Mahasiswa Korban Salah Tangkap Dianiaya, Kapolresta Yogyakarta Sebut Faktor Emosional
KRJOGJA.COM | 31/12/2019 13:30
Mahasiswa Korban Salah Tangkap Dianiaya, Kapolresta Yogyakarta Sebut Faktor Emosional
Halimi Fajri saat menunjukkan surat pelaporan ke Polda DIY. (Foto: Harminanto)

YOGYA, KRJOGJA.com - Kapolresta Yogyakarta Kombes Polisi Armaini angkat bicara terkait dugaan kekerasan dan salah tangkap yang dilakukan anggotanya pada seorang mahasiswa bernama Halimi Fajri (19) asal Desa Sukaraja Kecamatan Karangjaya Musi Rawas Utara Sumatera Selatan. Menunggu hasil pemeriksaan Polda DIY, Kapolresta menyatakan kesiapan menjalankan mekanisme hukuman bila memang anggotanya terbukti melakukan kesalahan prosedur. 

BACA: Sempat Dipukuli, Mahasiswa di Yogya Jadi Korban Salah Tangkap Polisi

Kepada wartawan Senin (30/12/2019), Kapolresta mengungkap ada mekanisme tersendiri apabila ada anggota yang melakukan kesalahan prosedur saat penyidikan. Menurut dia, Polresta siap mengikuti tahapan tersebut lantaran laporan dugaan penganiayaan dan perampasan kemerdekaan sudah masuk ke Polda DIY sejak 27 Desember 2019 lalu. 

“Dugaan penganiayaan, kalau memang dia lapor kita tunggu hasil pemeriksaan Polda. Kalau memang ada kesalahan prosedur ada mekanisme tersendiri. (Dia menyebut tak ada surat penangkapan langsung dibawa), kita tunggu pemeriksaan hasil Polda. Kita tunggu, kalau memang ada kesalahan prosedur dalam penyelidikan maka ada mekanismenya,” ungkap Armaini. 

Masyarakat menurut dia tak perlu resah lantaran saat ini proses berjalan terbuka dan media menjadi salah satu sarana menyampaikan aspirasi. Polri menurut dia tak membiarkan anggotanya melakukan kekerasan dalam penegakan hukum. 

“Nanti hasil proses (mekanisme pemeriksaan) itu akan disampaikan pada kita, untuk anggota yang melakukan kesalahan prosedur ada punishment. Kasus itu (perampokan rumah kosong) sudah dirilis, masyarakat boleh melapor, nanti akan ditindaklanjuti. Kalau ada pelanggaran prosedur ada tindakan dari kita terhadap anggota kita. Prinsipnya, yang namanya Polri kita prinsipnya menghindari kekerasan sifatnya eksesif. Tujuan kita dalam rangka penegakan hukum, menciptakan keamanan masyarakat yang ditimpa kejahatan. Namun kita menyadari dalam langkah ada kelalaian petugas, di luar kewenangan, mungkin sedikit berlebihan karena faktor emosional maka terjadilah hal itu. Namun kami dari Polri tak membiarkan hal itu terjadi, kalau benar terjadi itu jadi koreksi kita agar lebih baik kedepan,” tegas Armaini. 

BACA: Jadi 'Trending Topic' di Pati, Kapolres Merasa Beruntung

Sebelumnya diberitakan mahasiswa Halimi Fajri (19) mengalami kekerasan saat ditangkap atas dugaan perampokan rumah kosong. Namun lantaran tak terlibat, Halimi dibebaskan begitu saja setelah sempat mendapat kekerasan saat diinterogasi. 

Halimi berharap polisi bisa memulihkan kehormatannya dan segera mengembalikan barang-barang yang disita saat pemeriksaan. Hingga Senin (30/12/2019), Halimi masih menunggu kinerja Polda DIY yang sudah dilaporinya sejak 27 Desember lalu, dua hari pasca penangkapan di kawasan Jalan Melati Wetan. (Fxh)

KRJOGJA.COM


BERITA TERKAIT