Dituduh Selingkuh, Pelaku Mutilasi di Banyumas Minta Istri Lihat Potongan Tubuh Korban
SATELITPOST.COM | 16/07/2019 15:56
Dituduh Selingkuh, Pelaku Mutilasi di Banyumas Minta Istri Lihat Potongan Tubuh Korban
KAPOLRES Banyumas, AKBP Bambang Yudhantara Salamun SIK, dan jajaran Satreskrim Polres Banyumas menunjukkan barang bukti kasus pembunuhan sadis yang mengegerkan Banyumas, Senin (15/7/2019).SATELITPOST/SHANDI

PURWOKERTO, SATELITPOST-Deni Priyanto (37), warga Desa Gumelem Wetan RT 5 RW 1, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara tertunduk lesu. Ia seperti ingin menyembunyikan wajahnya dengan mengenakan masker saat konferensi pers yang digelar Polres Banyumas, Senin (15/7/2019). Kini Deni menghadapi ancaman hukuman serius atas kejahatannya. Bisa jadi, si penjaja cinta ini akan menghabiskan sisa hidupnya di balik jeruji besi. Sebab, polisi menjerat Deni dengan pasal pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman minimal 20 tahun penjara dan maksimal seumur hidup.

Kepada awak media yang hadir, Deni blak-blakan mengungkapkan kenapa ia begitu tega melakukan pembunuhan lalu memutilasi korbannya, Komsatun Wachida (51), warga Cileunyi, Kebupaten Bandung, Jawa Barat. Ketika ditanya Kapolres Banyumas, AKBP Bambang Yudhantara Salamaun SIk saat konferensi pers di Mapolres Banyumas, Deni mengatakan pembunuhan yang ia lakukan didasari niat menguasai harta korban.

BACA: Serikat Pekerja SPP PWK PT Pertamina RU IV Cilacap Ancam Mogok

“Dia minta uang dibalikin, uang Rp 25 jutaan itu pak. Minta dinikahi siri di Banjar, saya nggak bisa bayar utang, nikahin dia juga, karena saya sudah punya anak. Dia belum tahu,” ujar dia.

Sebelum berkenalan dengan korban, Deni terlebih dahulu membuat akun facebook Thunder Flash dengan tujuan untuk mencari mangsa. “Dulu saya bikin akun facebook buat ngobrol dengan cewe itu pak,” kata dia.

Setelah berkenalan kemudian Deni menjalin kasih serta memanfaatkan kedekatannya dengan korban untuk meminjam uang secara bertahap dengan total mencapai Rp 20 juta. Karena terus ditagih serta minta dinikahi, muncul niat menghabisi kekasih gelapnya. “Direncana (membunuh-red) semenjak diminta ganti rugi pak, duit sama janji nikah. Saya takut ketahuan jadi saya mutilasi, saya buang untuk menghilangkan jejak,” ujarnya.

Setelah memutilasi, Deni sempat memberitahukan istrinya bahwa dia baru saja memutilasi seseorang. Bahkan ia sempat meminta istrinya untuk melihat potongan tubuh korban di dalam mobil untuk meyakinkan istrinya yang semula tak percaya. “Saya sempat ngasih tahu ke istri saya pas pertama kali pulang (dari Bandung, red). Saya bilang, kamu kan ngira-ngira aku selingkuh terus, itu ya yang kamu kira selingkuh, tuh aku mutilasi, kalau nggak percaya lihat sendiri,” kata dia.

Usai penemuan potongan tubuh yang dimutilasi, Deni tidak tahu ia mulai dicari polisi. Ia baru tahu setelah melihat berita di televisi. “Saya kemudian WA (whatsapp, red) istri saya minta lihat berita mutilasi di google, kemudian saat saya tukeran mobil saya lihat ada berita itu,” ujarnya.

Rencananya, uang hasil tukar tambah mobil korban senilai Rp 100 juta hendak digunakan untuk membangun rumah. “Saya ingin misah dari orang tua,” kata dia.

Pada konferensi pers ini, Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polres Banyumas merilis 25 barang bukti dari tersangka dan tujuh barang bukti milik korban. Kapolres Banyumas, AKBP Bambang Yudhantara Salamun SIk langsung memimpin konferensi pers dan menunjukkan berbagi barang bukti dari mulai pelatan yang digunakan untuk membunuh hingga sarana kejahatan lainnya kepada awak media. “Banyak sekali barang bukti yang ada,” kata dia.

Barang bukti milik korban ada tujuh item, antara lain mobil Toyota Rush tahun 2018 warna silver nomor polisi D 1058 VBO, satu buah handphone merek Oppo F7 warna hitam, flashdisk, modem, laptop merek Asus, tas laptop dan satu buah kacamata warna hitam kemerahan.

Sedangkan dari tersangka, polisi mengumpulkan barang bukti berupa satu unit mobil Daihatsu Xenia tahun 2007 warna silver metalik nomor polisi R 9387 VC yang merupakan mobil hasil tukar tambah mobil korban di diler mobil wilayah Purwokerto, satu mobil timor nomor polisi B 1757 BQ, uang tunai Rp 1.500.000, notebook merek Sony, tiga buah handphone, dan satu martil besi yang digunakan untuk menghabisi korban.

Kemudian ada satu buah batu yang digunakan untuk menghabisi korban, satu buah karpet warna merah, satu buah karpet plastik warna biru, satu buah karpet warna coklat, rol lakban, rol amplas, lem, sabun cair, gayung, ember, kantong plastik, kain pel, kain keset, bungkus tisu, nota pembelian golok ampelas container, satu pcs kaos lengan panjang, dansatu pcs celana panjang.

BACA: Semburan Lumpur di Desa Sikampuh Diduga Berasal dari Gas Rawa

“Jadi untuk mobil Timor itu merupakan hasil pembelian dari uang yang tersangka pinjam dari korbannya yang dulu sempat meminjam uang RP 20 juta, kemudian Rp 15 juta digunakan untuk membeli mobil tersebut. Mobil tersebut disimpan di rumah orangtuanya,” kata Bambang.

Kapolres mengatakan, polisi belum menemukan  barang bukti golok yang dari informasi tersangka dibuang di bendungan sungai di Kabupaten Banjarnegara. Namun, sesuai dengan nota pembelian tersangka, polisi berhasil membeli duplikat golok yang dibeli tersangka. “Goloknya sama persis dengan yang ini (kapolres menunjukkan sebuah golok bersarung, red) karena belinya di tempat yang sama,” ujarnya.(sandi@satelitpost.com)

SATELITPOST.COM


BERITA TERKAIT