Cerita Mujiati Tentang Konflik dan Cikal-bakal Gudang Garam
JATIMPLUS.ID | 03/01/2019 16:30
Cerita Mujiati Tentang Konflik dan Cikal-bakal Gudang Garam
Mujiati, 81 tahun, pekerja angkatan pertama PT Gudang Garam Tbk. Foto Jatimplus

Mujiati tengah melinting rokok saat rekan kerjanya membawa kabar mengejutkan. Sambil berbisik, perempuan yang bekerja sebagai buruh rokok Tjap 93 itu mengabarkan pengunduran diri salah satu bos di perusahaan itu. “Hah, Yo Ing keluar?” tanya Mujiati yang biasa memanggil nama Tjoa Ing Hwie dengan Yo Ing.

Dia mengenal Tjoa Ing Hwie atau Surya Wonowidjojo sebagai sosok yang baik dan ramah kepada seluruh pekerja pabrik rokok Tjap 93. Pabrik rokok itu berada di Jalan Brawijaya Nomor 43, Kelurahan Kemasan, Kota Kediri. Kini bangunan pabrik telah berubah menjadi gedung Taman Kanak-kanak Santo Yoseph II milik Yayasan Yohanes Gabriel.

Perempuan berusia 81 tahun ini telah bekerja sebagai buruh linting di pabrik rokok Tjap 93 sejak tahun 1951. Di pabrik inilah dia mengenal Tjoa Ing Hwie atau Ing Wie sebagai salah satu bos sekaligus saudara pemilik pabrik. Meski bukan seorang pribumi yang lahir di Indonesia, Ing Hwie sangat dekat dengan para pekerja. Karena itu kabar pengunduran dirinya dari pabrik mengejutkan Mujiati dan teman-temannya.

BACA JUGA: Gebrakan Awal Ning Ita, Mojokerto Bebas Banjir

Menurut desas-desus yang diterima Mujiati, pengunduran itu berlatar belakang konflik antara Ing Hwie dengan pamannya sebagai pemilik pabrik. Konon Ing Hwie dituduh melakukan korupsi lantaran mampu membangun rumah bagus di depan Rumah Sakit Bhayangkara Kediri. Sebelumnya dia tinggal di dekat pabrik di Jalan Sriwijaya.

Tuduhan itu memang tak pernah terbukti. Mujiati meyakini jika kekayaan yang diperoleh Ing Hwie benar-benar dari hasil keringatnya bekerja. “Dia orang yang cerdas, ulet, dan pekerja keras. Tidak mungkin melakukan korupsi,” kata Mujiati.

Namun demikian, Ing Hwie pada akhirnya tetap mengambil jalan keluar dari pabrik yang telah memberinya pengalaman di industri rokok. Sementara Mujiati tetap melanjutkan pekerjaannya sebagai buruh linting di perusahaan rokok Tjap 93.

Bekas pabrik rokok NV 93 di Jalan Sriwijaya Kemasan Kediri yang kini menjadi gedung sekolah.
Bekas pabrik rokok NV 93 di Jalan Sriwijaya Kemasan Kediri yang kini menjadi gedung sekolah. Foto: Jatimplus

Lama tak terdengar kabar, tiba-tiba tersiar berita jika Tjoa Ing Hwie membuka pabrik rokok sendiri di Kelurahan Semampir Kediri di tahun 1958. Kabar itu diterima Mujiati dari rekan kerjanya yang telah mengundurkan diri dari pabrik rokok Tjap 93. “Saya tiba-tiba tertarik ikut kerja dengan Ing Hwie,” kata Mujiati.

Dengan berjalan kaki, Mujiati menyusuri jalan dari rumahnya di Kelurahan Sukorame, Kecamatan Mojoroto untuk melacak keberadaan mantan bosnya di Kelurahan Semampir.

Upaya mencari keberadaan pabrik baru Ing Hwie cukup susah. Beberapa orang yang ditanya soal pabrik rokok baru di daerah itu mengaku tidak tahu. Petunjuk datang dari seorang penjual beras yang menyuruh menelisik ke dalam gang kecil di utara Rumah Sakit DKT. Orang tersebut pernah melihat beberapa orang tengah membersihkan rumah yang kemungkinan adalah pabrik baru Ing Hwie.

Saran itu dituruti. Mujiati menyusuri gang kecil yang hanya selebar dua lengan tangan. Gang menuju timur itu mengantarkan pada sebuah rumah yang yang tak terlalu besar. Mujiati langsung mengenali rumah itu sebagai pabrik barunya Ing Hwie. “Saya lihat Mas Ji sedang mengecat pagar rumah,” terangnya.

Dia adalah bekas karyawan pabrik rokok Tjap 93 yang telah lebih dulu hijrah bersama Ing Hwie untuk mendirikan pabrik baru di Semampir. Setelah berbagi kabar sejenak, Mujiati mengungkapkan keinginannya untuk ikut bekerja di tempat itu.

Dari halaman rumah, Mujiati melihat kondisi pabrik baru Ing Hwie yang sangat sederhana. Tak ada aktivitas penjemuran tembakau seperti layaknya pabrik rokok Tjap 93. Bahkan halaman rumah itu terlalu sempit untuk menampung benda yang ada di dalamnya, dengan luas lahan hanya 1.000 meter persegi.

Dari dalam rumah berukuran kecil yang disebut sebagai kantor, sosok Ing Hwie tiba-tiba keluar. Dengan akrab dia menyapa Mujiati yang telah lama dikenalnya. Tanpa basa-basi Mujiati langsung menyampaikan keinginan untuk ikut bekerja. “Aku durung gawe rokok putih. Ora golek wong enom, golek sing tuwek-tuwek (Saya belum membuat rokok filter. Tidak mencari pekerja muda, mencari yang tua),” kata Ing Hwie kepada Mujiati yang kala itu masih remaja.

Alih-alih menolak lamaran tersebut, Ing Hwie justru meminta Mujiati untuk mendaftar kepada mandor bernama Joyo. Kelak jika pabrik itu telah memproduksi rokok filter, Mujiati akan dipanggil bekerja. “Saya dapat nomor urut satu di daftar calon pekerja,” kata Mujiati.

Saat itu pabrik baru Ing Hwie memang tak banyak menunjukkan aktivitas. Bahkan untuk penjemuran tembakau dilakukan di Gurah yang memiliki lahan luas. Pabrik itu juga hanya melakukan kegiatan giling tembakau saja yang dikerjakan tiga pekerja dari Tulungagung.

Produk pertama kali yang diproduksi Ing Hwie adalah rokok klobot. Bahan baku tembakau didatangkan dari Madura, milik seorang penjual sate yang pernah diikuti Ing Hwie saat pertama kali tiba ke Indonesia.

Setelah mendaftar dan mendapat nomor urut satu, Mujiati pulang. Dia kembali mendapat panggilan kerja di tahun 1959 untuk bekerja di pabrik rokok Semampir. Mujiati terkejut karena nomor urut pendaftarannya tiba-tiba bergeser dari nomor satu ke nomor 10. Usut punya usut, nomornya bergeser karena tak memberi buah tangan kepada mandor Joyo. “Teman-teman lain membawa pisang setangkep dan beras, jadi nomornya dimajukan,” kata Mujiati tertawa.

Sejak itulah Mujiati terdaftar sebagai pekerja angkatan pertama di PT Gudang Garam. Saat itu formasi awal pekerja hanya 11 orang terdiri dari 2 tukang press, 5 tukang linting, dan 4 tukang giling. Di luar produksi, ada pekerja lain seperti sopir dan administrasi. Sopir pertama yang bekerja di tempat itu bernama Paeran, yang sama-sama bekas karyawan rokok Tjap 93. Paeran ini juga yang pada akhirnya menjadi suami Mujiati setelah setahun bekerja bersama.

BACA JUGA: Jombang Tidak Ramah Perempuan dan Anak

Menjadi sopir di perusahaan Ing Hwie kala itu tak seperti sopir pada umumnya. Meski piawai mengemudikan mobil, Paeran justru mengendarai sepeda motor untuk mengirim rokok ke toko dan agen luar kota. Sementara pengiriman di dalam Kota Kediri dilakukan dengan menumpang becak.

Ing Hwie terpaksa menyewa mobil pick up milik pabrik permen jika harus mengirim rokok ke tempat agak jauh seperti Madiun dan Ponorogo. Baru setahun kemudian dia mampu membeli sebuah truk besar warna merah sebagai kendaraan pertama milik pabrik. Kendaraan itulah yang dikemudikan Paeran setiap hari untuk mengirim rokok.

Dalam sehari Mujiati mampu mengemas beberapa press rokok berisi 20 pack. Dengan ongkos 12 sen untuk satu press rokok, Mujiati mampu membawa pulang bayaran senilai Rp 1,5. (*)

JATIMPLUS.ID


BERITA TERKAIT