18 Ribu Warga di Enam Desa di Gunungkidul Hadapi Krisis Air
KRJOGJA.COM | 01/08/2018 11:20
18 Ribu Warga di Enam Desa di Gunungkidul Hadapi Krisis Air

GUNUNGKIDUL, KRJOGJA.com - Sedikitnya 4.289 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 18.000 warga yang tersebar di 6 desa di Kecamatan Panggang, mengalami krisis air. Ribuan jiwa tersebut kini hanya mengandalkan droping air baik dari BPBD Gunungkidul maupun dari kecamatan. Namun kiriman air dari pemerintah tersebut jauh dari harapan warga, karena banyaknya warga yang harus dilayani.

Camat Panggang Ag Gunawan SSos MM mengatakan tangki yang dikelola Kecamatan Panggang untuk melayani kebutuhan air di Desa Girimulyo, Giriwungu, Girikarto dan Giriharjo. Sementara BPBD melayani Girisekar dan Giriwungu. Setiap tangki dalam sehari rata-rata hanya droping 4 kali.

Baca juga :

Gempa 4,3 SR Guncang Gunungkidul

Produksi Ubikayu Gunungkidul Turun 60 Persen

Pelayanan yang dilakukan Kecamatan meliputi 18 padukuhan di 4 desa, sementara satu tangki dalam sehari hanya 4 kali, maka dalam satu minggu hanya bisa melayani 28 kali. Sehingga satu dusun hanya bisa dilayani dua minggu sekali atau 10 hari sekali.

Dijelaskan selama musim kemarau ini alokasi dana untuk droping air di Kecamatan Panggang sebesar Rp 98.575 .000, yang digunakan sejak 2 Juni 2018 hingga akhir Oktober 2018. Hingga saat ini sudah melakukan droping sebanyak 294 tangki. “Mudah-mudah Oktober sudah hujan sehingga dana yang tersedia cukup,” ujar Ag Gunawan.

Camat Panggang memahami jika pelayanan air yang dilakukan belum bisa memenuhi kebutuhan seluruh warga dan setiap hari, karena keterbatasan armada dan biaya. Untuk itu droping air ini diprioritaskan untuk warga kurang mampu. Sedangkan bagi warga yang mampu masih bisa membeli dari tangki swasta.

Dikatakan sebagian warga di Kecamatan Panggang sudah mendapatkan jaringan dari PDAM Tirta Handayani. Namun sejak memasuki kemarau ini, pasokan air dari PDAM sering macet, atau hanya digilir beberapa hari sekali, sehingga banyak warga yang kesulitan air.

Kepala Desa Girisekar, Panggang Sutarpan SIP yang ditemui terpisah, membenarkan bahwa warga yang sudah berlangganan air PDAM sering tidak mendapatkan pasokan dan sering macet. Sementara warga yang sama sekali belum terjangkau pipa air PDAM meliputi Dusun Krambil, Pijenen, Warak dan sekitarnya.

Mereka ini dilayani dari BPBD. Namun setiap KK paling hanya mendapatkan air 1 pikul. Lainnya terpaksa harus membeli dari tangki swasta dengan harga Rp 150.000 pertangki. “Setiap keluarga dalam sekali droping rata-rata hanya mendapatkan jatah 1 pikul air atau kurang lebih 40 liter yang hanya digunakan untuk memasak ,” ujar Sutarpan. (Awa)

KRJOGJA.COM


BERITA TERKAIT