Laporan IPCC Terbaru: Perubahan Iklim Semakin Ancam Keberlangsungan Peradaban Manusia
BETAHITA.ID | 12/08/2019 10:59
Laporan IPCC Terbaru: Perubahan Iklim Semakin Ancam Keberlangsungan Peradaban Manusia
Para pemuda pegiat lingkungan Greenpeace menuntut perlindungan iklim di Berlin. Dok. Jan Zappner melalui Greenpeace International.
Betahita.id - Ancaman perubahan iklim semakin nyata dan kemampuan Bumi untuk menopang peradaban manusia semakin berkurang akibat naiknya suhu planet beberapa dekade terakhir. Itulah rangkuman dari laporan terbaru Intergovernmental Panel for Climate Change (IPCC) bertajuk "Climate Change and Land", 8 Agustus 2019. Laporan tersebut menggarisbawahi perubahan iklim dan dampaknya terhadap degradasi lahan, keamanan pangan serta emisi gas rumah kaca. Laporan IPCC disusun oleh ilmuwan dari berbagai negara serta berada di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa. Baca Juga: Laporan Terbaru: Dampak Perubahan Iklim Memburuk di Amerika Serikat Kekeringan, erosi atau degradasi lahan, suhu panas, serta kebakaran hutan, adalah beberapa dampak dari memanasnya suhu Bumi. Selain itu, perubahan iklim juga mengurangi hasil pertanian di wilayah tropis dan mencairkan permukaan es di daerah kutub, kata laporan tersebut. Bila dibiarkan terus menerus, peningkatan suhu Bumi akan menyebabkan kondisi iklim yang belum pernah terjadi sebelumnya di negara-negara yang terletak di garis lintang bawah. Hal ini dapat beresiko kelaparan, migrasi, serta konflik dan meningkatnya potensi kerusakan hutan di belahan utara Bumi. Lebih lanjut, laporan ini menyorot sebuah fase kelam yang akan dihadapi oleh umat manusia. Pengrusakan hutan terus menerus serta emisi tinggi dari peternakan dan praktik peternakan hanya akan meningkatkan krisis iklim, sehingga semakin meningkatkan dampak perubahan iklim di Bumi. Salah satu temuan paling nyata dari laporan IPCC adalah hilangnya permukaan tanah yang semakin cepat. Lahan atau tanah, tempat manusia menggantungkan hidupnya, saat ini hilang 100 kali lebih cepat dibandingkan pembentukan tanah di area yang dibajak; serta 10 hingga 20 kali hilang lebih cepat di area yang tidak digarap. Penggunaan lahan menjadi sorotan paling utama dalam laporan tersebut. Menurut IPCC, beberapa dekade terakhir ekpansi penggunaan lahan untuk sektor pertanian, kehutanan, dan penggunaan lainnya telah menyebabkan meningkatnya gas emisi rumah kaca. Penggunaan tersebut secara umum untuk mendukung dan menyediakan pangan bagi populasi manusia yang terus tumbuh. Sebagai contoh, pada periode 2016-2017, sektor pertanian dan kehutanan diperkirakan menyumbang 23 persen dari total emisi gas rumah kaca antropogenik. Laporan  itu juga menyorot meningkatnya total produksi pangan sebesar 240 persen periode 1961-2017. Semua ini berdampak pada penggunaan lahan. Baca Juga: COP24: Masyarakat Sipil Minta Kelapa Negara Serius Tangani Perubahan Iklim Laporan tersebut merekomendasikan pemerintah dan pelaku bisnis untuk mengambil "strong action"dalam mengatasi perubahan iklim. Misalnya, mengakhiri deforestasi dan menanam hutan baru, mereformasi subsidi peternakan, mendukung petani kecil dan membiakkan tanaman yang lebih tangguh. Akan tetapi solusi ini butuh waktu berpuluh tahun, kata laporan tersebut.  

REKOMENDASI BERITA