Ekonomi Digital Generasi Millenial
SATELITPOST.COM | 28/02/2018 13:24
Ekonomi Digital Generasi Millenial
Ilustrasi Grafis Boodie Sipon. Satelitpost

Oleh: Fitria Hernawati SST, Fungsional Statistisi di Badan Pusat Statistik Kabupaten Banyumas

Kemajuan teknologi informasi dan perkembangan internet bukan hanya menyebabkan perubahan dalam menjalin relasi sosial masyarakat, tetapi juga pola konsumsi dan aktivitas belanja yang berubah. Perkembangan informasi dan internet nyatanya didukung oleh perusahaan penghasil telepon dengan mengeluarkan produk telepon pintarnya (smart phone). Kemudahan dalam mengakses informasi hanya dengan telepon pintar membuat komunikasi semakin cepat. Pelaku maupun konsumen ekonomi digital saat ini didominasi oleh generasi millenial atau “generasi Y”. Lalu bagaimana dengan pelaku usaha yang tidak mengikuti perkembangan digital?

Perilaku Generasi Milenial

Millenial (juga dikenal sebagai Generasi Y) adalah kelompok demografi setelah Generasi X (Gen-X). Generasi milenial lahir di tahun 1982 sampai  tahun 1995, sementara itu generasi X lahir tahun 1965 hingga 1981. Karakteristik milenial berbeda-beda berdasarkan wilayah dan kondisi sosial ekonomi. Namun, generasi ini umumnya ditandai oleh peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi, media, dan teknologi digital. Jadi termasuk generasi manakah anda? Generasi X atau generasi Y?

Berdasarkan penelitianBank of America Merrill Lynchpola konsumsi generasi millenial sebagian besar dihabiskan untuk makan di restoran, hampir seperempat pendapatannyayaitu 23,8 persen. Kemudian konsumsi terbanyak selanjutnya untuk kebutuhan rumah tangga sebesar 21,7 persen. Yang tidak kalah besar ternyata hampir 20 persen atau sekitar 18,5 persen penghasilan dihabiskan untuk membeli elektronik gadget, travelling, dan pakaian. Kemudian disusul konsumsi BBM sebagai sarana travelling dan makan-makan para millenial membutuhkan sekitar 10,8 persen. Dan ternyata pengeluaran untuk properti hanya 4,5 persen.Hal ini menunjukkan bahwa tingginya harga properti sekarang ini membuat generasi millenialenggan menyisihkan uang untuk membeli properti. Mereka cenderung membelanjakan uang untuk makan di luar, jalan-jalan, membeli alat elektronik model terbaru, dan pakaian. Konsumsi generasi millenial yang saat ini mendominasi konsumsi masyarakat harus diikuti polanya oleh pengusaha untuk panduan dalam menjalankan bisnis agar tidak tersisih dari rantai perekonomian. Sehingga mau tidak mau para pengusaha harus melakukan inovasi melalui perdagangan ekonomi digital. Bahkan berdasarkan penelitian di atas, kebutuhan elektronik, gadget, dan traveling, hampir 20 persen. Artinya generasi milenial sekarang ini hampir semua mempunyaigadget atausmart phone yang digunakan untuk berkomunikasi melalui media sosial, belanja online maupun membuka bisnis online. Di Indonesia, setiap bulan Desember ada fenomena menarik di dunia perdagangan online bertajuk Harbolnas (Hari Belanja Online Nasional). Harbolnas yang berlangsung tanggal 12-14 Desember 2017 kemarin membukukan transaksi sebesar Rp 4,7 triliun. Menurut Nielsen, Harbolnas tahun 2017 meraup Rp 1,4 triliun lebih tinggi dari tahun lalu dengan 254 situs belanja online yang terlibat di dalamnya dari berbagai kategori perdagangan. Situs belanja online yang dulunya hanya bisa melalui web, sekarang sudah dapat didownload aplikasi androidnya di playstore sehingga dalam berbelanja online menjadi semakin mudah. Contoh saja Tokopedia, Lazada, dan Bukalapak sampai yang situs belanja luar negeri seperti Alibaba dan Amazon. Salah satu keuntungan dari belanja online adalah terputusnya mata rantai perjalanan produk yang selama ini membuat harga barang lebih mahal. Kemudian di sektor lapangan usaha lain ada perusahaan jasa pengiriman yang terlibat di dalamnya. Bahkan saat ini muncul berbagai jenis jasa pengiriman baru yang menawarkan berbagai macam produk unggulan seperti  Same Day Delivery dan Cash On Delivery (COD). Para pendatang baru di dunia jasa pengiriman sebut saja jasa pengiriman J&T express. Ada lagi Si Cepat yang baru-baru ini telah melakukan kerja sama dengan e commerce terkemuka seperti Tokopedia, Bukalapak, Jakmall, Matahari Mall, Bobobobo, Blibli, Lazada, dan Orami membuat kemudahan masyarakat terutama generasi millenial dalam berbelanja semakin cepat dan efisien. Tidak hanya belanja online, kini transportasi online semakin marak. Go-jek muncul pada 2010  sebagai usaha rintisan dengan menggunakan aplikasi smart phone untuk pemesanan jasa angkutan memakai sepeda motor.  Bahkan sekarang selain ojek motor, ada go-car, go-send, go-shop, go-food, go-massage sampai pemesanan tiket nonton bioskop dapat dipesan lewat go-tix. Pesaing lain yang serupa Go-jek adalah Grab dan Uber yang ditengarai telah menjadi simbol tumbuhnya wirausaha (entrepreneur) millenial.  Go-jek juga telah melebar ke jasa pembayaran dengan memunculkan go-pay. Selain go-pay,  penggunaan teknologi digital pada jasa keuangan yang lebih dulu muncul adalah e money Mandiri, Brizzi BRI, dan Flash BCA. Kartu tersebut merupakan kartu pembayaran multifungsi pengganti uang tunai, yang bisa digunakan untuk bayar toll, belanja di minimarket, bayar parkir elektronik, sampai beli bensin di SPBU.

Dampak Ekonomi Digital di Banyumas

Munculnya ekonomi digital saat ini pastinya dapat menjadi sumber kekuatan baru dalam kegiatan usaha maupun penyerapan tenaga kerja sehingga diharapkan mampu menyumbang pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus nasional. Fenomena di Banyumas berdasarkan hasil Listing SE 2016, usaha yang menggunakan media internet untuk jual beli sebanyak 5.316 (2,45 persen) dari total 216.560 usaha kecuali Aktivitas Pertanian, Kehutanan & Perikanan (Kategori A), Aktivitas Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib (Kategori O) dan Aktivitas Rumah Tangga (Kategori T). Yang menggunakan internet tetapi hanya untuk referensi usaha sebanyak 3.075 usaha (1,42 persen). Sejak pertengahan tahun 2017 Go-Jek sudah mulai beroperasi di wilayah Purwokerto dan sekitarnya, kemudian disusul Grab. Pada awal mulai beroperasi, para pengemudi Go-jek hanya puluhan jumlahnya dan tidak memakai atribut seperti jaket dan helm khas Go-jek karena sempat tidak diizinkan pemerintah daerah. Namun saat ini pengemudi Go-jek sudah mencapai ratusan karena ternyata masyarakat Purwokerto banyak yang membutuhkan fasilitas Go-jek. Dari mahasiswa sampai ibu-ibu pekerja kantoran, sekarang mulai malas naik angkot karena memakai go-ride lebih murah dan efisien waktu perjalanan ke tempat tujuan. Awalnya gojek hanya bisa mengakses fasilitas go-ride, sekarang sudah bisa mengakses go-car, go-food, go-send, go-shop, dan masih ada beberapa fitur lain. Masuknya dua pelaku usaha transportasi online tersebut menandai bahwa Banyumas khususnya Purwokerto mulai masuk dalam ajang kompetisi ekonomi digital. Ekonomi digital terbuka bagi siapa saja dan membuka peluang pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk ikut dalam persaingan sehingga diharapkan banyak menciptakan lapangan usaha baru. Akan tetapi, yang perlu diwaspadai adalah bagaimana nasib pelaku usaha yang masih gagap memanfaatkan teknologi digital seperti kasus ojek konvensial  yang turun pendapatannya karena kalah bersaing dengan ojek online? Kalau tidak bisa mengikuti perubahan itu sangat keliru, apalagi sebentar lagi masuk era perdagangan bebas. Produk lokal pasti akan bersaing dengan produk luar negeri. Jadi, implikasi dari perdagangan online dan ekonomi digital, seperti dalam hal mematikan pesaing dan menghilangkan lapangan kerja, tidak boleh dikesampingkan. Hal ini merupakan tugas pemerintah daerah bagaimana memberdayakan masyarakat agar dapat bersaing dalam ekonomi digital. Salah satunya dengan melakukan pelatihan khususnya pengusaha UMKM lokal Banyumas untuk mulai memasarkan produk-produknya lewat internet dengan tampilan yang menarik dan harga yang kompetitif agar dapat bersaing dengan produk dari luar daerah bahkan luar negeri.Masuknya Banyumas dalam kancah ekonomi digital diharapkan dapat menjadikan ekonomi Banyumas semakin maju dan merata.(*)


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT