Kasus HIV / AIDS Ibu Rumah Tangga Melonjak, Mengapa?
KRJOGJA.COM | 10/12/2019 18:07
Kasus HIV / AIDS Ibu Rumah Tangga Melonjak, Mengapa?

JAKARTA, KRJOGJAcom - Kasus penularan  HIV/AIDS ke ibu rumah tangga terus meningkat,ada 16.844 , ibu rumah tangga yang terkena HIV dan AIDS. Karena itu, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) kembali mengingatkan ancaman HIV/AIDS di Indonesia.

Demikian Plt Direktur Kesehatan Reproduksi BKKBN, Widwiono,di Jakarta Senin (9/12 2019) pada seminar nasional peringatan Hari AIDA Sedunia di Kantor BKKBN. Dia menjelaskan para ibu rumah tangga ini  tertular dari pasangan resmi atau suami.  Kemudian ibu rumah tangga yang positif ini akan berpotensi menularkan pada bayinya apabila tidak terdeteksi sejak awal dan dilakukan upaya pencegahan.

BACA: 217 Orang Meninggal Dunia Pati Rawan HIV Aids

"Penyebaran HIV saat ini tidak hanya menyerang orang berperilaku risiko tinggi, melainkan juga kepada ibu rumah tangga yang aktifitasnya banyak di rumah mengurus anak-anak, namun tertular oleh suami mereka sendiri yang melakukan hubungan seksual tidak aman atau memakai jarum suntik tidak steril. Dari ibu yang tidak tahu apa-apa akan menularkan kepada bayinya. Inilah yang menjadi salah satu penyebab meningkatnya kasus HIV di Indonesia.Ujarnya.

Hari AIDS Sedunia yang diperingati setiap tanggal 1 Desember tidak hanya bersifat seremonial, namun untuk mengingatkan semua pihak dan masyarakat bahwa HIV/AIDS belum hilang bahkan akan terus mengalami peningkatan jika tidak diatasi bersama sedini mungkin. Karena itu momentum peringatan Hari AIDS tahun ini juga sekaligus dijadikan sebagai bentuk solidaritas kepada orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

Dengan kegiatan peringatan Hari AIDS Sedunia tahun ini diharapkan bisa meningkatkan kesadaran, kepedulian dan keterlibatan seluruh masyarakat dalam mencegah dan menanggulangi HIV/AIDS untuk mencapai target three zero pada 2030 nanti. Tiga target tersebut yaitu tidak ada lagi penularan HIV, tidak ada lagi kematian akibat AIDS, dan tidak ada lagi stigma atau diskriminasi pada ODHA.

Menurut Widwiono, penyebaran HIV/AIDS di Indonesia saat ini semakin memprihatinkan sehingga memerlukan perhatian dari lintas sektor. Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan RI Triwulan II tahun 2019 secara kumulatif terdapat 117.064 kasus AIDS dan 349.882 kasus HIV positif. Faktor risiko penularan HIV terbanyak adalah melalui hubungan seks berisiko pada heteroseksual (70.2%), pengguna jarum suntik atau penasun (8.2 %), homoseksual (7%), dan penularan melalui perinatal (2.9%). Ada lima provinsi di Indonesia tertinggi kasus HIV yaitu DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Papua dan Jawa Tengah. Sedangkan lima provinsi dengan jumlah AIDS terbanyak yaitu Papua, Jawa Timur, Jawa tengah, DKI Jakarta dan Bali. (Ati)

KRJOGJA.COM


BERITA TERKAIT