Mengkhawatirkan Penggunaan Antibiotik di Indonesia, Tidak Semua Penyakit Perlu Antibiotik
KRJOGJA.COM | 04/10/2019 19:07
Mengkhawatirkan Penggunaan Antibiotik di Indonesia, Tidak Semua Penyakit Perlu Antibiotik

SLEMAN, KRJOGJA.com - Masyarakat Indonesia sudah dalam taraf terlalu gegabah dalam menggunakan antibiotik. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan bagi dunia farmasi dan kesehatan. Dampak resistensi antibiotik menyebabkan banyak pasien meninggal karena terlalu kebal dan bakteri penyebab penyakit tidak mempan diberi antibiotik.

"Isu hangat di Indonesia yakni resistensi antibiotik dalam masyarakat tinggi. Sakit sedikit diberi antibiotik. Padahal tidak semua sakit penyebabnya adalah bakteri. Tidak semua batuk dan pilek bisa diobati dengan antibiotik. Akhirnya yang terjadi pasien kebal pada antibiotik dan untuk mengobati penyakit harus menggunakan antibiotik yang lebih baru lebih paten dan kadar lebih tinggi," ujar Ketua Panitia Kegiatan Ilmiah Tahunan (KIT) Himpunan Seminat Farmasi Masyarakat (Hisfarma) 2019, Ingenida Hadning, MSc, Apt disela acara KIT Hisfarma 2019 di Sahid Jaya Hotel and Convention Hall, Jumat (4/10).

BACA: Penjualan Cabai di Sleman Sudah Terapkan Sistem Lelang

Ditambahkan Ingenida, dalam pertemuan ikatan apoteker ini mereka membahas mengenai beberapa hal termasuk perkembangan dunia farmasi. Ditambahkannya, fenomena apoteker dan apotek merupakan dua sisi mata uang yakni profesi kemanusiaan dan bisnis. Tuntutan kemanusian menyediakan obat yang efektif, efisien dan ekonomis (murah)  namun satu sisi dari sisi bisnis dituntut mengambil keuntungan.

Meski demikian pihaknya berpesan bahwa obat mahal belum tentu efektif. Masyarakat dituntut cerdas dalam mengkonsumsi obat dan harus belajar mengenai obat. Bahwa obat yang cocok untuk orang lain belum tentu cocok bagi tubuhnya. Ingenida menambahkan pertemuan farmasi ini juga mengangkat tema melakukan praktek berdasarkan bukti serta menghitung dari sisi analisa kajian ekonomis dan efektivitas.

"Apoteker diharapkan ketika berikan obat tidak hanya titipan dari perusahaan farmasi untuk menjualkan tetapi harus mampu menganalisa biaya atau harga obat secara terjangkau," k atanya.


Pembukaan forum Kegiatan Ilmiah Tahunan (KIT) Himpunan Seminat Farmasi Masyarakat (Hisfarma) yang digelar PD IAI DIY - Foto: Rahajeng Pramesi

Di sela forum itu juga diberikan achievement awards kepada Dr. Ahaditomo. MS.Apt yang merupakan Ketua Umum Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI) ke-15 yang merupakan cikal bakal Ikatan Apoteker Indonesia (IAI).  

Dalam acara dihadiri lebih dari 1500 peserta dari 34 provinsi. Ketua Pengurus Daerah (PD) Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), Dr Nanang Munif Yasin menambahkan forum ini menjadi awal sinergi dalam meningkatkan profesionalisme praktik apoteker di Indonesia terutama bagaimana apoteker memberikan edukasi dan pemahaman terkait konsumsi obat yang efektif dan benar kepada masyarakat.

"Pemahaman Dagusibu (Dapatkan, Gunakan, Simpan dan Buang) harus terus disosialisasikan. Obat jika salah penggunaan, penyimpanan dan dosis efeknya justru tidak menyembuhkan tetapi malah bisa menimbulkan resistensi pada pasien. Kami berharap masyarakat cerdas dalam menggunakan obat. Penggunaan obat tak sesuai aturan dan gegabah rentan menyebabkan kerusakan ginjal," kata dia menandaskan. (Aje)

KRJOGJA.COM


BERITA TERKAIT