Serius, Sejumlah Petani Gagal Panen atau Puso di Yogyakarta
KRJOGJA.COM | 12/08/2019 16:07
Serius, Sejumlah Petani Gagal Panen atau Puso di Yogyakarta

YOGYA, KRJOGJA.com - Kekeringan yang terjadi di sejumlah daerah di DIY, seperti Bantul, Kulonprogo dan Gunungkidul, telah mengakibatkan sejumlah petani mengalami gagal panen. Dampak kekeringan yang paling banyak ada di Kabupaten Gunungkidul. Hal itu terjadi, karena mayoritas lahan pertanian di daerah itu merupakan sawah tadah hujan.

“Sebenarnya untuk mengatasi masalah kekeringan, Dinas Pertanian DIY sudah melakukan berbagai upaya untuk meringankan beban para petani. Di antaranya dengan memberikan bantuan benih dan alat maupun pompa untuk mengolah tanah. Karena untuk kondisi sekarang hanya itu yang bisa dilakukan,” kata Kepala Dinas Pertanian DIY, Sasongko.

BACA: Petani Dituntut Selektif Tentukan Pola Tanam

Sasongko mengungkapkan, sebenarnya sejumlah upaya terus dilakukan oleh pemerintah untuk mengantisipasi adanya gagal panen. Mulai dari memberikan sosialisasi kepada para petani sampai memfasilitasi adanya Asuransi Usaha Tanaman Padi (AUTP). Namun animo petani untuk mengikuti asuransi tersebut masih sedikit.

Padahal jika petani mau ikut, sebenarnya biaya yang harus mereka keluarkan tidak terlalu besar. Karena dari premi Rp 180.000 perhektare ada subsidi. Sehingga cukup membayar Rp 36.000. Sementara itu, saat petani mengalami gagal panen, setiap hektarnya akan mendapat ganti Rp 6 juta.

“Kalau ditanya apa yang menjadi penyebab dari minat petani untuk mengikuti asuransi yang masih kurang, saya kira cukup beragam. Padahal kalau mereka mau ikut asuransi, petani tidak akan terlalu dirugikan, karena kalau sampai terjadi gagal panen ada klaim (asuransi),” terang Sasongko.

Lebih lanjut Sasongko menjelaskan, Agustus merupakan puncak musim kemarau untuk wilayah DIY. Oleh karena itu, pihaknya meminta kepada para petani, khususnya yang daerahnya sering mengalami kekeringan agar tidak memaksakan diri menanam padi.

Pasalnya jika hal itu dilakukan, kerugian yang dialami oleh para petani akan semakin besar. Sebagai gantinya mereka bisa mengganti dengan palawija yang lebih tahan air. (Ria)

KRJOGJA.COM


BERITA TERKAIT