Empat Tahun Kedaluwarsa, Penyedap Rasa Masih Dipasarkan
KRJOGJA.COM | 12/05/2021 11:24
Empat Tahun Kedaluwarsa, Penyedap Rasa Masih Dipasarkan
Warga berbelanja kebutuhan pangan di salah satu Pasar Tradisional, Bandung, Jawa Barat, Rabu 20 Mei 2020. Warga mulai ramai berbelanja langsung di sejumlah pasar tradisional di Kota Bandung guna menambah stok kebutuhan pangan jelang Lebaran meskipun masa PSBB Kota Bandung diperpanjang hingga 29 Mei 2020. ANTARA FOTO/Novrian Arbi

KARANGANYAR, KRJOGJA.com – Tim inspeksi mendadak menemukan penyedap rasa buatan pabrik yang kedaluwarsa sejak 2017, masih ditawarkan di sebuah warung di Pasar Karangpandan. Mereka juga mendapati berbagai obat keras bebas diperjual belikan di kios sayuran.

“Di dinding kios tergantung berbagai merek penyedap rasa pabrikan. Ada satu renteng isi 25 saset. Semuanya sudah kedaluwarsa. Tanggal kedaluwarsa pada 2017 lalu,” kata Kasi Kefarmasian Makanan, Minuman dan perbekalan Kesehatan DKK Karanganyar, Sutopo Edy Antoro usai sidak, Senin (10/05/2021).

Mendapati barang berbahaya itu, petugas langsung menyitanya. Penjualnya juga diberi teguran keras. Meski, ia berdalih penyedap rasa ukuran saset itu titipan sales,

“Akan dimusnahkan barangnya. Kalau konsumen tidak teliti, bisa dibeli. Kalau dimasak, risiko keracunan,” katanya.

Tak hanya itu hasil sidak tim gabungan dari Dinas Kesehatan kabupaten (DKK) Karanganyar, Balai Pengawas Obat dan Makanan Jateng, kepolisian, Dinas Perizinan serta Dinas Perdagangan di Pasar Karangpandan.

“Tim menindaklanjuti temuan pada tahun lalu. Apakah di tahun ini penjualnya sudah membaik. Tidak mengulangi lagi ataukah malah lebih parah? Ternyata nama-nama yang di daftar pengawasan, sudah berjualan lebih baik. Tidak melanggar ketentuan. Namun kami justru menemukan kasus baru di sekitarnya,” katanya.

Di Pasar Jungke, tim sidak pangan mendapati kue dalam kemasan berjamur dan rusak. Meski tidak banyak, namun penjualnya ditegur. Mereka diminta mengembalikannya ke suplier supaya ditukar dengan barang yang lebih baik. Lalu ditemukan teri nasi berformalin, kerupuk gado-gado mentah warna merah mengandung rodhamin B.

“Pembeli jangan terkecoh dengan warna mencolok. Bisa jadi itu modus. Kandungannya berbahaya. Perhatikan pula apakah produk itu punya izin edar dan masa kedaluwarsanya masih panjang,” katanya.

Sedangkan di Pasar Karangpandan, tim mendapati pedagang sayur menjual obat keras. Obat-obatan ini seharusnya tidak dijual bebas. Pasien yang mengonsumsinya harus dengan resep dokter. Pedagangnya didata kemudian tim akan melacak distributor obat yang dijual secara ilegal itu.

“Saya kira penjualan semacam ini marak. Sebab sering ditemukan di pasar-pasar. Obat keras itu ada logo K di bulatan warna merah,” katanya.


BERITA TERKAIT