Bahaya Timbal Ancam Tempat Bermain Anak DKI Jakarta
BETAHITA.ID | 23/10/2019 13:35
Ruang Publik Terpadu Ramah Anak di Jakarta. Kredit foto: Nexus3 Foundation.
Ruang Publik Terpadu Ramah Anak di Jakarta. Kredit foto: Nexus3 Foundation.
Betahita.id - Peralatan bermain yang dilapisi dengan cat yang mengandung kadar timbal berbahaya menimbulkan risiko keracunan serius bagi anak-anak. Kandungan timbal yang tinggi ditemukan pada peralatan bermain di taman-taman bermain di Jakarta.

Baca juga: Penambangan Emas Ilegal Sebabkan Emisi Merkuri 3.000 Kali di Atas Ambang WHO

Menurut laporan "Timbal dalam Peralatan Bermain di Indonesia", 82 dari 119 atau 69% dari peralatan bermain yang dianalisis, memiliki konsentrasi timbal total di atas 90 bagian per juta (ppm), standar peraturan paling ketat di dunia. Selain itu, peralatan bermain dengan warna cat kuning ditemukan memiliki tingkat timbal yang sangat tinggi, di atas 4.000 ppm.

Kelompok aktifis lingkungan mendeteksi peralatan bermain berlapis cat bertimbal di 20 taman bermain umum dan 12 taman bermain anak usia Taman Kanak-kanak yang berlokasi di lima wilayah DKI Jakarta dengan menggunakan alat analisis X-Ray Fluorescence (XRF).

Titik merah mewakili taman bermain dengan konsentrasi cat bertimbal> 90 ppm dan titik hijau mewakili taman bermain dengan konsentrasi cat bertimbal

Titik merah mewakili taman bermain dengan konsentrasi
cat bertimbal> 90 ppm dan titik hijau mewakili taman bermain dengan konsentrasi cat bertimbal
<90 ppm. Sumber: http://bit.ly/35LDIcq


Penasehat Senior BaliFokus/Nexus, Yuyun Ismawati mengungkapkan temuan baru ini membutuhkan perhatian serius dari pemerintah dalam peralatan bermain yang dicat pada Pekan Internasional Aksi Pencegahan Keracunan Timbal yang didukung Badan Persatuan Bangsa-Bangsa pada tanggal 20-26 Oktober 2019 dengan fokus penghapusan cat bertimbal.

“Tingginya kadar timbal yang terdeteksi pada cat peralatan bermain di luar ruangan sangat mengkhawatirkan dan tidak dapat diterima dari aspek kesehatan. Seiring dengan frekuensi penggunaannya berulang kali serta paparan sinar matahari dan hujan, cat pada permainan akan memudar. Kondisi ini akan menyebabkan cat terkelupas dan bercampur dengan debu dan tanah, yang dapat masuk ke dalam tubuh anak-anak melalui perilaku tangan-ke-mulut,” kata Yuyun Ismawati.

Bekerja sama dengan IPEN, sebuah jaringan global LSM kepentingan publik untuk masa depan yang bebas racun, dimana Nexus3 menjadi anggotanya, para advokat kesehatan lingkungan ini menyoroti mendesaknya pelarangan produksi, penjualan, dan penggunaan cat bertimbal untuk semua penggunaan, terutama untuk dekorasi dan pelapis produk yang dapat mencemari lingkungan anak-anak.

Studi ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai keberadaan cat bertimbal di taman bermain anak-anak dan mendorong pihak yang berwenang untuk mengambil tindakan tegas, termasuk penyusunan peraturan dan perundang-undangan yang mengatur cat bertimbal dan promosi langkah-langkah untuk mengurangi dan mencegah bahaya debu bertimbal ketika peralatan bermain lama yang mengandung timbal direnovasi, dicat ulang, atau diganti.

“Debu dan tanah yang mengandung timbal adalah jalur utama timbal dalam cat berkontribusi terhadap paparan timbal terhadap anak-anak, yang berdampak buruk bagi kesehatan mereka seumur hidup. Temuan dari Nexus3 mendesak percepatan dikeluarkannya peraturan dan perundang-undangan yang mengatur cat bertimbal untuk semua jenis cat di Indonesia. Hal ini penting dilakukan untuk melindungi kesehatan anak-anak dan masa depan mereka,” kata Jeiel Guarino, Juru Kampanye Global Penghapusan Cat Bertimbal IPEN.

Baik Nexus3 maupun IPEN sama-sama mendorong untuk diberlakukannya peraturan wajib yang melarang timbal di dalam cat melebihi konsentrasi timbal total 90 ppm. Angka ini adalah batas konsentrasi protektif yang direkomendasikan dalam Model Law and Guidance for Regulating Lead Paint, yang dikembangkan Global Alliance to Eliminate Lead Paint (GAELP) dan diterbitkan oleh Program Lingkungan PBB.

[caption id="attachment_4208" align="aligncenter" width="652"]Tabel ini menunjukkan distribusi konsentrasi timbal berdasarkan warna dan konsentrasi timbal yang diukur di taman bermain dan taman kanak-kanak di sekitar Jakarta. Tabel ini menunjukkan distribusi konsentrasi timbal berdasarkan warna
dan konsentrasi timbal yang diukur di taman bermain dan taman kanak-kanak di sekitar Jakarta./LaporanBaliFokus[/caption]

Kelompok aktifis tersebut juga merekomendasikan bahwa pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Pusat Pelayanan Terpadu untuk Pemberdayaan Perempuan dan Anak-anak (P2TP2A) dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dan Departemen Pendidikan untuk mempromosikan pengadaan dan penggunaan cat yang aman dari timbal untuk pengecatan dan perawatan peralatan bermain umum, fasilitas, struktur, dan mainan yang ditawarkan kepada anak-anak. Fasilitas mencuci tangan juga perlu disediakan di dalam area bermain anak untuk mengurangi risiko paparan cat bertimbal.

Selain itu, para aktifis juga mendesak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Perindustrian untuk mengatur produksi cat dan perdagangannya, serta menetapkan standar perlindungan kesehatan untuk kandungan timbal di bawah 90 ppm.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), “Paparan timbal mempengaruhi kesehatan manusia, terutama untuk anak-anak. Tidak ada tingkat paparan timbal yang diketahui tanpa efek berbahaya. Bahkan tingkat paparan timbal yang rendah dapat menyebabkan masalah kesehatan seumur hidup.”

“Timbal sangat berbahaya bagi otak anak-anak yang sedang berkembang, dan dapat menyebabkan penurunan tingkat kecerdasan (IQ) dan rentang perhatian, gangguan kemampuan belajar, dan peningkatan risiko masalah perilaku. Dampak kesehatan ini juga memiliki biaya ekonomi yang signifikan bagi negara-negara,” kata WHO.

[caption id="attachment_4213" align="aligncenter" width="630"]Distribusi konsentrasi timbal berdasarkan warna permukaan yang dicat. Laporan BaliFocus Distribusi konsentrasi timbal berdasarkan warna permukaan yang dicat. Laporan BaliFocus[/caption]

Seperti yang dinyatakan oleh Dr. Maria Neira, Direktur Departemen Kesehatan Masyarakat, Penentu Lingkungan dan Sosial Kesehatan WHO, “Cat bertimbal merupakan salah satu sumber paparan timbal yang paling besar pada bayi dan anak-anak. Namun cat bertimbal masih mengintai di rumah, di sekolah dan di mainan-mainan. Melarang cat bertimbal sekarang bisa mencegah paparan di masa depan. Ini adalah investasi yang sangat baik untuk kesehatan Anda, dan kesehatan anak-anak Anda.”

WHO telah memperingatkan bahwa “Paparan timbal pada masa kanak-kanak diperkirakan berkontribusi terhadap sekitar 600.000 kasus baru anak-anak dengan cacat intelektual setiap tahun.”

Para pegiat kesehatan lingkungan menyerukan tindakan segera untuk melarang penjualan dan penggunaan cat bertimbal terutama untuk produk yang dapat membuat anak-anak terpapar kontaminasi timbal. Pemerintahan baru Jokowi harus menegakkan hak-hak ekologis anak untuk memastikan masa depan yang cerah bagi lebih dari 50 juta anak Indonesia.

Kadar timbal yang tinggi tersebut tentu saja memeram potensi bahaya apabila dibiarkan. Agus Haryono, peneliti sekaligus Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), menyebut bahwa timbal memiliki risiko jangka panjang kecacatan pada tulang.

“Bahkan, kalau (masuk ke) darah, nanti sampai janin kalau untuk ibu hamil. Itu anaknya bisa kena dan yang paling banyak bukan cacat badan tapi cacat mental. Bisa juga anaknya tidak berkembang tinggi, yang disebut dengan stunting itu karena paparan logam berat terutama timbal,” ujar Agus seperti dilansir kumparan Selasa, 29 Oktober 2019.

REKOMENDASI BERITA