Paus Biru Betina Berumur 70 Tahun Terdampar di Teluk Kupang, Mati dalam Perjalanan Migrasi
TERASMALUKU.COM | 24/07/2020 14:21
Paus Biru Betina Berumur 70 Tahun Terdampar di Teluk Kupang, Mati dalam Perjalanan Migrasi

Darilaut – Paus biru (Balaenoptera musculus) yang mati terdampar di perairan Teluk Kupang, Nusa Tenggara Timur, memiliki panjang 29 meter dan lingkar badan 17 meter. Diperkirakan paus biru ini berusia 70 hingga 80 tahun.

Satwa yang diduga berjenis kelamin betina itu, ditemukan terdampar di pantai Nun Hila, kawasan Taman Wisata Alam Laut (TWAL) Teluk Kupang, Kota Kupang, Selasa (21/7) sore.

Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam (KSDA) NTT setelah menerima informasi paus terdampar segera berkoordinasi dengan pihak terkait.

Pos Terkait

Kepala Balai Besar KSDA NTT Timbul Batubara bersama tim kemudian langsung menuju lokasi. Tim terdiri dari Unit Penanganan Satwa (UPS) BBKSDA NTT bersama dengan Kepala Seksi Konservasi Wilayah II dan Petugas Resort TWAL Teluk Kupang.
Kemudian, Tim Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi NTT, Polair Polda NTT, Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II (BWS NT II), Kelurahan setempat, dan para pemangku kepentingan lainnya.

Dalam siaran pers PPID-KLHK, Timbul mengatakan, status paus biru dilindungi berdasarkan UU No. 5 tahun 1990, PP 7 tahun 1999 dan Permen LHK No. P.106 tahun 2018. Taman Wisata Alam Laut Teluk Kupang merupakan jalur migrasi cetasea.

Saat ditemukan, kondisi paus biru sudah dalam keadaan mati dan telah memasuki tahap pembusukan awal yang ditandai dengan terciumnya bau busuk.

Penyebab kematian dan terdamparnya paus biru tersebut diduga karena sudah tua dan mati, saat migrasi melintasi perairan Laut Sawu dan Teluk Kupang.

“Untuk menghindari penularan penyakit dan hal-hal yang tidak diinginkan (hilang barang bukti), tim UPS BBKSDA NTT melaksanakan piket di TKP untuk memantau dan mengawasi lokasi di sekitar bangkai paus,” ujar Timbul, Kamis (23/7).

Mengingat air pasang naik disertai angin dan arus cukup kuat, tim berusaha mengikat bangkai paus pada bagian ekor. Meski begitu, tali ikatan terlepas dan bangkai paus hanyut dibawa arus kuat Teluk Kupang ke arah Barat.

Hingga Rabu (22/7) dini hari, tim berusaha melacak keberadaan bangkai paus biru. Namun belum ditemukan.

Saat itu, angin cukup kencang. Pelacakan bangkai paus biru dilakukan dengan menggunakan perahu cepat pada radius terbatas pulau-pulau terdekat.

Akhirnya, pukul 08.15 WITA, Tim UPS BBKSDA NTT menemukan bangkai paus tersebut terdampar di Pulau Semau.

Kepala Balai Besar KSDA NTT bersama Kepala DKP Provinsi NTT dan Kepala BKKPN langsung memantau jalannya upaya evakuasi dari titik penemuan bangkai paus terakhir, untuk digeser pada rencana lokasi penguburan.

Penguburan paus biru di lokasi Air Cina Desa Lifuleo, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang. FOTO: KLHK

Tim UPS BBKSDA NTT dibagi menjadi 2 (dua). Tim pertama, melakukan evakuasi bangkai paus dengan menggunakan perahu/kapal dan excavator. Tim kedua bertugas mempersiapkan lokasi penguburan.

“Selama pelaksanaan evakuasi, kami instruksikan agar Tim BBKSDA NTT memakai APD lengkap untuk menghindari penularan Covid-19,” kata Timbul.

Selanjutnya, tim dokter hewan BBKSDA NTT bersama dengan dokter hewan UPT Veteriner Dinas Peternakan Provinsi NTT melakukan nekropsi untuk mengambil sampel kulit dan pengecekan organ dalam paus.

“Proses penguburan sempat mengalami kesulitan karena besar dan beratnya paus untuk digeser dari pinggiran air laut ke darat yaitu ke tempat galian kubur. Kami juga terkendala cuaca pasang-surut air laut yg tidak mencapai liang kubur,” kata Timbul.

Proses penguburan akhirnya bisa dilakukan pada pukul 14.00 WITA, dengan dihadiri tokoh adat setempat dan pihak terkait. Lokasi tempat penguburan di Air Cina Desa Lifuleo, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang.

Proses penanganan akhir dengan cara dikubur dipilih karena sewaktu-waktu bisa digali dan diambil tulangnya. Tulang ini sebagai bahan penelitian atau replika pengawetan.

DARILAUT.ID


BERITA TERKAIT