Angka Perceraian Tinggi di Gunungkidul, Sertifikasi Menikah bisa Menekan Kasus Cerai?
KRJOGJA.COM | 03/12/2019 15:21
Angka Perceraian Tinggi di Gunungkidul, Sertifikasi Menikah bisa Menekan Kasus Cerai?
Ilustrasi perceraian. Guardian.co.uk

WONOSARI, KRJOGJA.com - Wacana pemberian sertifikasi bagi pasangan yang nikah di Kabupaten Gunungkidul diharapkan dapat
menekan angka perceraian yang tahun ini dinilai cukup tinggi mencapai 1.490 dengan gugatan sebanyak 1.059 dan talak sebanyak
431 kasus. Jumlah ini meningkat dibanding tahun sebelumnya yang hanya mencapai sebanyak 1.070 perkara cerai gugat.

"Upaya menekan angka perceraian terus kita lakukan agar jumlah kasus bisa ditekan,” kata Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Kantor Kemenag Gunungkidul, Supriyanto, Senin (2/12).

BACA:Pernikahan Dini tak Dianjurkan Ini Alasannya

Program untuk memberikan sertifikasi bagi pasangan pengantin, sebelumnya pernikahan berlangsung akan diberikan pembekalan
terlebih dahulu, di antaranya dengan memberikan bimbingan perkawinan, tetapi hanya dua kali pertemuan dan tidak bisa detail. Untuk melaksanakan program tersebut jajarannya menunggu petunjuk teknis dari Pemerintah Pusat terkait dengan rencana sertifikasi tersebut.

Dengan melalui sertifikasi, calon pasangan yang akan menikah lebih dahulu akan belajar menyelesaikan permasalahan dalam hubungan rumah tangga. Karena terdapat banyak permasalahan yang kemudian menimbulkan perceraian, dengan sertifikasi pranikah, diharapkan angka perceraian dapat ditekan. "Untuk melaksanakan program tersebut kami masih menunggu petunjuk dari pusat,” imbuhnya.

Sementara perbandingan data jumlah angka perceraian, dari tahun ke tahun khusus pada tahun ini menglami peningkatan. Pada 2015 Pengadilan Agama Gunungkidul mengabulkan 1.447 kasus perceraian yang terdiri dari 1.010 gugatan dan 437 talak. Pada 2016
terjadi penurunan kasus, yakni 1.303 putusan cerai dengan rincian 919 gugatan dan 384 talak.

Jumlah perceraian pada 2017 kembali turun yakni terdapat 1.267 putusan cerai dengan gugatan 908 dan 359 talak. Sedangkan di 2018 tercatat ada 1.070 perkara cerai gugat, dan pada 2019 angka perceraian menembus 1.490 dengan gugatan sebanyak 1.059 dan talak sebanyak 431 kasus.

Terpisah Kepala KUA Kecamatan Wonosari, Zudi Rahmanto, menyambut positif wacana pemberian sertifikat tersebut. Bahkan ia sangat optimistis upaya sertifikasi pernikahan mampu meningkatkan ketahanan keluarga. Tugas bimbingan menjadi semakin terarah, selama ini ada kendala terkait dengan tingkat partisipasi peserta yang rendah karena masih ada alasan tidak mendapat izin cukup dari tempat kerja calon pengantin. "Berbagai upaya juga sudah kita lakukan dengan harapan angka perceraian dapat ditekan,” terangnya. (Bmp)

KRJOGJA.COM


BERITA TERKAIT