Diintimidasi Satpol PP Soal Pengadaan Seragam Sekolah, Wali Murid Lapor Polisi
KRJOGJA.COM | 03/10/2022 09:39
Diintimidasi Satpol PP Soal Pengadaan Seragam Sekolah, Wali Murid Lapor Polisi
Ilustrasi tawuran/perkelahian pelajar/kekerasan di sekolah. Shutterstock

Krjogja.com - KULONPROGO - Salah satu wali murid SMA Negeri 1 Wates yang juga pegawai Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Dispetarung) Kulonprogo, Agung Purnomo mengaku diintimidasi dan disekap oleh oknum Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di Kantor Satpol PP setempat, Kamis (29/9).

Tidak terima, Agung Purnomo dengan didampingi kuasa hukumnya dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta melapor ke Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Peristiwa tersebut diduga dipicu karena Agung Purnomo bersama sejumlah wali murid SMAN 1 Wates aktif mempertanyakan masalah pengadaan seragam di sekolah yang harganya mahal tapi tidak sebanding dengan kualitas. 

Dugaan tindak intimidasi diawali saat, Agus Purnomo tiba-tiba dihubungi dan diminta datang ke Kantor Satpol PP Kulonprogo. Waktu itu, Agung berpikiran 'undangan' untuk berkoordinasi terkait tugas kepegawaian di daerah, tapi ternyata tidak. "Semacam upaya pembungkaman," jelas Agung Purnomo usai melapor ke Polda DIY, Sabtu (1/10). Dirinya juga mengaku telah meminta perlindungan kepada LBH Yogyakarta.

Kasat Pol PP Kulonprogo, Sumiran membantah adanya intimidasi dan penyekapan yang dilakukan anak buah di ruang kerjanya. "Yang ada klarifikasi dan sudah rampung," ujarnya.

Kasek SMAN 1 Wates, Aris Suwasana membenarkan 'pertemuan' di Kantor Sat Pol PP. "Pengadaan seragam menjadi kewenangan POT dan seragam menjadi hak orang tua," jelasnya.

Agung mengungkapkan kronologis kejadian. Setelah menerima telpon dari oknum Sat Pol PP, dirinya datang bertemu oknum Satpol PP Kulonprogo, berinisial AR. Kemudian langsung dibawa masuk ruangan Kasat Pol PP dan dalam ruangan sudah ada Kasat Pol PP setempat, Sumiran. Kemudian datang Kepala Sekolah SMAN 1 Wates, Aris Suwasana didampingi Waka Sarpras dan Waka Kesiswaan. Disusul Komite SMAN 1 Wates, Sardji yang juga menjabat Sekretaris DPRD Kulonprogo. Kemudian, menyusul dua perwakilan Paguyuban Orang Tua (POT).

"Mereka menginterogasi saya. Mengapa kamu mempertanyakan pengadaan seragam," ungkap Agung menceritakan seraya menambahkan dalam interogasi tersebut, paling banyak berperan adalah AR. Sedangkan lainnya hanya ikut menambahi.

Dalam 'pertemuan' Agung mencoba menjelaskan. Sebagai wali murid, dirinya berhak bertanya soal pengadaan seragam di sekolah yang menurutnya harganya mahal tapi tak sebanding dengan kualitasnya. Pihak sekolah menganggap Agung pembuat gaduh.

Kuat dugaan pemanggilan Agung ke Kantor Satpol PP sudah dirancang. Tujuannya, agar dirinya diam dan tidak melaporkan dugaan masalah tersebut. Menurut Agung, kalau memang pengadaan seragam itu sesuai mekanisme dan aturan mestinya pihak sekolah tidak takut. Ironisnya pernyataannya justru membuat sejumlah orang yang ada di ruangan panas. Bahkan ada yang melontarkan kalimat terkesan mengintimidasi.

Di tengah suasana memanas, Komite SMAN 1 Wates, Sarji menengahi. "Pak Sardji menyampaikan, jangan begitu. Kami butuh info dari Pak Agung. Jika penyelesaian seperti ini saya juga tidak mau. Dia (Sardji-Red.) melindungi dan menolong saya," jelas Agung.

Berkat Sarji akhirnya Agung diberi jalan keluar dari ruangan dan pergi. Sebelumnya, Agung menjabat tangan semua orang yang ada di ruangan agar suasana adem. "Setelah lewat pintu ruangan, saya langsung lari," kata Agung.

Merasa terintimidasi, Agung pun meminta perlindungan LBH Yogya kemudian melapor ke Polda DIY. Informasinya, selain dilaporkan ke Polda DIY, kasus seragam tersebut juga sudah sampai ORI DIY dan Inspektorat Daerah serta Dinas Pendidikan Menengah DIY. 

 

**


BERITA TERKAIT