Beberapa Elemen Tolak Pindah Ibu Kota, Para Pemuda Sukoharjo Malah Siap Ke Ibu Kota Baru
KRJOGJA.COM | 04/09/2019 12:07
Beberapa Elemen Tolak Pindah Ibu Kota, Para Pemuda Sukoharjo Malah Siap Ke Ibu Kota Baru

Baca Juga: Ibu Kota Baru Harus Jadi Kota Cerdas

Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Sukoharjo Bahtiyar Zunan, Rabu (4/9/2019) mengatakan, perpindahan keluar masuk pekerja di Sukoharjo sudah menjadi hal wajar terjadi. Kondisi tersebut terjadi karena adanya magnet sebagai penarik masyarakat datang ke suatu daerah untuk merantau mendapatkan pekerjaan. Dengan bekerja maka warga tersebut berharap bisa memperbaiki nasib dan meningkatkan kesejahteraan.

Data dari Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Sukoharjo diketahui pergerakan perpindahan warga Sukoharjo pergi keluar merantau sejak tahun 1990 - 2000 terus mengalami peningkatan. Daerah utama yang dipilih yakni di Jakarta sebagai ibu kota negara. Selain itu para perantau juga bekerja di daerah sekitarnya seperti di Bekasi, Bogor, Tanggerang dan lainnya di Provinsi Jawa Barat. Ada ribuan warga Sukoharjo bekerja diberbagai bidang kerja disana. 

Dalam perkembanganya sejak tahun 2000 keatas perantau asal Sukoharjo juga menyebar ke sejumlah daerah lain di Indonesia. Seperti di Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua. Bahkan sempat terjadi lonjakan signifikan perantau dengan tujuan ke Batam setelah disana tumbuh subur berbagai sektor industri berskala besar. Para perantau tidak hanya mereka lulusan sarjana saja namun juga banyak tamatan SMA/SMK.

Baca Juga: Calon Ibu Kota Baru, Ada Palapa Ring Khusus untuk Kalimantan

"Beberapa warga Sukoharjo yang pergi merantau memang kebanyakan ke daerah Jakarta sebagai ibu kota negara. Parantau bekerja keluar daerah karena disana banyak industri. Namun tidak menutup kemungkinan kedepan peta perantau berubah ke Kalimantan Timur karena ada rencana pemerintah memindah ibu kota negara disana," ujarnya.

Di Pulau Kalimantan sudah banyak tersebar warga Sukoharjo tinggal dan bekerja disana baik sebagai peserta transmigrasi maupun terserap diberbagai bidang kerja. Beberapa perantau Sukoharjo bahkan seperti dikatakan Zunan sudah banyak yang sukses.

"Banyak perantau Sukoharjo mereka berdagang jamu gendong bisa sukses di Kalimantan bahkan juga di Papua," lanjutnya.

Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Sukoharjo meminta kepada warga yang akan merantau ke Pulau Kalimantan khususnya di calon lokasi baru ibu kota negara di Provinsi Kalimantan Timur untuk mempersiapkan diri dengan matang. Zunan menegaskan, harus dipastikan terlebih dahulu ketersediaan lapangan kerja dan pemenuhan kebutuhan hidup. Sebab para perantau akan pergi jauh meninggalkan rumah dan keluarga.

"Di Sukoharjo sendiri sebenarnya sudah banyak industri dan tersedia melimpah lapangan kerja. Namun mungkin karena gengsi banyak pula yang memilih pergi merantau mencari kerja di luar daerah," lanjutnya.

Sementara itu, kuota transmigrasi tahun 2019 masih sama seperti tahun 2018 sebanyak lima KK. Jumlah tersebut sesuai dengan ketetapan yang diberikan dari Provinsi Jawa Tengah.

Pemkab Sukoharjo setelah mendapatkan kuota kemudian memberikan informasi ke masyarakat dengan tujuan mencari peserta transmigrasi. Hasilnya diketahui ada beberapa KK sudah mendaftarkan diri. Namun setelah dilakukan pemeriksaan berkas dan wawancara ternyata hanya lima KK saja yang siap diberangkatkan.

Kelima KK tersebut sudah menyatakan kesanggupannya meninggalkan tempat asalnya bersama keluarga pergi ke tanah rantau sebagai peserta transmigrasi. Tujuan transmigrasi tahun 2019 ini di Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara.

“Pada intinya mereka para peserta transmigrasi sejak dini harus mendapatkan gambaran mengenai kehidupan di daerah tujuan. Sebab mereka akan pergi jauh dari daerah asal dan selama di daerah transmigrasi mereka akan bekerja sebagai petani dengan menggarap lahan yang sudah disediakan,” lanjutnya.

Cara bertahan hidup di daerah transmigrasi perlu dikenalkan karena kondisi geografis alam di Sukoharjo dengan di Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara sangat berbeda. Salah satunya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan hidup. Apabila di Sukoharjo kebanyakan bekerja di lingkungan formal maka nanti berubah sering turun ke lapangan. (Mam)

KRJOGJA.COM


BERITA TERKAIT