Kisah Dukun Cilik Ponari, Disanjung dan Punya Miliaran Rupiah sampai Putus Sekolah dan Tak Sanggup Bayar Persalinan Ibunya
MEDANHEADLINES.COM | 05/12/2019 13:27
Kisah Dukun Cilik Ponari, Disanjung dan Punya Miliaran Rupiah sampai Putus Sekolah dan Tak Sanggup Bayar Persalinan Ibunya

MEDANHEADLINES.COM – Dukun cilik Ponari dulu sangat kondang. Di mana-mana diberitakan bocah kelas IV SD itu bis amemberikan pengobatan alternatif kepada masyarakat. Sepuluh tahun berlalu, apa kabarnya saat ini?

Sejak 2013 praktek perdukunan sepi. Sejak  itu Ponari mulai sadar untuk melanjutkan sekolahnya. Bocah tersebut pun akhirnya melanjutkan sekolah seperti anak pada umumnya. Namun sayangnya, saat sampai di bangku sekolah menengah pertama, Ponari mengalami masalah dengan biaya. Mukaromah, ibu Ponari mengaku jika ia kesulitan membayar biaya semester yang jumlahnya 250.000 rupiah. Mirisnya lagi, Ponari pun akhirnya putus sekolah. Mungkin terkesan sulit dipercaya, mengingat penghasilan Ponari yang dulu hingga miliaran rupiah, namun beberapa ratus ribu saja kini tak ada.

BACA: Ajaib, Wanita ini Punya Puluhan Ribu Pasien

Saat berjaya dulu, Ponari memang sempat membeli sawah dan juga tanah untuk menambah peluang usaha. Namun, apa yang direncanakan ternyata tidak berjalan dengan baik. Kehidupan sehari-hari keluarga Ponari kembali memprihatinkan karena keluarga hanya mengandalkan hasil panen.

Namun, Desa Kedungsari tergolong wilayah yang kurang cocok ditanami padi. Hasil yang didapat dari panen sawah pun tak seberapa. Kecamatan Megaluh kerap mengeluhkan hasil panen yang kurang memuaskan. Sehingga sawah yang dibeli dari hasil perdukunan juga nggak semuanya yang digarap, sebagian hanya disewakan untuk digarap oleh orang lain.

Kisah ponari mungkin jadi bukti kalau kehidupan ini memang terus berputar. Kadang di atas, kadang juga di bawah. Kehidupan Ponari kembali memprihatinkan. Uang yang telah dikumpulkannya dari praktek dulu telah habis. Kondisi Ponari dan keluarga pun kembali seperti semula. Bahkan, keluarga Ponari sampai pontang-panting ngurus BPJS karena merasa tak sanggup membayar persalinan ibunya.

Dari kisah Ponari, mungkin kita bisa bercermin, jika kekayaan sejati adalah yang diperjuangkan dengan kerja keras. Memperoleh sesuatu dengan instan, berarti kita harus siap kehilangannya dalam waktu cepat pula. Semoga kisah ini jadi pelajaran buat Sahabat medanheadlines.com (*/raj)


BERITA TERKAIT