Darurat Sampah di Kabupaten Magelang, Tinggi Gunungan Sampah Sampai 10 Meter
KRJOGJA.COM | 18/12/2019 17:07
Darurat Sampah di Kabupaten Magelang, Tinggi Gunungan Sampah Sampai 10 Meter

MAGELANG, KRJOGJA.com - Wakil Bupati Magelang, Edi Cahyana menyoroti persoalan pengelolaan sampah diwilayahnya. Disampaikan jika saat ini wilayahnya sudah darurat sampah.

"Jadi TPA (Tempat Pembuangan Akhir) kita sebenarnya sudah tidak layak. Sampai saat ini kalau tidak salah tingginya sudah mencapai lebih dari 10 meter. Dari kantor pemerintah daerah saja, kalau ada angin sudah mulai bau," kata Edi Cahyana, saat membuka Rapat Kerja Kesehatan Daerah (Rakerkesda) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Magelang Tahun 2019, di Atria Hotel, Selasa (17/12/2019).

BACA: PLN Pastikan Tak Ada Pemadaman Selama Nataru

Sementara untuk membangun sebuah TPA baru, menurut Edi, bukanlah suatu perkara yang mudah. Pasalnya, ada persyaratan yang harus berjarak minimal 1 kilo meter dari rumah atau permukiman penduduk. "Cari lokasi seperti itu di Magelang sudah tidak ada," katanya.

Menurutnya, persoalan yang selama ini terjadi adalah hanya memindah sampah saja. Oleh sebab itu sangat diperlukan pengolahan sampah yang signifikan dengan sistem 3R (reduce, reuse, dan recycle).

Dikatakan, jika di kota tetangga (Kota Magelang, red), setiap tahun bisa mendapatkan penghargaan Adipura, namun demikian Kabupaten Magelang yang menjadi korban karena keberadaan sampahnya hanya berpindah di Kabupaten Magelang yang akhirnya menimbulkan masalah.

"Tentunya pengelolaan sampah tidak seperti itu. Tetapi bagaimana kita mempunyai TPA, kemudian mengelola sampah organik dan non organik sehingga tidak menimbulkan masalah," tegas Edi.

Terkait masalah tersebut, Edi juga sangat mengapresiasi dengan keberadaan bank sampah selama ini di Kabupaten Magelang. Pihaknya akan terus mendorong konsistensi bank sampah untuk mengelola sampah di Kabupaten Magelang.

Edi mengatakan bahwa, keberadaan bank sampah di Kabupaten Magelang masih perlu didorong dan ditingkatkan kembali karena masih 'hangat-hangat tai ayam'. "Jadi kalau awal-awal begitu semangatnya, tiga bulan kemudian saya datangi sudah tampak bosan atau jenuh. Lalu lima bulan kemudian saya datangi lagi sudah tidak ada," kata Edi. (Bag)

KRJOGJA.COM


BERITA TERKAIT