Setelah Yogyakarta International Airport, Siap Dikembangkan Kawasan Aerotropolis
KRJOGJA.COM | 09/09/2019 13:11
Setelah Yogyakarta International Airport, Siap Dikembangkan Kawasan Aerotropolis

YOGYA, KRJOGJA.com - Pemda DIY terus melakukan identifikasi terkait kawasan aerotropolis (kawasan yang bisa dikembangkan mendukung bandara YIA). Mengingat masih banyak regulasi yang harus diselesaikan, saat ini pembahasan kawasan aerotropolis masih terfokus pada penyiapan masterplan. Nantinya keberadaan aerotropolis diharapkan bisa memperkuat bandara Yogyakarta Internasional Airport (YIA) di Kulonprogo.

"Pembahasan kawasan aerotropolis saat ini terus kami lakukan, tentunya dengan melibatkan semua stakeholders . Untuk tahap awal kami menyiapkan masterplan. Kita akan mengatur kawasan tersebut meliputi kawasan inti dan penyangga. Kawasan inti untuk perkotaan, perumahan, komersial dan pendidikan kami rencanakan dengan mempertimbangkan kondisi ekosistemnya," papar Kepala Dinas PUP ESDM DIY Hananto Hadi Purnomo.

Baca juga :

Tekad Surip Manunggal Bersama TNI
Akses Transportasi YIA Tak Boleh Tertinggal

Hananto mengungkapkan, sesuai dengan perencanaan yang ada untuk kawasan inti dibutuhkan lahan sekitar 1.000 hektare, sedangkan kawasan penyangganya seluas 6.000 hektare. Jadi, dibutuhkan lahan sekitar 7.000 hektare yang diinisiasi menjadi aerotropolis. Tidak hanya mengembangkan kawasan perkotaan saja tetapi juga pertanian yang disuport khusus untuk pasar internasional.

"Ngarsa Dalem sempat berpesan agar beberapa hal seperti RTRW dan regulasi disiapkan (diselesaikan) dengan baik. Semua itu perlu dilakukan, agar ke depan saat pembangunan dilaksanakan sudah tidak ada masalah," terang Hananto.

Kepala Dinas Perizinan dan Penanaman Modal (DPPM) DIY Arief Hidayat menambahkan, skema pengembangan aerotropolis ini mempunyai dua pilihan, yaitu konsorsium dimana investor langsung masuk dan joint venture dimana Pemda bisa membentuk semacam Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). BIY kini sudah beroperasional minimum dengan beberapa penerbangan domestik, sementara penerbangan internasional belum dibuka karena masih minimnya aspek sarana dan prasarana penunjang.

"Melihat perkembangan pembangunan bandara baru saat ini, justru Pemda DIY-lah yang sekarang mempunyai 'PR' yaitu untuk menyelesaikan tata ruang, desain dan bentuk skema kerjasama yang diinginkan dengan pihak ketiga. Kita bisa melalui beberapa mekanisme di Pemda, baik melalui Tim Percepatan Pembangunan atau Asisten Perekonomian dan Pembangunan DIY maupun Bappeda," tandasnya.

Arief menekankan, yang terpenting dan utama justru dari kesiapan dari Pemda DIY maupun Pemkab Kulonprogo itu sendiri dalam mengembangkan kawasan aerotropolis. Pemkab Kulonprogo juga tengah merampungkan tata ruangnya baik untuk kawasan aerotropolis yang mempunyai bagian atau zonasiasi berupa kawasan strategis, kawasan hunian dan kawasan bisnis."Kita akan mulai dari penataan planning atau rencananya terlebih dulu terutama Perda RTRW di kabupaten yang diselaraskan dengan Perda RTRW Provinsi yang sudah ada menyelesaikan 'PR' yang ada.," imbuh Arief. (Ria/Ira)

KRJOGJA.COM


BERITA TERKAIT