Lima Desa di Sukoharjo Rawan Kebakaran Hutan
KRJOGJA.COM | 13/08/2022 19:48
Lima Desa di Sukoharjo Rawan Kebakaran Hutan
Luas Kebakaran Hutan 2019 Diperkirakan Dua Kali Lipat Angka Resmi

SUKOHARJO, KRJOGJA.com – Lima desa masuk wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi kering setelah lama tidak hujan membuat pemantauan semakin diintensifkan. Warga disekitar hutan dan lahan diminta tidak melakukan aktivitas pembakaran untuk meminimalisir kejadian kebakaran.


Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo Sri Maryanto, Sabtu (13/8) mengatakan, berdasarkan pemetaan BPBD Sukoharjo diketahui ada lima desa dari total 150 desa di Kabupaten Sukoharjo masuk desa dengan tingkat kebakaran karhutla paling tinggi. Kelima desa tersebut dalam kondisi sangat kering saat musim kemarau. Kerawanan kebakaran didukung dengan luasan hutan dan lahan yang ada di lima desa tersebut.

BPBD Sukoharjo mencatat kelima desa tersebut yakni, Desa Tawang Kecamatan Weru, Desa Gentan Kecamatan Bulu, Desa Malangan Kecamatan Bulu, Desa Karangasem Kecamatan Bulu, Desa Lorog Kecamatan Tawangsari. Kelima desa tersebut mendapat pemantauan ketat dari petugas.

“Lima desa masuk wilayah dengan tingkat kerawanan paling tinggi terkait kebakaran karhutla. Kelima desa memiliki karakteristik hutan dan lahan luas serta kondisi kering saat kemarau,” ujarnya.

BPBD Sukoharjo bersama petugas terkait lain dan melibatkan camat dan kepala desa di lima desa aktif memberikan sosialisasi dan edukasi kepada warga masyarakat setempat. Salah satu penekanannya yakni terkait larangan melakukan aktivitas pembayaran disekitar hutan dan lahan.

Larangan tersebut ditegaskan Sri Maryanto lebih spesifik yakni terkait aktivitas membakar sampah dan daun kering. Kondisi hutan dan lahan kering serta angin kencang dikhawatirkan berdampak pada kerawanan kebakaran.

BPBD Sukoharjo melihat setelah mendapatkan sosialisasi dan edukasi, sudah banyak warga yang paham. Hal ini ditunjukan dengan semakin berkurangnya aktivitas membakar sampah dan daun kering di hutan dan lahan.

“Pencegahan lebih efektif. Apabila terjadi kebakaran karhutla maka proses penanganannya lebih sulit karena butuh akses ke dalam hutan dan lahan,” lanjutnya.

Sri Maryanto mengatakan, wilayah rawan kebakaran karhutla didominasi di wilayah selatan Kabupaten Sukoharjo meliputi Kecamatan Tawangsari, Weru dan Bulu. Ditiga kecamatan tersebut masih banyak ditemukan hutan dan lahan. Selain itu juga karakteristik wilayah kering saat musim kemarau.

“Ada 22 desa di Kecamatan Tawangsari, Weru dan Bulu masuk wilayah dengan tingkat kebakaran karhutla sedang dan 10 desa tingkat kebakaran karhutla rendah,” lanjutnya.

Upaya menekan kasus kebakaran karhutla juga dilakukan BPBD Sukoharjo bersama pihak terkait lain dengan penanaman pohon dalam program penghijauan. Pohon yang sudah mati diganti baru, selain itu hutan dan lahan kosong juga dilakukan penanaman ulang. Hal ini dilakukan agar kondisi hutan dan lahan tidak kering dan tetap hijau untuk memenimalisir kekeringan yang berdampak pada tingginya kerawanan kebakaran.

“Khusus untuk hutan dilakukan bersama pihak yang berwenang. Sedangkan lahan karena banyak milik perorangan maka penghijauan dilakukan dengan warga tersebut,” lanjutnya.

Kepala Bidang (Kabid) Pemadam Kebakaran (Damkar) Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Sukoharjo Margono, mengatakan, ada peningkatan kasus kebakaran di musim kemarau ini. Kebakaran terjadi baik di pabrik sampai pekarangan atau kebun. Masyarakat diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kasus kebakaran mengingat kondisi kering akibat cuaca panas.

Damkar Satpol PP Sukoharjo terkait kewaspadaan kasus kebakaran sudah melakukan koordinasi dengan camat dan pihak terkait. Selain itu juga telah diedarkan surat edaran resmi kepada camat yang nantinya bisa diteruskan sampai ke pemerintah desa dan kelurahan hingga RT dan RW.

Isi surat edaran tersebut menitikberatkan terkait bentuk kewaspadaan kebakaran ditengah musim kemarau. Salah satu bentuk kewaspadaan tersebut seperti tidak membakar sampah dan meninggalkan sumber api masih menyala tanpa pengawasan. Hal ini dikhawatirkan bisa memicu kasus kebakaran mengingat api dapat merembet ditengah kondisi lingkungan kering akibat cuaca panas. Api juga dapat dengan cepat membesar dampak angin kencang.

Kewaspadaan lain juga dilakukan dengan mengecek sumber api lain yang bisa memicu kebakaran seperti kompor dan tungku pembakaran serta oven kayu. Margono menegaskan, sumber api harus dipastikan sudah padam.

Damkar Satpol PP Sukoharjo juga sudah memberikan imbauan kepada pelaku usaha seperti pemilik pabrik untuk mewaspadai kasus kebakaran. Salah satu bentuknya yakni dengan mengecek instalasi listrik seperti penggunaan kabel sesuai standar, dan sumber kerawanan kebakaran lainnya. Pemilik usaha dan industri juga wajib menyediakan alat pemadam kebakaran ringan serta memiliki petugas sendiri yang sudah dilatih.

Terkait hal ini diharapkan para camat, kepala desa dan lurah bisa membantu memberikan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, pelaku usaha dan industri. Sebab membakar sampah sudah seperti menjadi kebiasaan sebagian masyarakat. Selain itu juga penggunaan kabel listrik yang kurang dicek kelayakannya sering ditemukan dan jadi sumber kebakaran.

“Kondisi sekarang kering karena sudah kemarau. Di wilayah selatan Kabupaten Sukoharjo seperti Kecamatan Tawangsari, Weru dan Bulu rawan kebakaran kebun, pekarangan dan hutan. Sedangkan di wilayah lain juga rawan kebakaran karena banyak rumah, tempat usaha dan industri. Jangan membakar sampah dan meninggalkan sumber api penyebab kebakaran. Juga pastikan dicek kelayakan kabel listrik untuk menghindari korsleting,” ujarnya.

 

**


BERITA TERKAIT