Pengakuan Eks Jemaah Aliran Sesat di Mamuju: Beli Tiket ke Surga Diperlihatkan Cahaya Tuhan
SULBARKITA.COM | 28/11/2019 09:10

Mamuju, Sulbarkita.com - AI, 24 tahun, yang mengaku sempat mengikuti sebuah perkumpulan yang diduga aliran sesat di Mamuju, mengatakan pengikut perkumpulan tersebut cukup banyak. Setiap perkumpulan melakukan pertemuan, puluhan orang hadir di dalamnya.

“Yang ikut kajian puluhan orang mulai dari orang tua, pemuda, dan mahasiswa,” ujar AI kepada Sulbarkita.com di salah satu cafe di Mamuju, Selasa, 7 November 2019 malam.

BACA: Pemda Turun Tangan Atasi Persoalan Lahan KPU Mamuju

Bahkan AI mengatakan terdapat sejumlah pejabat yang hadir dalam kajian yang membedah sejumlah ayat di Al-Quran maupun kitab-kitab kuning tersebut. Hanya saja, AI menolak membeberkan nama pejabat yang dimaksud, “Yang pasti ada beberapa pejabat beserta keluarganya,” kata dia.

Setelah geger aliran sesat bernama Tarekat Tajul Khalwatiyah Syekh Yusuf, di Gowa, Sulawesi Selatan. Seseorang berinisial AI mengaku pernah mengikuti perkumpulan yang mirip dengan Tarekat Tajul di Mamuju, Sulbar.

Bila Tarekat Tajul menjual kartu untuk masuk surga, perkumpulan ini menjual tiket untuk bertemu tuhan. “Mereka meminta uang sebesar 650 sampai 700 ribu rupiah. Nanti akan diperlihatkan cahaya yang disebut Tuhan,” ujarnya.

Kepala Satuan Reserse Kriminal, Polres Mamuju, AKP Syamsuriansyah saat dikonfirmasi mengatakan belum mengetahui hal tersebut. Ia berjanji akan menyelidikinya terlebih dahulu. “Nanti saya turunkan anggota untuk cari tahu,” kata dia di ruang kerjanya, Selasa, 7 November 2019.

Kepolisian Daerah Sulawesi Barat membongkar kelompok yang diduga beraliran sesat di Mamuju, Sulbar. Aliran sesat tersebut dipimpin oleh seseorang berinisial R, asal Kalimantan Timur.

Pembongkaran aliran sesat itu terungkap dari surat yang dilayangkan Intelkam Polda Sulbar kepada Kantor Kemenag Sulbar pada 5 November 2019 yang salinannya diperoleh Sulbarkita.com. Surat tersebut bernomor B/43/XI/IPP.3.1.1/2019/Intelkam yang diteken Direktur Intelkam Kombes Heri Susanto.

Intelkam menyebutkan R menyebarkan ajarannya sejak Januari 2019 melalui salah satu rumah warga berinisial YS di Lingkungan Simboro, Kecamatan Simboro, Mamuju. Saat itu diketahui murid R sudah mencapai 70 orang.

YS pun sudah diperiksa Polda dan berjanji tidak akan menggunakan rumahnya lagi untuk kajian yang dilakukan R. “Setiap orang yang mau jadi murid harus membayar uang pendaftaran sebesar Rp 666.000,” tulis surat Intelkam.

BACA: Anak Mantan Sekda Diduga Serobot Lahan KPU Mamuju

Namun 2 September lalu, Polda Sulbar kembali mendapatkan laporan ihwal aliran sesat di rumah milik AB di Jl. Yos Sudarso Mamuju. Penyebarnya juga disebutkan berasal dari Kalimantan. “Disinyalir guru itu memungut bayaran kisaran Rp 500.000 s/d Rp 600.000/ jamaah atau pengikut dengan jaminan akan mendapatkan kemudahan masuk surga.”

Disebutkan pula bahwa sang guru yang sudah kembali ke Kalimantan tersebut juga tak mengajarkan salat lima waktu, tapi cukup 2 kali saja dalam sehari. “Dua kali waktu salat yakni saat terbit fajar dan terbenam matahari karena menganggap salat adalah gerakan olahraga di masjid.”

Erisusanto


BERITA TERKAIT