Kades Lutpan Budi "Sulap" Sampah Jadi Pupuk Organik untuk Sejahterakan Guru Mengaji
JAMBERITA.COM | 22/01/2020 16:10
Kades Lutpan Budi "Sulap" Sampah Jadi Pupuk Organik untuk Sejahterakan Guru Mengaji

JAMBERITA.COM - Program Inovasi Kepala Desa (Kades) Muaro Lintang Baru, Kecamatan Pendopo Barat (Pobar) Kabupaten Sumatra Selatan (Sumsel) berhasil menyulap sampah sayuran menjadi pupuk organik.

Kades Muaro Lintang Baru Lutpan Budi Purnomo menuturkan, desa yang Ia pimpinan tersebut mempunyai luas wilayah kurang lebih 1086 M2 dengan jumlah penduduk 1256 jiwa yang mata pencariannya mayoritas di sektor pertanian. "Kopi, Lada, dan (ladang) sawah," ujarnya ketika dihubungi jamberita.com melalui telepon genggammya, Selasa (22/1/2020).

Untuk itu Desa Muara Lintang Baru mempunyai Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) Alfasolluh yang mengelola sampah-sampah sayuran menjadi pupuk organik dan telah berdiri sejak tahun 2017 sampai sekarang. "Untuk Gedung Bumdes ini bantuan berasal dari bantuan Pemprov Sumsel melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) di tahun 2017 sekitar Rp500 juta," katanya.

Setelah fisik gedung terbangun lalu dikembangkan lagi pada tahun 2018 sehingga untuk memenuhi alat sarana dan prasarana (Sampras) gedung agar bisa beroperasi sebagaimana yang diharapkan, maka itu dibantu dengan menggunakan dana desa. "Alhamdulillah berkat partisipasi masyarakat Muaro Lintang Baru, kita mendapatkan penghargaan terbaik se-Sumsel," ujarnya.

Alat Sapras pendukung mulai dari alat tulis kantor, kursi, meja, sumur bor, dan mesin penjahit. Dimana anggarannya dibantu oleh Dana Desa, khususnya ditahun anggaran 2017 Desa Muaro Lintang Baru, mendapat Dana Desa itu sekitar Rp700 jutaan.

"Saya dilantik di tahun 2015, itu dana nya sekitar Rp250 juta, di tanun 2016 sekitar Rp400 juta, untuk di tahun 2017 Rp500 juta, dan di tahun 2018/2019 sampai sekarang bertambah, sekitar Rp700 jutaan," kata dia.

Lebih lanjut Budi mengatakan, penggelolaan pupuk organik di Desa itu sampai dengan sekarang terus berjalan yang sasarannya untuk para petani, manfaatnya mulai dari tanaman buah-buahan hingga kopi dan ladah, namun tentunya pasti ada sedikit kendala dilapangkan.

"Alhamdulillah terus berjalan, tapi kami itu terkendala di pemasaran. Kalau untuk sawah kami belum melakukan uji coba, karena bentuknya agak sedikit kasar, kalau tanaman (pertumbuhan) kopi lumayan bagus, kelihatan dari daunnya rata rata bagus," ujarnya.

Saat ini mereka masih menunggu hasil kadar komposisi pembuatan pupuk tersebut dari dinas terkait, karena untuk mendapatkan itu juga, pupuk organik yang dikelola harus dipromosikan dalam kurun waktu setahun berjalan. "Masih dalam proses, kami juga dalam setiap kegiatan pameran dari Provinsi, kita selalu diundang dan mengirimkan peserta untuk memamerkan pupuk organik itu," kata dia.

Pada tahun 2018 Desa Muaro Lintang Baru telah mendapatkan penghargaan Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), karena menurut Budi, penggelolaan sampah menjadi pupuk organik itu hampir Se-Sumsel belum berhasil, kecuali di Pali dan Desa Muaro Lintang Baru. "Kalau Pali memang kami study bandingnya ke Pali," katanya.

Selain terkendala di pemasaran, tentunya kata Budi dengan adanya Bumdes itu pihaknya bisa menyerap tenaga kerja yang setidaknya ada kontribusi ke Pemkab 4 Lawang dalam mengurangi tingkat pengangguran khususnya di Desa Muaro Lintang. "Jumlah warga kita rekrut itu terdaftar sekitar 23 orang, yang aktif sekitar 10 orang. Karena kita di kecamatan ini, sistem pasarnya bukan setiap hari ramai, kecuali di hari Kamis," ujarnya.

Budi mengaku kendala mereka hadapi lainnya, yaitu masalah pengangkutan pupuk atau alat transportasi, jika dianggarkan di Dana Desa itu tidak diperbolehkan karena bukan prioritas, tapi mereka berupaya agar dapat bantuan transportasi dari Pemkab setempat.

"Kami minta bantuan dari kabupaten belum dapat, kata rombongan tenaga ahli dengan teknik, memberikan saran kalau mau beli transportasi itu, itu menggunakan hasil penjualan, tapi belum memungkinkan, karena honor tenaga kerja saja masih dibantu," ujarnya.

Upah tenaga kerja juga tidak bisa dibayarkan dengan menggunakan Dana Desa, melainkan harus menunggu dari hasil penjualan pupuk organik. Tetapi dari program inovasi tersebut, pihak Pemkab Empat Lawang tentu sangat menyambut baik.

"Responnya bagus, tapi (Pemkab) untuk membantu secara penuh, kita kan sudah ada Bumdes, kami juga setiap kali ada pameran di tingkat kabupaten juga terus diikut sertakan. Dipertengahan tahun kemarin ada pelatihan di DLH kami yang jadi narasumber, satu lagi dari Provinsi," ucapnya.

Mereka berharap kepada Pemkab Empat Lawang maupun Gubernur Pemprov Sumsel agar dapat memberikan perhatian lebih kepada Bumdes yang terus berjalan sekarang, namun terkendala persoalan alat transportasi. "Sekarang ini adalah perhatian lebihnya, cuma kendalanya kemarin kami itu, kami dikasih Pemprov bantuan alat transportasi roda tiga, Alhamdulillah. tapi kami itu yang butuh nian itu sebenarnya alat transportasi (mobil/roda empat)," tuturnya.

Satu sisi Budi menyatakan, pihaknya memaklumi jika masih ada kendala bantuan dari pemerintah, karena memang banyak wilayah dan desa desa lainnya yang juga harus diprioritaskan. "Tapi, kalau nggak bisa (mobil/roda empat) yang baru, ya yang Second nggak apa apa," katanya sembari tertawa.

Ke depan untuk di 2020 inovasi terbaru, Budi mengaku telah diundang Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Provinsi Sumsel untuk mendapatkan website desa agar lebih inovatif serta membantu menyampaikan informasi-informasi penting keadaan desa.

"Kemarin saya diundang dari Provinsi bahwa desa kita ini dapat website desa untuk kita menyampaikan informasi keadaan desa, mulai dari kemajuan maupun prestasi desa, 2020 terealisasi. Ya Alhamdulillah lah, kita masih menunggu dari Provinsi," terangnya.

Budi juga tak menapik bukan hanya di Desa Muaro Lintang Baru saja yang melakukan program inovasi dan kreasi, tetapi di Desa masing-masing juga ada. Hanya saja, mungkin masih banyak kendala baik itu alat teknologi informasi dan komunikasi sekalipun jaringan yang kurang memadai. "Se-Kecamatan Pendopo Barat ini hampir semua ada lah, program kreasi masing-masing kan. Tapi maklumlah karena kita ini jauh dari jangkauan Provinsi, harusnya (terpublikasi), makanya kita di kasih Provinsi semacam website desa ini," katanya.

Menariknya, Desa Muaro Lintang Baru juga bukan hanya membuat program inovasi Bumdes pembuatan pupuk organik untuk masyarakat, akan tetapi Kades itu juga merealisasikan Dana Desa dengan mengucurkan anggaran untuk memberikan perhatian kepada guru ngaji.

"Guru ngaji, kita anggarkan dari dana desa, ada sekitar 7 orang yang mengajar ngaji. Karena selama ini tidak ada istilah pembayaran, jadi wajar kita suport biar semangat, agar anak anak di desa bisa belajar mengaji/membaca Al-Qur'an," jelasnya.

Kemudian Budi yang hampir 4 setengah tahun menjabat sebagai Kades Muaro Lintang Baru ini, juga mengaku telah merealisasikan anggarannya dengan membangun infrastruktur desa seperti jalan lingkungan masyarakat, irigasi termasuk membuat sumber air bersih. "Iya kita buat 7 sumur bor, salah satunya untuk mendukung dalam menggelola sampah menjadi pupuk organik," ujarnya.(afm)

JAMBERITA.COM


BERITA TERKAIT