Program Penanganan Stroke Terintegrasi RS Mardi Rahayu Kudus
KRJOGJA.COM | 11/09/2019 14:21
Program Penanganan Stroke Terintegrasi RS Mardi Rahayu Kudus

KUDUS, KRJOGJA,com - Stroke menjadi penyebab kematian dan kecacatan nomor satu di Indonesia. Penyakit itu tak hanya dialami orang tua, tetapi banyak penderita stroke dalam masa produktif, bahkan kurang dari 30 tahun. Survivor stroke dapat mengalami kecacatan ringan sampai berat hingga membutuhkan waktu lama untuk pemulihan,  beberapa diantaranya terdapat penderita yang tidak dapat dipulihkan.

Bila anda termasuk penderita stroke dan ingiun mendapatkan penanganan maksimal, datanglah ke Kudus. Di Kota Keretek ini terdapat RS Mardi Rahayu, yang memiliki inovasi program perawatan sangat bagus selain memiliki peralatan medik lengkap, ruang rehabilitasi (fisioterapi) dan okupasi terapi pasien. Inovasi andalan dimaksud yakni program Penanganan Stroke Terintegrasi (PaSTi)”.

BACA: Jembatan Swadaya Buka Akses Usaha Tani

Direktur RS Mardi Rahayu, dr Pujianto MKes menyadari betapa seriusnya dampak stroke pada kehidupan pasien, sehingga pihaknya berkomitmen menjadikan penanganan stroke sebagai pelayanan prioritas. “Komitmen kami melakukan penanganan stroke secara terintegrasi (PaSTi),” ujarnya, dalam kegiatan Rebranding Unit Stroke dan Launching Komunitas Peduli Stroke di RSU Mardi Rahayu, Selasa (10/9).

Program PaSTi di RS Mardi Rahayu dilaksanakan dengan memberikan tiga kepastian, yaitu pasti tepat dan menyeluruh, pasti tanpa rujukan, dan pasti tanpa tambah biaya. Penanganan stroke pasti tanpa rujukan karena stroke adalah kasus emergency yang dapat ditangani langsung datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit tanpa memerlukan surat rujukan. Pasien tetap dapat ditanggung BPPJS Kesehatan atau asuransi lain/ perusahaan.

Sedang pasti tepat dan menyeluruh mencakup penanganan stroke sebelum masuk rumah sakit, di rumah sakit, dan sesudah keluar dari rumah sakit. Pelayanan pasien stroke sebelum masuk rumah sakit disediakan RS Mardi Rahayu melalui ambulan jemput gawat darurat, dilaksanakan 24 jam per hari selama seminggu gratis bagi pasien dalam kota Kudus yang rawat inap.

Sesampai di rumah sakit, tim IGD dipimpin dokter jaga segera melakukan penanganan kegawatan, pemeriksaan CT Scan Kepala untuk mengetahui jenis stroke, dan konsultasi dengan dokter spesialis saraf untuk pemberian obat sesuai jenis stroke pasien. Bila jenis stroke pasien adalah perdarahan yang membutuhkan operasi, maka segera dilakukan dokter spesialis bedah saraf di Instalasi Kamar Bedah (IKB) yang lengkap dan siap 24 jam.

Bagi pasien yang membutuhkan pengawasan ketat dirawat di ruang HND (High Nursing Dependency) stroke, sementara pasien yang butuh alat bantu nafas (ventilator) atau pasien stroke paska operasi dirawat di ruang Instalasi Rawat Intensif (IRIN)/Intensive Care Unit (ICU). Saat ini pihaknya memiliki 33 tempat tidur di Unit Perawatan Stroke, termasuk enam tempat tidur di HND stroke dan satu tempat tidur di ruang Isolasi Unit Stroke. “Setiap bulan kami merawat rata- rata 60 pasien stroke, sekitar 60 persen dari Kota Kudus dan 40 persen lainnya pasien luar kota,” terangnya.

Kepala Bagian Fisioterapi RS Mardi Rahayu, dr Jatmiko menambahkan, selain ruang rehabilitasi medik  (fisioterapi) khusus pasien yang menyatu dengan Unit Perawatan Stroke, juga tersedia ruang terapi okupasi pasien. Alat terapi okupasi untuk melatih motorik halus yang berhubungan dengan aktivitas sehari- hari. Terapi fisik sangat penting agar pemulihan pasien stroke benar-benar optimal. (Trq)

KRJOGJA.COM


BERITA TERKAIT