Petani Sawit Mandiri di Sintang Butuh Dukungan
BETAHITA.ID | 05/12/2019 08:32
Raden Ariyo Wicaksono
Minat berkebun sawit secara mandiri desa-desa di Sintang rendah. Hal tersebut disebabkan karena pengetahuan dan kemampuan petani yang kurang dan pasar hasil produksi kebun sawit rakyat yang terbatas./Foto: Betahita
Betahita.id - Petani sawit mandiri di Desa Paoh Benua dan Desa Sepulut, Kecamatan Sepauk, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, butuh dukungan. Pasalnya, pengetahuan bercocok tanam sawit petani masih minim, yang mengakibatkan komoditas sulit berkembang dan belum bisa menjadi salah satu penopang ekonomi para petani. Kepala Desa Paoh Benua, Limbai menuturkan, minat warga desanya untuk bercocok tanam sawit secara mandiri masih rendah. Dikarenakan warga di desanya masih belum memiliki pengetahuan dan kemampuan yang cukup untuk memaksimalkan budidaya kepala sawit . Sejauh ini, kata Limbai, di desanya baru terdapat belasan warga yang  bercocok tanam sawit. Namun cocok tanam  tersebut masih sebatas coba-coba saja. "Di Desa Paoh Benua, kalau untuk sawit mandiri masih sedikit. Warga di sini masih belum punya pengetahuan bagaimana cara berbudidaya sawit yang benar. Hanya ada belasan warga yang punya sawit. Itu pun masih coba-coba. Di Paoh Benua, ada sekitar 26 hektare saja," kata Limbai, Jumat (29/11/2019). Selain minimnya pengetahuan dan kemampuan warga bercocok tanam sawit. Persoalan lain yang juga jadi kendala adalah soal pasar yang terbatas untuk menampung hasil produksi kebun sawit warga. Menurut Limbai, di sekitar desanya memang terdapat pedagang pengepul yang bisa menampung tandan buah segar (TBS) dari petani. Akan tetapi harga beli dari pedagang pengepul masih terbilang rendah. "Saya sebanarnya juga punya sawit 2 hektare. Tapi belum pernah saya panen untuk dijual. Di sini kalau mau jual TBS agak susah. PKS (pabrik kelapa sawit) terdekat jaraknya jauh sekali. Kalau mau jual ke pengepul, di desa ada. Tapi harganya rendah dan naik turun. Kami berharap rencana pembangunan pabrik mini kelapa sawit di desa tetangga itu bisa berjalan sehingga para petani tidak kesulitan dalam memasarkan hasil kebun sawitnya." Salah seorang petani sawit mandiri, warga Desa Paoh Benua, Rudi mengatakan, dirinya sudah bercocok tanam sawit sejak 2013 lalu. Namun, kurangnya pengetahuan tentang bercocok tanam sawit membuat tanaman sawit yang telah ia tanam tidak tumbuh dan berkembang dengan baik. "Sawit saya itu sudah 5 tahun. Tapi sampai sekarang belum pernah saya panen. Tanamannya tumbuh tidak bagus dan buahnya tidak banyak. Jadi saya juga malas memanennya dan saya biarkan begitu saja," kata Rudi, Jumat (29/11/2019). Hal senada disampaikan Lazarus, Kepala Desa Sepulut. Dilematika budidaya sawit secara mandiri yang dirasakan warga Desa Paoh Benua, juga dirasakan oleh warganya di Desa Sepulut. Menurut Lazarus, budidaya sawit di desanya terbilang kurang populer. Lantaran, masyarakat desanya masih belum melihat nilai ekonomi dari budidaya sawit. "Selama ini warga terbiasa berbudidaya tanaman karet untuk menopang kebutuhan hidup sehari-hari. Tapi untuk sawit, mereka belum bisa melihat nilai ekonominya. Mungkin karena masih banyak yang gagal," kata Lazarus, Jumat (29/11/2019). Lazarus menjelaskan, ada cukup banyak petani sawit di desanya. Namun para petani sawit mandiri di desanya sangat butuh pendampingan. Karena, pengetahuan warga dalam berbudidaya sawit, baik dari pemilihan bibit, cara memupuk hingga merawat tanaman, masih awam. "Di Sepulut ada lebih dari 40 petani. Tapi kebanyakan masih sekedar mencoba tanam sawit saja. Tapi kalau soal apakah dibilang berhasil. Belum terlihat. Mereka (petani) butuh ada yang mendampingi. Sedangkan penyuluh pertanian juga enggak pernah datang ke desa." Salah seorang warga Desa Sepulut, Bungkin menuturkan, dirinya sudah mencoba bercocok tanam sawit sejak 2014 lalu namun sampai sekarang belum memberi pemasukan ekonomis yang diharapkan. Bungkin merasa ada yang salah dalam budidaya sawit yang telah dia upayakan. Itu tak lain karena kurangnya pengalaman dan pengetahuan tentang cocok tanam sawit. "Luasnya kurang lebih 8 hektare. Saya sudah habis duit sekitar Rp200 juta untuk bikin kebun. Tapi sampai sekarang kebun saya enggak menghasilkan apa-apa. Tolong kami diberi pendampingan. Bagaimana pilih bibit yang baik. Memupuk yang baik dan lain-lain," kata Bungkin, Jumat (29/11/2019).

REKOMENDASI BERITA