Kapolda Sumut Pastikan Pembunuhan Hakim PN Medan Tak Terkait Penanganan Perkara
MEDANHEADLINES.COM | 10/12/2019 09:20
Kapolda Sumut Pastikan Pembunuhan Hakim PN Medan Tak Terkait Penanganan Perkara

Medanhedalines.com, Medan – Kapolda Sumatera Utara Irjen Agus Andrianto menegaskan pihaknya terus mendalami informasi dan alibi saksi-saksi untuk mengungkap kematian hakim sekaligus Humas di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Jamaluddin (50).

Sejauh ini, kata Agus, tim gabungan masih bekerja mengumpulkan informasi-informasi dari analisa Labfor, Forensik serta bukti-bukti lainnya. “Harapannya kasus ini bisa cepat selesai,” kata Agus usai menghadiri acara silaturahmi bersama masyarakat di Polrestabes Medan, Jalan HM Said, Medan Perjuangan, Senin (9/12).

BACA: Sosialisasi Sarat Pendaftaran Calon Perseorangan Untuk Pilkada Medan Resmi Dibuka

Menurut Agus, pengungkapan kasus sangat tergantung dari alat bukti dan keterangan saksi. Contohnya seperti kasus pembunuhan perempuan yang lehernya ditusuk kemarin, itu sudah bisa terungkap. Begitu juga peristiwa pembunuhan anak SMA di Nias.

“Saya sudah bisa menduga kasus ini seperti apa dan keterkaitan kasus pembunuhan ini dengan apa. Tapi, untuk menentukan siapa tersangkanya, saya tidak bisa sembarangan,” jelas jendral bintang dua tersebut.

Ketika disinggung apakah Jamaluddin dibunuh ada kaitannya dengan kasus yang tengah ditanganinya, lulusan Akpol 1989 ini mengatakan tidak ada. Namun dia belum mau merinci motif sebenarnya dari kasus tersebut.

Agus meminta doa restu kepada wartawan agar kasus kematian hakim sekaligus Humas di PN Medan itu cepat terungkap.

“Mohon restu kepada rekan-rekan media, mudah-mudahan bisa terungkap pada saat sebelum saya pindah,” harap perwira tinggi yang dipromosikan menjabat Kabaharkam Mabes Polri itu.

Masih dikatakan Agus, dia menyebut ada dua pekerjaan rumah (PR) yang belum bisa diungkap oleh jajarannya. Pertama kasus jambret yang korbannya luka dan meninggal dunia, kedua pembunuhan Jamaluddin.

Tapi, lanjutnya, kasus pembunuhan di Nias dan perempuan yang ditusuk lehernya sudah berhasil terungkap. Untuk itu mohon doa restunya.

“Kita tidak punya niat untuk menghambat apalagi menutup-nutupi hasil penyidikan. Kita lebih senang perkara bisa terungkap supaya bisa cepat disampaikan ke publik,” ungkap Agus.

“Saya mohon maaf jika masih banyak PR yang belum bisa saya kerjakan. Itu adalah kesalahan saya, namun anggota sudah berusaha keras mengungkapnya,” tambah pria kelahiran 52 tahun silam tersebut.

Ditanya soal hasil labfor yang menyatakan korban meninggal dunia antara 12-20 jam saat ditemukan dan diduga bahwa korban sudah meninggal dunia di kediamannya. Menanggapi hal itu Agus menjelaskan, kalau hitungan waktu 12-20 jam itu adalah antara atau dalam rentang waktu.

BACA: Ketua Pospera Minta Dispora Sergai Beri Dukungan dan Fasilitas Bagi Petinju Berprestasi

Namun, tidak bisa dipastikan bahwa itu 20 jam. Tapi antara rentang waktu tersebut. Tinggal hasil Labfor dan Forensik yang akan dianalisa lagi supaya jangan sampai salah menduga orang dan salah menetapkan tersangka.

“Karena itu bisa berdampak dengan yang bersangkutan. Yang pasti motifnya bukan karena menangani perkara. Untuk saksinya sudah 25 orang yang diperiksa,” pungkas Agus. (red)

MEDANHEADLINES.COM


BERITA TERKAIT