Taman Raja Balitung, Pemandian Sang Maharaja Dyah Balitung
KRJOGJA.COM | 31/08/2019 08:01
Taman Raja Balitung, Pemandian Sang Maharaja Dyah Balitung

KRJOGJA.COM - Sejuk dan asri. Itulah yang pertama kali terlihat ketika memasuki sebuah daerah di Dusun Jongkangan Desa Tamanmartani Kalasan Sleman. Suasana tersebut didukung karena masih banyaknya pepohonan di sekitar lokasi. Ditambah suara gemericik air dari sungai yang berada di sisi barat dusun, membuat suasana menjadi semakin adem.

Dipandu warga setempat, KRJOGJA.com lantas diajak menjelajah semakin dalam ke Dusun Jongkangan. Jalan setapak di antara pohon bambu. Sampai akhirnya berhenti di sebuah telaga yang airnya sangat jernih. Tak heran, sejumlah anak tampak asyik bermandi di telaga tersebut.

Baca Juga: Yogya Tak Akan Kehabisan Destinasi Wisata

Telaga itu ternyata bukan telaga biasa. Warga setempat meyakini, jika pada tahun 822 Saka atau 900 Masehi, Raja Balitung Sri Maharaja Dyah Balitung pernah mandi di pancuran tersebut. Oleh masyarakat setempat, lokasi tersebut lalu disulap menjadi sebuah destinasi wisata alam yang diberi nama 'Taman Raja Balitung'.

Sebelum dijadikan tempat wisata, dulunya lokasi ini hanyalah sebuah lahan kosong. Lantaran di sekitar lokasi banyak pepohonan, maka daun kering yang berjatuhan membuat lokasi menjadi kotor. Warga lalu kerja bakti dan setelah bersih, ternyata tempatnya cukup menarik untuk disulap jadi objek wisata.

"Kerja bakti tidak cukup sekali. Lantaran lokasinya cukup luas. Hampir 3 hektare. Setelah dirasa bersih, baru kita sepakat untuk menjadikan ini sebagai wisata berbasis alam dan budaya," ujar Budi Raharjo yang dipercaya sebagai ketua pengelola desa wisata, Jumat (30/8/2019).

Baca Juga: Pembangunan Sektor Pariwisata Harus Libatkan Swasta, Ini Caranya

Setelah dirasa siap, masyarakat lalu mempromosikan Taman Raja Balitong ini. Kita mulai sekitar 6-8 bulan yang lalu. Mulai dari menyebar 'liflet' hingga menyelenggarakan sejumlah kegiatan. Seperti lomba menggambar tempah, lomba masak berbahan dasar lokal hingga festival dolanan anak. Lapar? Jangan khawatir. Masyarakat juga membuka pasar yang menjajakan makanan tradisional.

"Untuk pasar tradisional sementara baru tiap Minggu Pahing saja. Namun kedepan akan kita upayakan untuk setiap Minggu. Karena sampai saat ini animo masyarakat cukup tinggi. Meskipun masih di dominasi masyarakat sekitar," ungkap Budi.

Dari 3 hektare lahan tersebut, saat ini yang sudah dimanfaatkan baru 1 hektare saja. Terdiri dari tanah kas desa dan lahan pribadi. Penasaran? Langsung saja ke Dusun Jongkangan Desa Tamanmartani Kalasan Sleman.(Awh)


BERITA TERKAIT