Komisi X DPR Mengaku Sudah Ingatkan Sebelum KPK Tetapkan Imam Nahrawi Tersangka
KRJOGJA.COM | 19/09/2019 16:21
Komisi X DPR Mengaku Sudah Ingatkan Sebelum KPK Tetapkan Imam Nahrawi Tersangka
Aksi Menpora, Imam Nahrawi yang berpasangan dengan Kevin Sanjaya saat bermain bulutangkis melawan dua legenda bulutangkis Indonesia, Candra Wijaya dan Ricky Soebagdja dalam pertandingan persahabatan di CWIBC, Tangerang Selatan, 19 Desember 2017. Tempo/Ilham Fikri

JAKARTA, KRJOGJA.com - Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap dana hibah KONI oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Menyikapi itu, Wakil Ketua Komisi X DPR yang membidangi Pendidikan, Olahraga dan Sejarah, Hetifah Sjaifudian menyesalkan Menpora bisa turut terseret perkara itu.

BACA: Terjerat KPK Imam Nahrawi Mundur

"Tentu Komisi X menyesalkan. Ya semua punya kedudukan sama di depan hukum. Jadi, Komisi X mendorong semua mengikuti proses hukum," ujar Hetifah saat berbincang dengan Okezone di Jakarta, Kamis (19/9/2019).

Kata Hetifah, setiap melangsungkan rapat kerja dengan Menpora Imam Nahrawi, pihaknya selalu mengingatkan agar berhati-hati dalam melaksanakan kegiatan. Di mana harus sesuai dengan ketentuan yang ada dan tidak boleh dilanggar.

"Komisi X DPR meminta Kemenpora selalui berhati-hati, dan dalam melaksanakan kegiatan lainnya harus sesuai dengan peraturan perundang-undangan dalam hal akuntabilitas, kebenaran prosedur pengadaan barang atau jasa, kebenaran pencairan dana, pelaksanaan pembayaran dan kesesuaian kewajaran harga, dan lain-lain," bebernya.

Hal itu dilakukan lanjut Hetifah, karena dari seluruh mitra Komisi X, hanya Kemenpora yang beberapa kali mendapat penilaian disclaimer of opinion atau tidak menyatakan pendapat dari BPK.

"Baru tahun 2018 saja mendapat opini wajar dengan pengecualian (qualified opinion)," tandasnya.

Seperti diwartakan sebelumnya, KPK menetapkan Menpora Imam Nahrawi sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap dana hibah dari pemerintah untuk KONI.

Wakil Ketua KPK Alexander Marwata mengungkapkan pihaknya juga menetapkan Asisten Pribadi Menpora, Miftahul Ulum sebagai tersangka. Mereka berdua ditetapkan dalam rangka pengembangan kasus ini sebelumnya.

"KPK menemukan bukti permulaan yang cukup dan melakukan penyidikan dugaan keterlibatan pihak lain," kata Alex.

Alex menyebut, dalam perkara ini, Menpora Imam Nahrawi diduga telah menerima uang senilai Rp26,5 miliar terkait dengan perkara ini. Penerimaan itu diketahui terjadi dua kali, pertama sebanyak Rp14,7 miliar dan Rp11,8 miliar.

"Uang tersebut diduga digunakan untuk kepentingan pribadi Menpora dan pihak lain yang terkait," ujar Alex.

Dalam perkara ini, Imam dan Ulum disangka melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Sebelumnya, KPK telah ‎menetapkan lima tersangka terkait kasus dugaan suap penyaluran dana bantuan atau hibah dari pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) untuk Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).

Kelimanya yakni, Sekretaris Jenderal (Sekjen) KONI, Ending Fuad Hamidy (EFH); ‎Bendahara Umum (Bendum) KONI, Jhonny E. Awuy (JEA);Deputi IV Kementerian Pemuda dan Olahraga, Mulyana (MUL); Pejabat Pembuat Komitmen pada Kemenpora, Adhi Purnomo (AP); serta Staf Kemenpora, Eko Triyanto (ET). (*)

KRJOGJA.COM


BERITA TERKAIT