Istri Jadi Dalang Pembunuhan Hakim Jamaluddin, Janjikan Eksekutor Berangkat Umroh dan uang Rp 100 Juta
MEDANHEADLINES.COM | 16/01/2020 16:21
Istri Jadi Dalang Pembunuhan Hakim Jamaluddin, Janjikan Eksekutor Berangkat Umroh dan uang Rp 100 Juta
Tersangka kasus pembunuhan hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan, Zuraida Hanum (tengah) dihadirkan polisi ketika gelar kasus di Mapolda Sumatera Utara, Rabu, 8 Januari 2020. Zuraida yang juga merupakan istri korban, menjadi salah satu tersangka dari tiga tersangka dalam kasus dugaan pembunuhan berencana hakim PN Medan, Jamaluddin. ANTARA/Septianda Perdana

MEDANHEADLINES.COM, Medan – Polda Sumut menggelar reka adegan kasus pembunuhan berencana terhadap Hakim Pengadilan Negeri Medan Jamaluddin di sejumlah lokasi di Kota Medan Senin (13/1). Tiga tersangka, ZH (istri Jamaluddin), JP (eksekutor) dan RF (eksekutor pembantu) dihadirkan dalam rekonstruksi itu.

Setelah niatan ZH untuk membunuh suaminya Hakim Jamaluddin dituruti JP. Laki-laki yang  juga berprofesi sebagai pengacara itu langsung menyusun rencana pembunuhan. Dia menemui RF, 29 di warung miliknya di kawasan Jalan Setia Budi, Medan. RF sendiri merupakan adik kandung JP beda ibu.

Lantas JP pun bercerita kepada RF jika ZH sedang dirundung masalah rumah tangga dengan Jamaluddin.JP pun mengajak RF untuk bertemu dengan ZH. Supaya RF mendengar langsung cerita dari ZH. RF pun mengiyakan ajakan itu.

Senin, 25 November 2018. JP kembali bertemu dengan ZH. JP juga menghubungi RF untuk datang ke Coffee Town sekira  pukul 11.00 WIB. Kafe itu berlokasi di Jalan Ngumban Surbakti, Medan. “Coffe Town ini lokasi adegan ketiga. Di mana ketiga korban pertama kali bertemu secara bersamaan. Di sini tempat merencanakan pembunuhan itu,” ujar Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Sumut Kombes Andi Rian Djajadi.

Saat itu, JP kembali menceritakan soal masalah rumah tangga Jamaluddin. Saat itu JP mengatakan jika ZH ingin suaminya dibunuh. Saat itu RF sempat ragu. Dia kembali menanyakan soal niatan ZH untuk menghabisi nyawa suaminya. Dalam pertemuan di Coffee Town, ZH menyatakan keseriusannya untuk menghabisi nyawa suaminya. Bahkan dalam pertemuan itu, ZH juga menyatakan niatannya untuk menikah dengan JP. Sekaligus meyakinkan RF yang sedikit ragu.

“Kakak serius. Memang rencana kami mau nikah, kakak enggak main-main. Selama ini kakak enggak tahan, udah lama kakak, udah cukup sakit hati lah,” ujar ZH.

Saat itu juga ZH juga menyampaikan akan memberikan upah Rp100 juta setelah melakukan eksekusi. Biadabnya, ZH juga mengajak JP dan RF berangkat umrah setelah Jamaluddin tewas. Iming-iming berangkat umrah membuat RF semakin yakin. Sehingga akhirnya dia ikut menjadi eksekutor.

Obrolan di Coffee Town berlanjut semakin serius. Bahkan ZH juga yang menyusun dan langsung menjelaskan skenario eksekusi terhadap Jamaluddin.

Dalam rencananya, ZH akan menjemput JP dan RF di seputaran Pasar Johor, Jalan Karya Wisata, Kecamatan Medan Johor sekira pukul 19.00 WIB. ZH tampaknya sudah memastikan jika ZH belum pulang ke rumah. Kemudian mereka langsung bergerak ke rumah Jamaluddin di Jalan Aswad, Kecamatan Medan Johor.

Mereka langsung diminta naik ke lantai tiga untuk menunggu Jamaluddin pulang. ZH juga sudah menyiapkan kain untuk membekap Jamaluddin. Dia ingin membangun cerita soal kematian Jamaluddin karena sakit jantung.

ZH memberikan uang Rp2 juta kepada JP dan RF. Lantas, RF langsung membeli berbagai perlengkapan untuk beraksi.

Dia membeli dua unit ponsel genggam, dua pasang sepatu, dua masker, dua helm, dua jaket dan dua pasang sarung tangan. Perlengkapan ini digunakan untuk mengelabui jejak pembunuhan.

“Mereka juga ada membeli hp. Ada dua unit. (Itu) Sekali pakai. Ini dipakai untuk berkomunikasi antara JP dan ZH. Setelah membuang Jamaluddin, Hp itu dibuang ke sungai,” kata Kombes Andi Rian.

Rokonstruksi hari ini berkutat pada perencanaan pembunuhan saja. Reka ulang berikutnya akan dilaksanakan dalam beberapa hari ke depan. Rencananya rekonstruksi berikutnya akan menampilkan bagaimana para eksekutor menghabisi nyawa Jamaluddin.

Sebelumnya, Jamaluddin ditemukan tidak bernyawa di dalam mobilnya  di kawasan perkebunan sawit Desa Sukadame, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, Jumat (29/11) tahun lalu. Jenazahnya ditemukan di baris kedua kursi penumpang dengan mengenakan pakaian olahraga tanpa kaus dalam.(red)


BERITA TERKAIT