Polemik KPAI dan PB Djarum, Susi Susanti Bicara
KRJOGJA.COM | 13/08/2019 12:23
Polemik KPAI dan PB Djarum, Susi Susanti Bicara

SLEMAN, KRJOGJA.com - Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, Susi Susanti angkat bicara terkait teguran Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada penyelenggaraan Audisi Bulutangkis Djarum yang dinilai mengeksploitasi anak. 

Peraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992 ini menilai apa yang dilakukan KPAI tersebut tak memiliki dasar kuat lantaran audisi PB Djarum terbukti mewujudkan regenerasi atlet berkualitas Indonesia. 

BACA: Dipanggil Polisi Kades Ponggok Mangkir

Menurut Susi, apa yang dilakukan PB Djarum bukanlah eksploitasi anak yang telah dilakukan sejak 50 tahun silam. Ia memastikan apa yang dilakukan Persatuan Bulutangkis tersebut terpisah dari produk rokok yang memang dimiliki. 

“PB Djarum ini didirikan sudah 50 tahun lalu. Otomatis harus dipisahkan, memang ada merk rokok tapi ini (audisi) berdiri sendiri. PB Djarum memberikan kontribusi untuk pembinaan bulutangkis, audisi ini murni olahraga. Tidak ada kenalkan rokok, saya dan Mas Alan (Budikusuma) tahu karena sering jadi juri,” ungkapnya pada wartawan usai press conference Daihatsu Astec Open Senin (12/8/2019). 

Sebagai bagian dari PBSI, Susi mengerti betul bagaimana bakat-bakat daerah dijaring melalui audisi tersebut. Ia bahkan menilai, apa yang dilakukan pihak swasta jauh lebih besar kontribusinya daripada yang pemerintah lakukan selama ini. 

“Sebagai Ketua Bidang Pembinaan (PBSI) jelas mengharapkan bibit lahir dari daerah. Audisi ini memberikan beasiswa bagi atlet berpotensi daerah, dari keluarga kurang beruntung tapi ada potensi dan PB Djarum luar biasa memberikan beasiswa. Mereka berikan kesempatan atlet untuk berlatih, bertanding dan bersekolah," ungkapnya.

"Itu dibiayai seluruhnya. Tidak ada iklan rokok di situ, harus dipahami dan dimengerti. KPAI harus memantau langsung di lapangan. Untuk pembinaan tidak ada yang yang instan, pemerintah selama ini juga tidak turun untuk melakukan pembinaan dan di sini swasta yang berperan. Suplai pemain dan dana ini mereka menbantu sekali,” imbuhnya.

Untuk membiayai seorang atlet di tingkat kelompok umur misalnya, dalam sebulan Susi mengaku tak cukup butuh dana Rp 10 juta. “Untuk makan, memenuhi gizi, biaya pertandingan dan peralatan tidak cukup Rp 5 juta bahkan Rp 10 juta mungkin. Apakah pemerintah mampu memberikan perhatian suplai bibit-bibit ini? Bulutangkis satu-satunya yang berprestasi. Ada audisi mutiara, audisi exist juga. Peran swasta memberikan bantuan luar biasa pada regenerasi bulutangkis Indonesia,” pungkasnya. (Fxh)

KRJOGJA.COM


BERITA TERKAIT