Kisruh PPDB Hari Pertama di Purwokerto, Website Down Bikin Desa Hilang dari Zonasi
SATELITPOST.COM | 02/07/2019 14:23
Kisruh PPDB Hari Pertama di Purwokerto, Website Down Bikin Desa Hilang dari Zonasi
SEJUMLAH wali murid mendaftarkan anaknya melalui sistem PPDB online di SMP 5 Purwokerto, Senin (1/7/2019).SATELITPOST/ANANG FIRMANSYAH

PURWOKERTO, SATELITPOST-Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) online SMA dan SMK Negeri di Kabupaten Banyumas mendapatkan keluhan di hari pertama pelaksanannya, Senin (1/7/2019). Beberapa orangtua dan pendaftar mengadu mengadu helpdesk PPDB di sekolah.  

Salah satu yang dikeluhkan pendaftar yaitu jarak kelurahan dan sekolahan yang berbeda dari ketika simulasi dan pendaftaran. Meli (22) warga Ajibarang mengaku adiknya yang tengah mendaftar SMA Negeri sempat khawatir karena jarak rumah dengan sekolahnya berubah dari saat simulasi.

BACA:  Aturan PPDB 2019 Dianggap Berbelit dan Bikin Pusing Wali Murid

“Waktu simulasi jarak rumah dengan sekolah 0 km tapi waktu daftar tadi berubah jadi 1,8 km. Padahal zonasi kali ini kan sangat memperhitungkan jarak. Takut kalau adik saya tidak bisa masuk ke SMAN Ajibarang,” katanya.  

Ketua panitia PPDB SMAN/SMKN Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah Wilayah X Banyumas, Yuniarso K Adi membenarkan kendala yang terjadi di hari pertama pendaftaran tersebut. “Aplikasi ini ketangguhannya memang sedikit terganggu, tapi sudah diatasi sudah tidak ada masalah,” katanya.  

Ia mengatakan kendala yang terjadi bukan hanya jarak yang berubah di aplikasi. Desa Pancurendang yang awalnya jarak dengan sekolah 0 km kata dia sempat berubah menjadi 1,8 km. Selain itu juga ada beberapa desa yang hilang dari zonasi yakni Ajibarang Wetan dan Ajibarang Kulon.  

“Kendala juga ada beberapa data kelahiran siswa yang berubah.  Ada beberapa siswa kelahiran 2003 yang muncul justru tahun 2014. Tapi semua sudah kita tangani, masyarakat tidak perlu ragu atau bimbang. Zonasi yang tidak muncul karena belum ditarik dari indikator desanya. Itu hanya hilang dari aplikasi tapi begitu sudah muncul bisa daftar lagi. Yang penting kami pastikan sampai hari kelima semuanya aman,” kata dia.  

Selain itu, beberapa orangtua siswa juga mengeluh aplikasinya cukup susah diakses. Dwi (35) orangtua calon pendaftar mengeluh karena susahnya mengakses situs PPDB online. “Saya dan anak begadang semalam demi daftar SMA. Tapi harus diulang sampai 5 kali baru bisa daftar,” katanya.  

Ia sempat khawatir karena awalnya tetap susah masuk ke situs PPDB online-nya. Karena kata dia, waktu pendaftaran berpengaruh ke sistem seleksi siswanya. “Katanya siapa yang lebih cepat bisa dapat kesempatan lebih. Karena selain jarak juga dilihat siapa yang paling cepat daftar,” ujarnya.  

BACA: Antisipasi Kerusuhan Pilkades Serentak, Polres Banyumas Datangkan Pasukan dari Luar

Ketua panitia PPDB SMAN/SMKN Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah Wilayah X Banyumas, Yuniarso K Adi mengatakan waktu pendaftaran memang bisa berpengaruh bukan yang paling utama. Karena dalam sistem zonasi ini yang paling utama adalah prestasi dan jarak rumah dengan sekolah.  

“Tidak begitu, di aplikasi akan didahulukan prestasi luar zona 15 persen. Baru ke zonasi melihat jarak terdekat dengan kuota 60 persen. Dari 60 persen ini akan disaring lagi, dicari 20 persen dulu dari yang prestasi dalam zona selebihnya 40 persen baru seleksi jarak. Kalau jarak dan nilai dari 40 persen ini melebihi kuota baru akan diseleksi waktu pendaftaran dari yang tercepat. Sehingga kalau memang anaknya berprestasi tidak perlu khawatir karena ada kuota sebanyak 35 persen. Kalau untuk internet mungkin di beberapa titik mengalami down karena banyak yang akses,” kata dia. (alfiatin@satelitpost.com)

SATELITPOST.COM


BERITA TERKAIT