Klitih Rugikan Branding Pariwisata Yogyakarta, PHRI DIY: Semua Hancur karena Ulah Klitih
KRJOGJA.COM | 07/02/2020 20:01
Klitih Rugikan Branding Pariwisata Yogyakarta, PHRI DIY: Semua Hancur karena Ulah Klitih

BANTUL, KRJOGJA.com – Aksi kekerasan jalanan yang dilakukan sekelompok anak muda di beberapa kawasan DIY efektif mengganggu aktivitas pariwisata DIY. Bahkan stigma klithih ini membuat kompetitor wisata dari luar DIY seolah membranding bahwa Jogia tidak aman. Kondisi ini rentan menurunkan minat berwisata ke DIY.

“Sangat miris kami ketika para kompetitor destinasi wisata di luar DIY saat ini membranding bahwa DIY tidak aman karena kasus klitih .Sementara kami branding Jogja dengan susah payah sebagai destinasi wisata yang nyaman huni, murah menyenangkan, menarik dan sebagainya hancur karena ulah klithih,” kata ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono kepada KRJOGJA.com, Kamis (6/2) saat ditemui di Bantul.

Tak hanya itu saja, imbuh Deddy, banyak pula keluhan yang masuk dari orangtua yang sebelumnya berencana menyekolahkan anak di Jogja menjadi berpikir ulang dan khawatir dengan aksi klitih Sebagai solusi pelaku pariwisata sendiri yang mengkondisikan dan membuat wisatawan tidak takut pada Jogja.

“Biasanya kami beri fasilitas bonus paket jalan-jalan malam hingga pukul 01.00 dinihari ke angkringan atau pusat keramaian. Kadang ada biro perjalanan yang menyediakan jalan-jalan mengendarai motor bukan mobil supaya mereka wisatawan itu paham sendiri bahwa Jogja aman pada malam hari,” kata Deddy.

Pasca wisatawan menikmati suasana tersebut, pihaknya meminta wisatawan menyampaikan pengalaman dan tanggapan positif tentang Jogja ke medsos utamanya bahwa kesan soal Jogja yang aman. “Beberapa kali kami buatkan konten untuk diviralkan di medsos dan dikirim ke travel travel agen serta pelaku industri pariwisata,” tambah Deddy lagi.

PHRI, imbuh Dedy juga bekerjasama dengan kepolisian misalnya Polsek Gondowulung melakukan diskusi dan langkah antisipasi. Kami ajak wisatawan melihat langsung patroli polisi. Kerjasama dengan Polda juga intensif dilakukan.

“Kami desak kepolisian menindaktegas pelaku klithih. Solusi riil hanya dibuat efek jera dengan menindaktegas mereka pelaku sesuai UU yang ada. Kendala selama ini ketika ditangkap dan pelaku dibawah umur terkesan diampuni. Kadang-kadang kita gemas mendapatkan laporan laporan pelaku sudah ditangkap oleh massa kemudian diserahkan ke kantor polisi malah dilepaskan lagi. Alasannya belum melakukan tindak pidana. Padahal. Sudah jelas jelas ia ditangkap membawa pedang,” kata Deddy. (Aje)

KRJOGJA.COM

 

BERITA TERKAIT