Istri Sewa Orang untuk Habisi Nyawa Hakim Jamaluddin, Mengapa Motif Pembunuhan Masih Misteri?
MEDANHEADLINES.COM | 09/01/2020 10:20
Istri Sewa Orang untuk Habisi Nyawa Hakim Jamaluddin, Mengapa Motif Pembunuhan Masih Misteri?

MEDANHEADLINES.COM, Medan – Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Martuani Sormin mengatakan bahwa kasus kematian Hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan, Jamaluddin merupakan suatu pembunuhan berencana.

Hal ini diungkapkan Kapolda saat melakukan pemaparan kasus tersebut di Mapolda Sumut, Rabu (8/12/2020)

Dijelaskan Kapolda,Pembunuhan itu dilakukan oleh istrinya sendiri, sementara untuk motif pembunuhan masih terus didalami penyidik. "Tapi dugaan awalnya adalah masalah rumah tangga,” Ungkapnya

Martuani juga menjelaskan, masalah yang sempat dihadapi penyidik untuk mengungkap kasus ini yakni dukungan alat bukti. Alasannya, para pelaku menggunakan alat- alat komunikasi yang tidak biasa, sehingga penyidik kesulitan mendudukkan dan merekonstruksikan kasus ini.

“Tapi dengan bantuan Laboratorium Forensik dan Direktorat Cyber Crime Mabes Polri, penyidik mendapat informasi tambahan yang menguatkan kasus ini sebagai pembunuhan berencana,” kata Martuani saat memaparkan kasus di Mapolda Sumut, Kamis (8/1).

Hasil pengungkapan, kata Martuani, pihaknya menangkap tiga orang dan menetapkannya tersangka. Ketiganya berinisial JP, RF dan ZH. Mereka berperan sebagai perencana dan pelaku.

“Pelaku utama berinisial JP. Dia dibantu RF untuk bersama sama membunuh korban,” ujar Martuani.

Selain tersangka, polisi turut mengamankan barang bukti mobil Toyota Land Cruiser Prado warna hitam dan barang-barang milik korban yang diangkat dari TKP. Kemudian barang bukti yang digunakan para pelaku untuk menghabisi nyawa korban diantaranya bad cover, sarung bantal dan sepatu.

“Tuduhan sementara otak pelakunya adalah istri korban. Tapi nanti akan kita dalami lagi untuk istri korban,” ungkap Martuani.

Ketika ditanya bagaimana cara tersangka membunuh korban. Lulusan Akpol 1987 ini mengatakan mereka melancarkan aksinya dengan cukup bagus, tanpa alat bukti dan tanpa kekerasan.

Korban dibunuh dengan cara dibekap hingga kehabisan napas. Hal itu sesuai dari hasil laboratorium forensik yang menyatakan korban diduga meninggal dunia karena lemas.

“Jadi, tanda-tanda kekerasan tidak ada, korban hanya kehilangan oksigen sehingga mati lemas,” jelas Martuani.(AFD)

MEDANHEADLINES.COM


BERITA TERKAIT