Anak Berkebutuhan Khusus Menguasai 5 Bahasa Asing Lulus Cumladue UNY
KRJOGJA.COM | 10/09/2019 18:07
Anak Berkebutuhan Khusus Menguasai 5 Bahasa Asing Lulus Cumladue UNY

KRJOGJA.COM - Maria Clara Yubilea divonis dokter sebagai anak berkebutuhan khusus “Gifted Normal Atas”, ia tantangan berupa kesulitan dalam berkomunikasi. Namun, pagi ini ia membuktikan dirinya menjadi wisudawan termuda Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dalam usia 19 tahun dengan predikat cumlaude.

Anak berkebutuhan khusus “Gifted Normal Atas” sering disebut juga sebagai anak genius. Hal ini dibuktikan gadis yang akrab dipanggil Lala ini meraih IPK 3,76. Selain itu juga seorang polyglot atau orang yang menguasai beberapa bahasa. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Jerman UNY ini menguasai sedikitnya 5 bahasa asing yaitu Bahasa Jerman, Inggris, Perancis, dan Jepang.

“Mama sering bilang, vonis (sebagai gifted) dan Tes IQ itulah awal musibah (karena semakin tinggi IQ umumnya menambah masalah komunikasi). Tapi ternyata dari penemuan dan bimbingan mama, musibah ini punya banyak potensi. Potensi yang Puji Tuhan dapat Lala maksimalkan,” kataLala kepada KRjogja.com.

Saat melakukan tes IQ, Lala mendapatkan skor IQ 145 yang tergolong jenius. Untungnya sang ibu, Patricia Taslim bisa mengarahkan 'musibah' itu menjadi berkah. Bahkan ibunya akhirnya mengambil S2 Pendidikan Luar Biasa UNY demi memperoleh pengetahuan tentang tata cara mendidik sang anak. Istimewanya mereka diwisuda bersamaan hari ini.

Baca Juga : 

Kisah Aron, Driver Gocar Bantu Hidup Dua Eks Narapidana

Awalnya Dianggap Anak Nakal

Berkat bimbingan Patricia Taslim, Lala berhasil menyabet berbagai prestasi baik di dalam maupun di luar kampus. Hal tersebut ia buktikan dengan mewakili UNY dalam pertukaran pelajar ke Jerman dan menulis buku terkait anak berkebutuhan khusus. Tidak disangka awalnya Maria Clara Yubilea justru dicap sebagai anak nakal.

Lala diketahui sebagai anak gifted saat bergabung di Sekolah Dasar. Mulanya, Lala sulit diatur oleh guru dan disebut sebagai trouble maker. Predikat nakal tersebut membuat Lala sampai harus berpindah-pindah sekolah sejak kelas 2 SD. Tercatat hingga akhir jenjang SD, Lala sudah lima kali pindah sekolah.

Pada saat itu, Patricia selaku Ibu mengaku belum paham bahwa apa yang dihadapi putri semata wayangnya tersebut adalah kebutuhan khusus. “Yang saya tahu (saat itu), Lala itu trouble maker. Saya memaksakan dia harus sekolah umum dan sekolah negeri. Namanya juga ibu, saya jujur saja waktu itu otoriter ingin anak saya sekolah. Apalagi saya mantan guru, dan suami saya (Rahardjo Sidharta) berprofesi sebagai dosen (Teknobiologi UAJY),” kata Patricia.

Pengetahuan Patricia waktu itu terbuka ketika Lala mogok sekolah menjelang ujian nasional. Mulanya, dia tidak mau lagi masuk sekolah karena merasa tidak nyaman dengan kegiatan belajar di sekolah dalam mempersiapkan ujian. 

Namun setelah dipaksa, Lala akhirnya berkenan untuk menuntaskan Ujian Nasional sebagai kewajibannya guna lulus dari sekolah tersebut. Ajaibnya dengan terpaksa dan tanpa persiapan ujian, Lala lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. “Nilainya bagus-bagus. Saat itulah saya mulai memahami, bahwa kita harus ekstra tenaga mendampingi karena kebutuhan dia berbeda. Kita konsultasi ke dokter dan tes IQ pada 2013, IQnya pada saat itu 131, dan selalu naik setiap kami melakukan tes dua tahun sekali,” ungkap Patricia yang mendapati bahwa pada tahun 2017, Lala mencatatkan nilai 145 dalam tes IQ.

Sejak diketahui sebagai anak berkebutuhan khusus, pilihan dijatuhkan Lala dan orang tua  untuk belajar secara homeschooling. Dibimbing oleh Patricia, lala menggunakan buku bekas milik kakak sepupunya.

Bersekolah di rumah juga enggak membuat Lala tidak memiliki teman. Buktinya, dia aktif di berbagai komunitas seperti Komunitas Sesama Homeschoolers, komunitas menari, dan komunitas musik. Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) menjadi tempatnya menghabiskan waktu bersama kawan-kawan. “Saat itu, saya juga suka menulis di blog," tutur dara kelahiran Sleman, 13 Mei 2000 tersebut.

Tiba-tiba Ingin Kuliah 

Karena cepat belajar, Lala berhasil menuntaskan ujian Kejar Paket B (setara SMP) dan Kejar Paket C (setara SMA) di tahun 2013 dan 2015. Nilai ujiannya pun bagus. Selain itu, Lala juga telah menguasai Bahasa Inggris, Perancis, dan Jepang. Ia belajar bahasa dari percakapan sehari-hari dan berselancar di dunia maya.

Tiba-tiba saja selepas ujian kejar paket dan bertemu kawan-kawannya, Lala meminta ke orang tua untuk berkuliah. Kembali bergabung dengan teman temannya yang tidak berkebutuhan khusus. “Kami kemudian berpikir. Ada baiknya memang dia kuliah. Saran dari hasil tes IQ, mengambil jurusan bahasa. Akhirnya diambillah bahasa yang belum ia kuasai, yaitu Pendidikan Bahasa Jerman,” ungkap Patricia sembari menyebutkan bahwa jurusan tersebut memang hanya tersedia di UNY.

Selama perkuliahan, dosen dan teman-teman Lala sangat suportif membantunya belajar. Bahkan Lala kerap dijadikan rebutan apabila terdapat tugas beregu ataupun dalam pembentukan kelompok. “Jadi lingkungan di UNY inklusif. Ada dua alasan sebenarnya. Pertama karena Lala masih imut, anak usia 15 tahun, dan kedua karena Lala cepat belajarnya. Setahun belajar Jerman, dia sudah fasih,” kenang Patricia.

Kepada KRjogja.com Patricia Taslim mengungkapkan rasa syukurnya bisa menyadari kondisi Lala sebagai anak berkebutuhan khusus 'gifted' sejak awal. "Di luar sana masih banyak orangtua yang tidak menyadari bahwa anak mereka sebenarnya jenius. Anak-anak itu justru dicap nakal, aneh, bahkan autis, padahal anak gifted dan autis berbeda penanganannya," kata Patricia.

Atas dasar itulah, Patricia kemudian mendirikan Parents Support Group for Gifted Children (PSGGC) Yogyakarta lima tahun lalu untuk menjadi wadah komunikasi orangtua yang anak-anaknya terindikasi 'gifted'. 

Bahkan untuk memperingati ulang tahun PSGGC, ia mengadakan pameran 36 lukisan karya anak-anak 'gifted'. Pameran yang bertajuk  'Seni Membuka Imaji', berlangsung 21 Agustus - 21 September 2019 di Ruang Xaverius PGSD Lantai 3 Universitas Sanata Dharma. (Ilham Dary Athalah)

KRJOGJA.COM


BERITA TERKAIT