Kekeringan di Ajibarang, Antar Tetangga Bisa Bertengkar Rebutan Air di Belik
SATELITPOST.COM | 04/07/2018 13:40
Kekeringan di Ajibarang, Antar Tetangga Bisa Bertengkar Rebutan Air di Belik
WARGA mencoba mengambil air di belik (penampungan air) di Grumbul Pucung Desa Karangbawang, Ajibarang yang sudah mulai mengering, Senin (2/7/2018).SATELITPOST/RARE

AJIBARANG, SATELITPOST-Warga Grumbul Pucung, Desa Karangbawang, Kecamatan Ajibarang mulai kesulitan mendapat air bersih‎. Sejak masuk musim kemarau tahun ini, mata air di wilayah tersebut mulai mengering. Bahkan, krisis air bersih di desa ini sampai memicu gesekan sosial.


Sutarno (45) Ketua RT 2 RW 06 mengatakan, kekeringan mulai dialami warganya sejak satu bulan terakhir. Belik atau tempat penampungan air yang biasanya mencukupi kebutuhan air bersih untuk warga 5 RT sudah semakin surut.


“Debit airnya sudah sangat berkurang, beberapa hari lagi dipastikan sudah mengering. Saat ini saja sudah menjadi rebutan warga,” katanya, Senin (2/7/2018).


Menurutnya, jika belik sudah mengering, warga terpaksa harus mencari air ke desa tetangga yang jaraknya kurang lebih 2 Km ataupun harus membeli air bersih dengan jeriken.


“Biasanya melalui tukang ojek kalau beli air di wilayah Pancasan. Satu jeriken kapasitas 30 liter seharga Rp 5 ribu. Belum ongkos ke ojeknya,” katanya.


Baca juga:Zonasi Masuk SMP Bikin Resah


Darsim (45) warga RT 6 RW 6 Grumbul Pucung, Desa Karangbawang mengatakan, sulitnya mendapat air bersih membuat keluarganya harus mengirit-irit air yang masih tersedia. Bahkan harus mengurangi jatah mandi demi mencukupi kebutuhan air untuk keperluan dapur seperti memasak dan untuk minum.


“Belum lagi kalau harus rebutan dengan warga lainnya pas ngambil air di belik. Debit air yang minim kerap membuat warga menjadi bertengkar gegara rebutan air,” katanya.


Ia berharap, pemerintah desa yang mengetahui problem kekeringan dan kekurangan air yang melanda setiap kemarau ini segera memberikan solusi nyata agar warga terus bisa menikmati air bersih. Apalagi, aliran air warga yang berpusat di kantor Balai Desa ternyata sudah tidak bisa mengalirkan air ke Dusun Pucung karena pompa air yang sudah rusak lama.


Dropping air memang membantu, tapi itu bukan solusi utama. Yang kami inginkan warga tetap bisa mendapat pasokan air seperti dulu lagi,” katanya. (rare@satelitpost.com)




BERITA TERKAIT