Misi Melawan Islamofobia di Balik Berlayarnya Kapal Padewakang ke Australia
SULBARKITA.COM | 13/12/2019 09:40
Misi Melawan Islamofobia di Balik Berlayarnya Kapal Padewakang ke Australia
Kapal Padewakang/ Sumber: Ridwan Alimuddin

Kapal kuno Padewakang kini tengah mengarungi samudra menuju ke Australia. Ekspedisi kapal yang bernama Nur Al Marege itu seolah mengembalikan cerita 600 tahun silam, ketika pelaut Sulawesi kerap pulang pergi Australia mencari teripang.

Bagaimana persiapan hingga akhirnya Perahu Padewakang kembali mengarungi lautan lepas? Sulbarkita.com berkesempatan mewawancarai Ridwan Alimuddin, jurnalis sekaligus peneliti maritim yang ikut dalam ekspedisi tersebut pada Senin 2 Desember 2019. Berikut kutipan wawancaranya.

Bagaimana anda bersama tim merencanakan ekspedisi Kapal Padewakang ini?
Sebenarnya ini bermula sekitar Maret 2019, kami dihubungi oleh sebuah komunitas bernama Abu Hanifa Institute. Mereka ini adalah keturunan Timur Tengah yang menjadi komunitas muslim di Australia. Nah, mereka ini ingin memberi sumbangsih dalam perayaan 250 tahun ekspedisi James Cook (Seorang penjelajah dan navigator Inggris) yang akan dihelat di Australia tahun depan. Nah, sejumlah literatur menyebutkan 70 tahun sebelum James Cook tiba di Australia, pelaut-pelaut dari Bugis Makassar sudah berada di sana untuk mencari teripang. Mereka ini pelaut-pelaut yang juga muslim dan ikut menyebarkan Islam di Australia. Abu Hanifa ingin kembali merefleksikan peristiwa tersebut.

Berarti ada misi keagamaan juga di sini ya?
Jadi sejak merebak isu terorisme, muncul fobia terhadap Islam di sana. Muslim terkesan menjadi warga kelas dua. Nah, melalui momentum ini Abu Hanifa hendak menunjukkan bahwa Islam itu bukan pendatang baru di Australia, mereka sudah masuk ke sana sejak ratusan tahun lalu. Jadi mereka ingin agar Islam jangan dilihat secara negatif. Misi keagamaannya di situ. Tapi kalau kami tujuannya lebih pada merekonstruksi kembali budaya masa lampau.

Ada literatur yang mendukung klaim Abu Hanifa tersebut?
Terdapat sejumlah literatur menyebutkan orang Aborigin (suku asli Aussy) sangat mencintai orang Bugis Makassar. Penelitian lainnya juga menyebutkan ada sekitar 200 suku kata orang Aborigin di wilayah utara Australia itu diadopsi dari bahasa Makassar. Hal itu karena pelaut ini datang sebagai pedagang dan pencari ikan. Cukup kontras dengan Eropa yang datang bermaksud untuk menjajah. Nah, para pelaut Sulawesi ini datang sejak abad ke 15 dengan menggunakan Padewakang. Artinya kapal ini jauh lebih lama dari Perahu Pinisi. 

Bagaimana pihak Abu Hanifa bisa sampai menghubungi anda?
Semua bermula dari Pameran Kingdom of The Sea Archipelago di Belgia pada 2017. Saya bersama sejumlah rekan untuk pertama kalinya membuat dan menghadirkan Perahu Padewakang di sana. Mereka (pihak Abu Hanifa) mendapat informasi terkait hal itu dan tertarik untuk menampilkannya di perayaan 250 tahun ekspedisi James Cook. Nah, mereka mencari tahu kontak person kami dan menemukannya di Museum Darwin. Kebetulan di museum itu juga punya satu koleksi Perahu Padewakang yang pernah menjalani ekspedisi dari Makassar ke Australia pada 1987. Nah, pihak museum kemudian menghubungi kami. TRI S

SULBARKITA.COM


BERITA TERKAIT