Kerap Gagal Panen Karena Banjir, Petani di Banyumas Bikin Sawah Apung
SATELITPOST.COM | 28/12/2018 10:30
Kerap Gagal Panen Karena Banjir, Petani di Banyumas Bikin Sawah Apung

SUMPIUH, SATELITPOST- Warga masyarakat Desa Nusadadi, Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas membuat terobosan terbaru yakni membuat sawah apung. Langkah itu dilakukan karena seringnya gagal panen karena banjir.  


Kecamatan Sumpiuh sendiri terkenal dengan daerah cekungan yang pada musim hujan air akan menggenang sejumlah desa-desa sehingga sering menyebabkan gagal panen. Dari pengalaman itulah Imam Pamungkas, Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pekerjaan Umum (PU) Sumpiuh akhirnya memiliki ide untuk pembuatan sawah apung.  



“Petani di tempat kami hanya bisa panen setahun sekali, pada masa tanam pertama saja (September-Desember awal, red). Untuk masa tanam pertama dan kedua sawah sudah tergenang air jadi tidak bisa ditanami menunggu musim kemarau datang dan hanya ditanami palawija saja,” kata dia.  


BACA JUGA: Anggot Koramil Cilongok Ikut Buat Jalan Tembus


Ketika musim hujan seperti ini, lanjut Imam, bisa menjadi daerah tergenang permanen, biasanya terjadi pada Desember hingga April. Dengan adanya sawah apung ini menurutnya dapat mengatasi permasalahan masyarakat sekitar. “Dengan ini petani tetap bisa bercocok tanam di lahan yang tergenang,” ujarnya.  


Imam menjelaskan proses pembuatan sawah apung tersebut, dengan pertama-tama membuat petakan sawah dari bambu yang disejajarkan dan melintang, kemudian bambu tersebut diikat dengan tali. Pada bagian bawah diberikan gulma enceng gondok dengan ketinggian sekitar 5 sentimeter. “Gulma digunakan untuk menyaring, agar tanah tidak larut dalam air. Di atas gulma diberi lapisan tanah, ketebalannya sekitar 5 sentimeter untuk ditanami padi,” kata dia.  


Pembuatan sawah apung ini, sementara lanjut Imam, menggunakan media barang yang sudah tidak terpakai di sekitar sawah, seperti bambu, enceng gondok yang tumbuh liar. Sedangkan pupuknya menggunakan air seni kelinci yang difermentasi sehingga meminimalisir penggunaan pupuk kimia. “Ukurannya kita buat 2 x 4 meter per petaknya, bibit padinya menggunakan cireha yang tahan hama. Kita tanam bibit yang usianya 10 hari, ditanam dengan model dua tanaman per lubangnya,” ujarnya.  


Sawah apung sendiri memang tidak menghasilkan padi yang cukup banyak dibandingkan dengan persawahan biasa. Jika menggunakan sawah apung menghasilkan sekitar empat ton untuk satu hektarnya untuk sawah biasa menghasilkan enam ton. Namun, hal tersebut sangat membantu di saat musim hujan.  


BACA JUGA: Minibus Tabrak Mobil Ambulans


“Memang ada biaya tambahan untuk sawah apung ini, lebih tinggi dibandingkan menggarap sawah biasa. Seperti harus membeli bambu dan lainnya. Kami berharap ke depannya Pemkab Banyumas bisa memberikan bantuan untuk sawah apung ini, karena genangan permanen di wilayah kami cukup luas,” kata dia.  


Desa Nusadadi sendiri memiliki total area persawahan lebih dari 120 hektare, dari jumlah tersebut hampir 60 hektare mengalami genangan permanen pada saat musim hujan. “Jika area genangan permanen itu bisa kita manfaatkan pasti petani akan mendapatkan hasil yang lebih baik dibandingkan sebelumnya,” ujarnya. (san)


SATELITPOST.COM


BERITA TERKAIT