Kisah Mistis di Balik Manik-manik Sebalik Sumpah Suku Anak Dalam
JAMBERITA.COM | 25/10/2019 19:30
Kisah Mistis di Balik Manik-manik Sebalik Sumpah Suku Anak Dalam

JAMBERITA.COM - Mantan Camat Air Hitam sekaligus Pegawai di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sarolangun Jambi Suryadi Yet terus-menerus mempromosikan aksesoris 'Sebalik Sumpah'.

Menurut Suryadi, manik manik Sebalik Sumpah yang kini banyak dijadikan aksesoris disemua kalangan, berupa gelang dan kalung dari orang rimba. Itu diupayakan untuk menjadi Cendramata Terpopuler Dalam Ajang Anugrah Pesona Indonesia 2019.

Baca juga:
Kejari Batanghari Setor Uang Kerugian Negara Rp324, 6 Juta dari Mantan Kades Mato Gual ke Kas Daerah 
Empat Kali Ngamar dengan Janji akan Menikahi, Akhirnya Warga Kota Jambi Ditangkap Polisi 

"Sekarang masuk ke nomor 3 nominasi, mudah-mudahan ini bisa membawa nama baik Sarolangun dan umumnya Provinsi Jambi ke Nasional," ungkapnya saat dikonfirmasi jamberita.com, via telf celulernya, Jum'at (25/10/2019).

Suryadi berharap agar kiranya seluruh masyarakat yang ada di Wilayah Provinsi Jambi dapat memberikan dukungan dengan cara KETIK API 6H KIRIM KE 99386, poling akan ditutup sampai dengan 30 Oktober 2019 mendatang.

"Alhamdulillah untuk penjualan terus meningkat, ada yang jual di Jakos, Muaro Jambi. Pengerajin sendiri gabungan, ada dari masyarakat biasa dan ada memang dari orang rimba Air Hitam, tapi buahnya memang dari orang rimbo," terangnya.

Suryadi menceritakan asal muasal Sebalik Sumpah itu sendiri berawal dari buah Lerok Melong, pada zaman dahulu kala setiap orang rimba yang hendak mandi, itu menggunakan manik manik, namanya ada manik radang dan manik cacing.

"Jadi suatu ketika ada orang rimba yang tidak mempunyai manik-manik itu, maka dipakailah buah (Sebalik Sumpah) itu, baik di leher, tangan, maupun digelangkan di kaki lalu dibawa lah mandi," tuturnya.

Menurut sejarah yang ia peroleh, kata Suryadi, ternyata kalung dileher, ditangan dan di kaki itu, masih dipakai oleh anak orang rimba sampai dengan dia berusia 10 tahun sehingga mendapatkan teguran (dimarah) oleh para tetua orang rimba disana.

"Kau koh, awak lah besak masih makai buah (Sebalik Sumpah) koh, lalu, disumpah matilah (kau) kagek (nanti). Nah sehari sampai dua hari yang menyatakan sumpah itu tadi, malah meninggal," katanya menirukan cerita yang Ia dapat.

Seiring waktu berjalan kurang lebih 7 tahun lalu atas peristiwa itu.

Menurut sejarah dari Temenggung Tarif yang dikenal Haji Jalani, kata Suryadi, siapa yang menggunakan Sebalik Sumpah itu diyakini ketika ada yang memberikan do'a yang kurang baik (menyumpahi) terhadap seseorang, maka sumpah tersebut akan kembali kepada dirinya sendiri.

"Maka dinamai lah buah Lerok Melong itu buah Sebalik Sumpah, selain guna tangkal sumpah, buah itu juga diyakini sama orang rimba untuk menangkal dan jaga diri dari hal hal ghaib, bagi masyarakat umum yang memakainya, itu bagi mereka sebagai lambang persaudaraan," jelasnya.

Dengan adanya ini juga, tentunya dapat mengangkat perekonomian orang rimba.

Akan tetapi, buah tersebut bisa dipanen hanya setahun sekali, terlebih di Air Hitam Kabupaten Sarolangun tumbuhnya di kawasan Taman Bukit 12 dan dibeberapa daerah seperti Kabupaten Muaro Jambi, Batanghari sampai ke Talang Mamak Riau.

"Terkenal itu memang buah Sebalik Sumpah yang ada di Air Hitam, banyak. Makanya yang tahu sejarah soal Sebalik Sumpah hanya orang rimba air hitam lah yang tahu," ujarnya.

Saking giatnya Suryadi memperjuangkan Sebalik Sumpah, Ia pun menyanggupi ketika diposting di media sosial (Medsos) account Facebook pribadinya, itu layaknya memang seperti orang rimba dengan tidak menggunakan baju (pakaian).

Melainkan hanya menggunakan celana, serta mengalungkan, menggelangkan manik manik Sebalik Sumpah serta dengan bahasa bahasa khas yang Ia sampaikan.

"Kenapa seperti itu,? ya karena memang itu lah orang rimba adanya, natural. Karena memang dia tidak menggunakan baju, mereka menggunakan baju itu ketika mereka keluar dari permukiman saja," tandasnya.(afm)


BERITA TERKAIT