Banyak Kejutan di Kasus Pembunuhan Hakim Jamaluddin, Motif Asmara Makin Kuat sampai Iming-iming Umrah untuk Eksekutor
MEDANHEADLINES.COM | 14/01/2020 14:45
Banyak Kejutan di Kasus Pembunuhan Hakim Jamaluddin, Motif Asmara Makin Kuat sampai Iming-iming Umrah untuk Eksekutor

MEDANHEADLINES.COM, Medan – Polda Sumut menggelar reka adegan kasus pembunuhan berencana terhadap Hakim Pengadilan Negeri Medan Jamaluddin di sejumlah lokasi di Kota Medan Senin (13/1). Tiga tersangka, ZH (istri Jamaluddin), JP (eksekutor) dan RF (eksekutor pembantu) dihadirkan dalam rekonstruksi itu.

Rekonstruksi kasus menguak fakta baru. Mulai dari curhat sang istri kepada JP yang disebut-sebut sebagai kekasih gelapnya. Hingga rencana eksekusi nyawa Sang Pengadil yang dikenal ramah di lingkungan PN Medan itu.

BACA: Melawan Saat Ditangkap Seorang Pelaku Curas Ditembak Mati

Rekonstruksi kali ini menandai dimulainya penyidikan kasus yang menyita perhatian publik itu. Kejaksaan Negeri Medan juga sudah menerima Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) kasus itu dari kepoisian. Jika berkasnya lengkap, kasus yang menyita perhatian publik itu akan segera diadili.

Perempuan 41 tahun itu tak mampu mengangkat kepalanya saat diboyong ke Warunk Everyday. Sebuah kafe di  bilangan  Ringroad, Kata Medan. Kafe yang tengah direnovasi itu dijaga ketat polisi sepanjang reka adegan berlangsung. Saat masuk ke dalam kafe, ZH harus dipegangi oleh sejumlah Polwan. Dia terus mencoba menutupi wajahnya dari sorot kamera dengan kerudung hitam dan masker penutup mulut.

Di lantai dua, reka adegan menampilkan cerita ZH bertemu dengan JP awal November 2018. Saat pertemuan itu ZH mencurahkan isi hatinya tentang Jamaluddin kepada laki-laki 42 tahun itu. ZH mengatakan jika dia ingin mati. Lantaran dia tak tahan melihat tingkah laku suaminya yang diduga juga memiliki hubungan istimewa dengan perempuan lain.

“Suami saya terus menerus berselingkuh dengan perempuan-perempuan lain dan dari pertama perkawinan saya dia selalu mengkhianati saya. Saya lagi hamil pun dia bawa perempuan ke rumah. Saya sudah mengadu ke keluarganya dan mengadu ke kakak-kakak kandungnya, adik kandungnya tapi mereka tidak berdaya apa-apa. Saya coba minta cerai katanya jangan coba-coba minta cerai dengan saya karena perceraian kedua saya akan malu karena saya seorang hakim sementara dia menyakiti saya dengan perempuan-perempuannya,” kata Zuraidah memeragakan curhatannya kepada JP.

Dalam pertemuan itu, juga terungkap  soal niatan ZH menghabisi Jamaluddin. Dia meminta JP untuk menjadi eksekutor. Niatan itu diamini oleh JP. Apalagi mereka berdua diduga terlibat asmara.

Setelah niatan ZH dituruti JP. Laki-laki yang  juga berprofesi sebagai pengacara itu langsung menyusun rencana pembunuhan. Dia menemui RF, 29 di warung miliknya di kawasan Jalan Setia Budi, Medan. RF sendiri merupakan adik kandung JP beda ibu.

Lantas JP pun bercerita kepada RF jika ZH sedang dirundung masalah rumah tangga dengan Jamaluddin.JP pun mengajak RF untuk bertemu dengan ZH. Supaya RF mendengar langsung cerita dari ZH. RF pun mengiyakan ajakan itu.

Senin, 25 November 2018. JP kembali bertemu dengan ZH. JP juga menghubungi RF untuk datang ke Coffee Town sekira  pukul 11.00 WIB. Kafe itu berlokasi di Jalan Ngumban Surbakti, Medan. “Coffe Town ini lokasi adegan ketiga. Di mana ketiga korban pertama kali bertemu secara bersamaan. Di sini tempat merencanakan pembunuhan itu,” ujar Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Sumut Kombes Andi Rian Djajadi.

Saat itu, JP kembali menceritakan soal masalah rumah tangga Jamaluddin. Saat itu JP mengatakan jika ZH ingin suaminya dibunuh. Saat itu RF sempat ragu. Dia kembali menanyakan soal niatan ZH untuk menghabisi nyawa suaminya. Dalam pertemuan di Coffee Town, ZH menyatakan keseriusannya untuk menghabisi nyawa suaminya. Bahkan dalam pertemuan itu, ZH juga menyatakan niatannya untuk menikah dengan JP. Sekaligus meyakinkan RF yang sedikit ragu.

“Kakak serius. Memang rencana kami mau nikah, kakak enggak main-main. Selama ini kakak enggak tahan, udah lama kakak, udah cukup sakit hati lah,” ujar ZH.

Saat itu juga ZH juga menyampaikan akan memberikan upah Rp100 juta setelah melakukan eksekusi. Biadabnya, ZH juga mengajak JP dan RF berangkat umrah setelah Jamaluddin tewas. Iming-iming berangkat umrah membuat RF semakin yakin. Sehingga akhirnya dia ikut menjadi eksekutor.

Obrolan di Coffee Town berlanjut semakin serius. Bahkan ZH juga yang menyusun dan langsung menjelaskan skenario eksekusi terhadap Jamaluddin.

Dalam rencananya, ZH akan menjemput JP dan RF di seputaran Pasar Johor, Jalan Karya Wisata, Kecamatan Medan Johor sekira pukul 19.00 WIB. ZH tampaknya sudah memastikan jika ZH belum pulang ke rumah. Kemudian mereka langsung bergerak ke rumah Jamaluddin di Jalan Aswad, Kecamatan Medan Johor.

Mereka langsung diminta naik ke lantai tiga untuk menunggu Jamaluddin pulang. ZH juga sudah menyiapkan kain untuk membekap Jamaluddin. Dia ingin membangun cerita soal kematian Jamaluddin karena sakit jantung.

ZH memberikan uang Rp2 juta kepada JP dan RF. Lantas, RF langsung membeli berbagai perlengkapan untuk beraksi.

Dia membeli dua unit ponsel genggam, dua pasang sepatu, dua masker, dua helm, dua jaket dan dua pasang sarung tangan. Perlengkapan ini digunakan untuk mengelabui jejak pembunuhan.

“Mereka juga ada membeli hp. Ada dua unit. (Itu) Sekali pakai. Ini dipakai untuk berkomunikasi antara JP dan ZH. Setelah membuang Jamaluddin, Hp itu dibuang ke sungai,” kata Kombes Andi Rian.

Rokonstruksi hari ini berkutat pada perencanaan pembunuhan saja. Reka ulang berikutnya akan dilaksanakan dalam beberapa hari ke depan. Rencananya rekonstruksi berikutnya akan menampilkan bagaimana para eksekutor menghabisi nyawa Jamaluddin.

Sebelumnya, Jamaluddin ditemukan tidak bernyawa di dalam mobilnya  di kawasan perkebunan sawit Desa Sukadame, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, Jumat (29/11) tahun lalu. Jenazahnya ditemukan di baris kedua kursi penumpang dengan mengenakan pakaian olahraga tanpa kaus dalam.(red)


BERITA TERKAIT