Pimpinan dan Manajer Koperasi jadi Tersangka Pembobol Bank BRI
SATELITPOST.COM | 04/02/2019 09:50
Pimpinan dan Manajer Koperasi jadi Tersangka Pembobol Bank BRI
Ilustrasi. (BP/dok)

PURWOKERTO, SATELITPOST-Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Tengah telah menetapkan Ketua Pengurus Koperasi Serta Usaha (KSU) Bumi Citra Artha (BCA), Firdaus Vidhyawan dan Manajer Koperasi, Aang Eka Nugraha sebagai tersangka. Keduanya tersangkut dalam dugaan pembobolan BRI cabang Purbalingga.

“Iya, sudah memang ditetapkan sebagai tersangka, hanya pemanggilan atau pemeriksaan tersangka belum ada,” ujar penasihan hukum Citra Grup, Djoko Susanto kepada SatelitPost, Jumat (1/2).

Penetapan keduanya sebagai tersangka, terkait dugaan pembobolan BRI cabang Purbalingga. “Itu memang terkait tindak pidana korupsi. Namun, sampai sekarang pemanggilan belum ada, bahkan pemeriksaan sebagai tersangka belum ada,” kata dia.

BACA JUGA: Angin Besar Bikin Lampu Penerang Jalan Roboh

Sehingga untuk keduanya sampai saat ini masih berada di wilayah Kabupaten Banyumas. Kedua tersangka masih beraktivitas seperti biasa, tidak ada penahanan juga. “Untuk kondisi psikologinya sehat-sehat saja tidak  begitu terganggu dengan adanya kasus ini,” ujarnya.

Menurut informasi yang didapat oleh pihaknya, ada empat orang tersangka dari BRI cabang Purbalingga dan ada dua orang dari Banyumas yakni Firdaus dan Eka. “Kalau yang dari BRI saya tidak tahu menahu, siapa siapanya saja. Pemeriksaannya juga dilakukan di Semarang semua,” kata dia.

Perihal yang disangkakan kepada kliennya menutu Djoko yakni terkait MoU kliennya dengan pihak BRI yang merupakan kredit tanpa agunan. “Jadi itu kredit untuk karyawan. Tidak ada yang digunakan untuk kepentingan pribadi,” ujarnya.

Diketahui, ada dugaan pembobolan dana BRI Cabang Purbalingga dan terkait dengan Citra Grup Purwokerto, perusahaan milik Firdaus Vidhyawan. Alur kasus ini adalah ada nasabah yang meminjam uang ke KSU BCA, salah satu unit usaha Citra Grup Purwokerto. Untuk bisa mendapatkan pinjaman ke KSU BCA, maka nasabah memberikan agunan atau jaminan berupa sertifikat.

Kemudian, sertifikat nasabah KSU BCA itu digunakan Citra Grup Purwokerto untuk mendapatkan pinjaman uang dari BRI Cabang Purbalingga dan beberapa bank lainnya. Belakangan, Citra Grup Purwokerto kesulitan membayar utang pada beberapa bank tersebut. Utang Citra Grup Purwokerto ke sejumlah bank totalnya Rp 40 miliar. Utang terbanyak ada di BRI Cabang Purbalingga.

Kemudian, yang menjadi kekhawatiran dari nasabah KSU BCA adalah agunan mereka yang saat ini ternyata berada di beberapa bank, termasuk BRI Cabang Purbalingga. Padahal, sebagian nasabah KSU BCA yang sudah melunasi utangnya.

Kamis (29/11/2018) pihak Kejati Jateng telah melakukan penggeledahan di dua tempat, yakni KSU BCA dan Banyumas TV. KSU BCA dan Banyumas TV adalah dua di antara enam unit usaha Citra Grup Purwokerto.

Kasus pembobolan dana BRI Cabang Purbalingga ini membuat Kejati Jateng memeriksa pemilik Citra Grup, Firdaus Vidhyawan, kemudian  Direktur CV Cahaya sekaligus Manajer Koperasi BCA, Aang Eka. Kasus ini diduga menyeret oknum pihak bank. Ini karena terkait dugaan korupsi dana perbankan milik negara.

Citra Grup mulai bermasalah dengan perbankan dua tahun terakhir ini, di antaranya terbelit kredit macet. Selama ini sumber keuangan utama ditopang dari pinjaman bank dan menghimpun dana masyarakat.

Sayap usaha yang sudah berbadan hukum, ada enam jenis. Yakni  PT Bumi Citra Satria (BCS) bergerak  di bidang properti, PT BMS TV, CV Cahaya, SMK Bintra, STKIP BCB dan Koperasi Serba Usaha (KSU) Bumi Citra Artha (BCA).

Sebelumnya, SatelitPost berusaha menghubungi satu saksi yang enggan disebutkan namanya dan sebelumnya menghadapi pemanggilan dari Kejati Jateng di Kantor Kejari Purwokerto beberapa waktu lalu.

Ia merupakan orang yang sebelumnya  bekerja di satu perusahaan yang tergabung Citra Grup. Menurutnya, awal mula namanya ada dalam pinjaman ke Bank BRI tersebut setelah dirinya berkali-kali ditanyakan atasannya untuk ikut.

“Dulu sewaktu masih bekerja di satu grup itu, saya masih dalam tenaga kontrak, dan seringkali diajak ikut, tetapi saya tidak mau. Namun, ketika waktu itu, saya sedang kekurangan dana, saya coba pinjam Rp 20 juta ke Koperasi Serba Usaha (KSU) Bumi Citra Artha (BCA),” katanya.

Dalam prosesnya, kata dia, sebagai karyawan, dirinya hanya diharuskan menyerahkan berkas berupa KTP, NPWP, dan Kartu Keluarga. “Meski masih sebagai karyawan kontrak, untuk syarat sebagai karyawan tetap dibuatkan SK, dan jabatan serta gaji juga dinaikkan,” katanya.

Selang beberapa pekan, dirinya dipanggil ke kantor KSU. “Saya di-breafing, kalau ada orang BRI yang tanya-tanya, saya diminta untuk mengiyakan saja,” katanya.

Dari proses pengajuan kredit itu, bank menyatakan memberikan kredit sekitar Rp 180 juta selama lima tahun dengan cicilan sekitar Rp 5 juta per bulannya. Tak berselang lama, dirinya dipanggil lagi, buku rekening dan ATM pun sudah jadi.

BACA JUGA: Pemohon Adminduk Desa Wangon Meningkat

Dalam pengambilan pencairan dana, kata dia, dirinya diminta ke BRI, untuk menarik dana sebesar Rp 100 juta. Sedangkan sisanya yakni sebesar Rp 80 juta masih di dalam buku tabungan. “Namun, setelah dari bank, ATM, buku rekening, dan uang Rp 100 jutanya diminta untuk diserahkan ke KSU BCA,” katanya

Selang beberapa bulan, tanpa ada pemberitahuan sebelumnya, dirinya diputus kontrak dan diberhentikan secara langsung dengan dalih kondisi perusahaan. Menurutnya, yang membuatnya janggal dari proses tersebut yakni dirinya tidak pernah dapat informasi mengenai tanggungan cicilan atau ada penunggakan misalnya. Hal ini berlanjut  sampai dirinya kini tak lagi bekerja di perusahaan tersebut. (sandi@satelitpost.com)

SATELITPOST.COM


BERITA TERKAIT