Puluhan Tambak Udang Diobrak-abrik Demi Sabuk Hijau Bandara Yogya
KRJOGJA.COM | 09/10/2019 08:00
Puluhan Tambak Udang Diobrak-abrik Demi Sabuk Hijau Bandara Yogya
'Bachoe' sedang meratakan kolam tambak udang di selatan BIY. Foto: Asrul Sani

TEMON, KRJOGJA.com - Untuk percepatan pembangunan 'green belt' atau sabuk hijau Bandara Internasional Yogyakarta/ Yogyakarta International Airport (BIY/ YIA) sebagai mitigasi bencana, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulonprogo kembali melakukan perataan puluhan kolam tambak udang di selatan BIY, Selasa 8 Oktober 2019.

Seperti pada kegiatan-kegiatan sebelumnya, perataan kolam dilakukan dengan mengerahkan alat berat jenis 'backhoe'. Dengan dikawal puluhan anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP) Kulonprogo, aparat Kepolisian dan TNI, operator alat berat 'mengobrak-abrik' kolam yang sudah dikosongkan pemiliknya. Selama proses perataan tambak udang tidak ada reaksi dari warga maupun pengelolanya.

BACA: PDAM Sediakan Empat Lokasi Pengambilan Air

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) setempat, Ir Sudarna menegaskan, perataan yang dilakukan sekarang merupakan yang ketiga kalinya. Sebelumnya pada perataan pertama dan kedua petugas telah meratakan 27 kolam dan sekarang ditargetkan 28 kolam rata dengan pasir. "Sehingga total target yang akan kami ratakan sekitar 55 kolam," katanya di sela kegiatan.

Ditegaskan, jumlah tersebut belum ada separuh dari seluruh jumlah kolam yang ada di selatan BIY. "Berdasarkan hitungan kami, masih ada sekitar 170 kolam tambak yang belum kami ratakan dan masih beroperasi atau masih produksi," terangnya.

Pemkab menargetkan sampai akhir Oktober mendatang sebanyak 70 persen tambak di selatan BIY harus sudah diratakan. Sedangkan sisanya yang masih produktif akan diratakan semuanya maksimal awal November 2019. "Dalam penertiban tambak udang di selatan BIY kami melakukannya dengan pendekatan kemanusiaan.

Bahkan tadi petugas kami membantu menggalikan paralon yang ada di bawah tambak agar bisa dimanfaatkan lagi oleh pemiliknya," tutur Sudarna menambahkan setelah semua kolam rata maka penanganan kawasan tersebut diambilalih Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Serayu Opak Progo terkait penanaman bibit pohon untuk sabuk hijau bandara.

"Pemkab hanya sampai pada penghentian operasi tambak udang saja," tegas Sudarna.

BACA: 'Terjunkan' Pesawat Berbadan Besar, Angkut Musisi dan Artis

Pantauan KR, dalam perataan tambak udang, pemkab menerjunkan dua tim. Satu 'membersihkan' kolam yang ada di bagian barat mulai dari Pantai Palihan Kecamatan Temon dan satu tim lagi meratakan kolam di sisi timur.

Menanggapi perataan kolam tambak udang tersebut, sebagian petambak bertekad akan tetap bertahan dan beraktivitas seperti biasa sampai ada kejelasan rencana relokasi ke Desa Banaran, Galur. Salah satu petambak Purwoko (38) warga Desa Jangkaran, Temon mengaku baru saja menabur benih udang dengan usia sekitar 30 hari. "Sebelum ada kejelasan, saya tidak mau pindah. Apalagi tempat relokasinya juga belum jelas dan harga tanah di sana (Banaran) sangat tidak terjangkau," tegasnya. (Rul)

KRJOGJA.COM


BERITA TERKAIT