Buku Pelajaran Sebut NU Radikal, Guru: Bahasanya Terlalu Tinggi
JATIMPLUS.ID | 10/02/2019 09:00
Buku Pelajaran Sebut NU Radikal, Guru: Bahasanya Terlalu Tinggi

BLITAR- Buku pelajaran IPS yang memuat frasa Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi radikal juga diajarkan di sekolah Madrasah Ibtidaiyah Darul Huda Desa Krenceng, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar.  

Guru tidak spesifik mempersoalkan polemik diksi radikal. Mereka hanya mengatakan, secara umum materi pelajaran dalam buku, terlalu berat untuk ukuran anak MI/SD kelas 5. “Bahasanya terlalu tinggi, “tutur Arina Hidayati guru kelas 5 MI Darul Huda Sabtu (9/2/2019)

Beratnya materi membuat siswa sulit menangkap apa yang disampaikan guru. Banyak istilah dan frasa yang sulit dipahami siswa. Guru sendiri, kata Arina juga kesulitan mencari keterangan lain untuk menjelaskan.

BACA JUGA: Ngopi Pagi di Rumah Belanda

“Kendalanya bahasa yang digunakan terlalu tinggi, “katanya. Terkait polemik diksi NU organisasi radikal, di tingkatan siswa belum memahami substansi permasalahan.

Setingkat siswa MI/SD belum benar benar mengerti istilah NU dan radikal. Mereka hanya mengenal NU hanya sebatas terminologi, yakni hanya istilah yang biasa dilihat melalui pembicaraan atau aktivitas (tradisi) orang tua dan lingkungan sekitar.   

Namun kendati demikian, selama menjadi guru, Arina mengaku belum pernah membaca atau mendengar istilah NU sebagai aliran radikal. Baru kali ini istilah itu muncul dari materi pelajaran buku IPS yang dia gunakan mengajar. Karenanya hal itu terasa ganjil.

“Saya sebelumnya belum pernah mendengar NU sebagai aliran radikal, “terangnya.  

Protes terhadap buku IPS memuat frasa NU organisasi radikal muncul pertama kali di wilayah Kabupaten Jombang. Buku IPS  itu diterbitan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI tahun 2017.  

Berjudul Peristiwa Dalam Kehidupan, buku itu memiliki tebal 226 halaman, ditambah keterangan Tema 7 buku Tematik Terpadu kurikulum 2013. Dalam materi Masa Awal Radikal (1920-1927), yakni masa perlawanan terhadap penjajahan Belanda, dituliskan tiga organisasi radikal kala itu.

Tiga organisasi radikal itu adalah PKI, NU dan PNI. Pengelompokkan NU bersama PKI sebagai organisasi radikal itulah yang diprotes kalangan wali murid di Jombang.

“Wali murid mempertanyakan adanya kata radikal dan menyamakan NU sebagai organisasi radikal dengan PKI, “kata Muhammad Asy’ari guru kelas 5 MI Sulamuddiniyah Desa Gondek, Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang.

Di MI Sulamuddiniyah, buku diterima pada awal tahun ajaran baru, dan baru dibagikan 45 eksemplar ke siswa kelas 5. Sebagai guru, Asy’ari mengaku baru kali ini menemukan materi kontroversi di sekolahnya. Dia menduga, materi NU organisasi radikal bukan karena faktor salah cetak.

“Saya rasa ada pihak yang sengaja menyusupkan materi radikal itu, “katanya.

Polemik frasa NU organisasi radikal di buku pelajaran MI/SD disambut PBNU dan langsung melayangkan klarifikasi ke kementrian. Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini dalam keterangan tertulisnya mengatakan, istilah NU organisasi radikal bisa menimbulkan kesalahpahaman peserta didik di sekolah terhadap Nahdlatul Ulama.  

“Meskipun frasa organisasi radikal yang dimaksud adalah organisasi radikal yang bersikap keras menentang penjajahan Belanda. Dalam konteks ini Pengurus Besar Nahdlatul Ulama sangat menyayangkan diksi organisasi radikal yang digunakan Kemendikbud dalam buku tersebut, “kata Helmy Faishal Zaini Rabu 6 Februari 2019.

BACA JUGA: Kisah Keluarga “Naga” Kediri di Perayaan Hari Toleransi

Menanggapi protes itu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy berjanji akan menarik dan merevisi buku yang menjadi polemik tersebut. Muhadjir juga menjelaskan buku IPS itu ditulis pada tahun 2013 dan atas berbagai masukan ditulis ulang pada tahun 2016.

Agar tidak terjadi kesalahan sistematika dan substansinya juga benar, dalam proses revisi nanti juga akan dilakukan mitigas. (*)

JATIMPLUS.ID


BERITA TERKAIT