Kronologi Pembunuhan Hakim Jamaluddin yang Didalangi Istri, Benarkah Urusan Asmara?
MEDANHEADLINES.COM | 10/01/2020 16:30
Kronologi Pembunuhan Hakim Jamaluddin yang Didalangi Istri, Benarkah Urusan Asmara?

MEDANHEADLINES.COM, Medan – Kapolda Sumatera Utara (Sumut) Irjen Pol Martuani Sormin mengatakan hakim di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Jamaluddin yang menjadi korban pembunuhan sudah meninggal dunia sewaktu masih berada di kediamannya di Jalan Aswad, Perumaham Royal Monaco Blok B, Kecamatan Medan Johor, Medan, Sumatera Utara, pada (28/11) November 2019 lalu.

Hakim yang sekaligus menjabat Humas di PN Medan dihabisi tiga tersangka di kamar pribadinya. Pria 56 tahun itu dibekap mereka sampai kehabisan napas dan mati lemas.

Jenderal bintang dua itu menjelaskan, kasus berhasil diungkap kurang lebih 40 hari usai kejadian. Tiga tersangka berinisial JP, RF dan ZH turut diamankan dalam pengungkapan tersebut. Polisi menduga kuat ZH adalah otak pelaku pembunuhan Jamaluddin.

BACA: Kasus Pembunuhan Hakim PN Medan, Kapolda: Istri Korban sebagai Otak Pelaku

Namun, Martuani belum mau membeberkan secara lengkap terkait motif pembunuhan tersebut. Dia hanya menyampaikan bahwa motif kejadiannya karena masalah rumah tangga antara korban dan istrinya, ZH.

Saat disinggung beredarnya informasi bahwa tersangka nekat membunuh korban karena perkara asmara dan harta. Lulusan Akpol 1987 itu mengaku masih mendalami kasus ini lebih lanjut. Dia tidak mau menuduh hanya dengan ‘katanya’ tanpa dilengkapi alat bukti.

“Sementara penyidik berkesimpulan ini masalah rumah tangga,” kata Martuani saat menggelar konferensi pers di Mapolda Sumut, (8/1). Martuani menjelaskan, tersangka JP dan RF adalah orang suruhan dari ZH. Keduanya dibayar oleh ZH untuk menghabisi nyawa Jamaluddin.

Namun, ketika ditanyai berapa upah dan bagaimana cara merekrut keduanya, lagi-lagi Martuani menyebut penyidik masih lakukan pendalaman kasus. Tapi, dia menegaskan tidak ada lagi tersangka lain dari ketiga yang telah diringkus.

“Kami belum bisa mengatakan berapa upah yang diterima JP dan RF. Begitu juga dengan apa kepentingan keduanya,” ujar mantan Asisten Operasi Kapolri ini.
Martuani menambahkan, bahwa Jamaluddin sudah meninggal dunia pada saat berada di rumah. Jadi, pembunuhan korban sudah direncanakan oleh para tersangka. Karena sebelum kejadian, kedua orang suruhan ZH sudah di rumah sebelum korban pulang dari kantor.

Namun, lanjut Martuani, dua orang suruhan ZH sama sekali tidak kenal dengan korban. Pekerjaan keduanya adalah wiraswasta. “Jadi lokasi eksekusinya di rumah korban. Dan masalah perencanaannya masih didalami oleh penyidik,” pungkas Martuani.

Di akhir keterangannya, Martuani menegaskan dalam rangka akuntabilitas penyidikan. Pihaknya akan bicara transparan kepada media agar masyarakat juga tahu apa yang dilakukan penyidik.(afd)


BERITA TERKAIT