Anak Berkebutuhan Khusus dan Ibu Wisuda Bersama di UNY, Keduanya Cumlaude
KRJOGJA.COM | 11/09/2019 09:07
Anak Berkebutuhan Khusus dan Ibu Wisuda Bersama di UNY, Keduanya Cumlaude

DEMI belajar cara mendidik putrinya Maria Clara Yubilea(19) yang berkebutuhan khusus, Patricia Lestari Taslim (49) kuliah lagi mengambil S2 Pendidikan Luar Biasa di Universitas Negeri Yogyakarta. Luar biasanya, ibu dan anak ini akan wisuda bersama di universitas yang sama, keduanya juga lulus dengan predikat Cumlaude.

Keputusan Patricia untuk kuliah di Pendidikan Luar Biasa tidak lepas dari vonis yang diterima anaknya sebagai anak berkebutuhan khusus Gifted Normal Atas. Karena vonisnya itu, putrinya itu yang memiliki tantangan berupa kesulitan dalam berkomunikasi.

Baca Juga : Baru 19 Tahun, Anak Berkebutuhan Khusus yang Genius ini jadi Lulusan Termuda UNY

Saat masih sekolah dasar (SD) Lala sulit diatur oleh guru dan disebut sebagai trouble maker. Predikat nakal tersebut membuat Lala sampai harus berpindah-pindah sekolah sejak kelas 2 SD. Tercatat hingga akhir jenjang SD, Lala sudah lima kali pindah sekolah.

Pada saat itu, Patricia selaku Ibu mengaku belum paham bahwa apa yang dihadapi putri semata wayangnya tersebut adalah kebutuhan khusus. “Yang saya tahu (saat itu), Lala itu trouble maker. Saya memaksakan dia harus sekolah umum dan sekolah negeri. Namanya juga ibu, saya jujur saja waktu itu otoriter ingin anak saya sekolah.

Untuk mendukung kegiatan belajar putrinya, Patricia sejak awal perkuliahan selalu mengantar jemput Lala. Saat awal masuk kuliah Lala masih usia 15 tahun dan membutuhkan kasih sayang orang tua.

Namun, setahun berjalan, Patricia merasa bosan jika hanya datang ke UNY untuk antar jemput. Terlebih lagi, kebutuhan khusus Lala terus berkembang seiring bertambahnya usia.

“Saya merasa tidak cukup bekal untuk membantu (Lala). Sudah bikin sakit kepala ini. Sehingga seizin suami saya ingin kuliah lagi, agar punya ilmu yang bermanfaat dalam mendidik Lala ataupun anak-anak gifted lainnya,” ungkap Patricia atas pergolakan batin yang terjadi saat itu.

Akhirnya setahun setelah Lala mulai kuliah, Patricia mendaftar dan dinyatakan diterima di S2 Pendidikan Luar Biasa UNY angkatan 2016. Pada saat itu, Patricia merupakan satu-satunya mahasiswa yang tidak berlatar belakang pendidikan luar biasa di jenjang S1-nya.

“Saya guru seni musik. Lainnya teman saya, guru di SLB, dan anak-anak lulusan PLB. Alih jurusan bukan hal yang mudah ternyata karena saya harus belajar teori dari awal,” kenang Patricia.

Untuk mendukung studinya, Patricia mengejar ketertinggalan ilmu dengan menumpang belajar di SLB Marganingsih Tajem. Disana ia memperoleh teori terkait pendidikan luar biasa sekaligus mempraktikkannya secara langsung. “Setiap kamis dan Jum’at saya kesana. Membantu mengajar, dan belajar teori-teori PLB. Tidak dibayar, karena saya yang membutuhkan,” kenang Patricia.

 

Menunda Wisuda Demi Lala

Pada 13 Mei 2019, tesis Patricia telah disetujui oleh dosen pembimbing. Menandakan ketuntasan kewajibannya dalam menempuh studi jenjang S2.

Hari itu tepat Lala berulang tahun ke-19. Kelulusan Patricia menjadi hadiah tiada terkira bagi sang putri.

“Karena Mei sudah selesai, saya seharusnya diwisuda bulan Juni,” kenang Patricia.

Akan tetapi, hadiah kelulusan tersebut ia rasa belum sempurna karena tugasnya di kampus belum selesai. Lala, putri semata wayangnya, sedang menuntaskan bab-bab terakhir dalam skripsinya.

Akhirnya Patricia memutuskan untuk berkirim surat kepada rektor dan Direktur Pascasarjana UNY. Isinya sederhana: meminta Patricia diizinkan untuk wisuda Agustus.

“Saya punya keyakinan kalau tidak lama lagi Lala akan wisuda. Toh tinggal bab akhir. Sambil menunggu Lala, saya bisa cari ilmu lagi sekaligus antar jemput,” kata Patricia, mengenang.

Tebakannya tak meleset. 31 Juli 2019, tepat ulang tahun Patricia ke-48, Lala menuntaskan yudisium skripsinya.

Terus Berkontribusi bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Skripsi dan tesis tak menjadi karya terakhir keduanya di UNY. Selepas kuliah, Lala berencana melamar beasiswa tentang pendidikan khusus maupun psikologi di kampus-kampus negeri Paman Sam

Akhir bulan ini, Lala bersama Patricia dan komunitas orang tua anak gifted di Yogyakarta juga hendak merilis buku bunga rampai bertajuk “Menyongsong Pagi”. Buku ini mengisahkan best practice pengalaman mereka mengasuh dan mengalami sendiri kehidupan sebagai anak gifted. Lala menjadi satu-satunya anak gifted yang ikut menulis buku tersebut, sekaligus sebagai penulis yang termuda.

“Ada dosen PLB UNY yang juga ikut menulis. Dalam kesempatan yang sama kita menggelar seminar bertema Pendidikan Anak Gifted.”

Melalui buku dan seminar tersebut, Patricia dan Lala berharap pengalaman sekaligus ilmu mereka terkait anak berkebutuhan khusus tidak hanya berhenti di diri sendiri. Namun juga dapat membantu masyarakat luas, sehingga pendidikan inklusif dapat dirasakan lebih banyak lagi masyarakat.

Hal itu menjadi alasan Patricia kemudian mendirikan Parents Support Group for Gifted Children (PSGGC) Yogyakarta lima tahun lalu. Bahkan untuk memperingati ulang tahun PSGGC, ia mengadakan pameran 36 lukisan karya anak-anak 'gifted'. Pameran yang bertajuk  'Seni Membuka Imaji', berlangsung 21 Agustus - 21 September 2019 di Ruang Xaverius PGSD Lantai 3 Universitas Sanata Dharma.

“Saya tahu, banyak orang tua di luar sana yang bingung anak berkebutuhan khusus ini diapakan. Tidak banyak yang seberuntung kami mengenal ilmu pendidikan luar biasa di UNY. Kami ingin ilmu ini membumi,” kata Patricia.  (Ilham Dary Athalah)

KRJOGJA.COM


BERITA TERKAIT