13 Februari, Mataram Pecah Melalui Perjanjian Giyanti 265 Tahun Lalu
KRJOGJA.COM | 13/02/2020 14:41
13 Februari, Mataram Pecah Melalui Perjanjian Giyanti 265 Tahun Lalu

YOGYA, KRJOGJA.com – Perjanjian Giyanti merupakan kesepakatan antara VOC, Surakarta, dan Yogyakarta. Perjanjian itu disepakati pada 13 Februari 1755. Perjanjian ini membuat Kerajaan Mataram terpecah belah.

Dikutip dari Wikipedia, pihak Kesultanan Mataram yang diwakili oleh Sunan Pakubuwana III, dan kelompok Pangeran Mangkubumi. Kelompok Pangeran Sambernyawa tidak ikut dalam perjanjian ini. Demi keuntungan pribadi, Pangeran Mangkubumi memutar haluan dengan menyeberang dari kelompok pemberontak ke kelompok pemegang legitimasi kekuasaan untuk memerangi pemberontak, yaitu Pangeran Sambernyawa.

Berdasarkan perjanjian ini, wilayah Mataram dibagi menjadi 2. Wilayah di sebelah timur Sungai Opak (yang melintasi daerah Prambanan sekarang) dikuasai oleh pewaris takhta Mataram, yaitu Sunan Pakubuwana III, dan tetap berkedudukan di Surakarta.

Sementara wilayah di sebelah barat (daerah Mataram yang asli) diserahkan kepada Pangeran Mangkubumi yang sekaligus diangkat menjadi Sultan Hamengkubuwana I yang menetap di Yogyakarta.

Nama Giyanti diambil dari lokasi penandatanganan perjanjian tersebut, yaitu di Desa Giyanti (ejaan Belanda) yang sekarang terletak di Dukuh Kerten, Desa Jantiharjo, sebelah tenggara Karanganyar, Jawa Tengah.

KRJOGJA.COM


BERITA TERKAIT