Ilmuwan Lingkungan Berkumpul di Yogya, Ingatkan Soal Ancaman Kolapsnya Pulau Jawa
KRJOGJA.COM | 12/08/2019 15:17
Ilmuwan Lingkungan Berkumpul di Yogya, Ingatkan Soal Ancaman Kolapsnya Pulau Jawa
Jumpa pers Profling di Hotel 1O1 Yogyakarta. (Foto : Evi Nur Afiah)

YOGYA, KRJOGJA.com - Para ilmuwan telah lama memprediksi Pulau Jawa suatu saat akan kolaps (tumbang). Beban yang harus ditanggung pulau ini cukup berat, terutama soal kondisi lingkungan hidup. Hal itu baru terbukti belakangan dengan banyaknya peristiwa alam yang sering terjadi hingga akhirnya cukup mengancam kehidupan penduduknya.

Ilmuwan-ilmuwan yang tergabung dalam Perkumpulan Profesional Lingkungan (Profling) sejak tahun 2010 telah membicarakan hal tersebut. Kini apa yang diprediksi itu terbukti dengan sering terjadinya gempa skala besar, banjir maupun hingga fenomena pohon Sengon yang disebut-sebut penyebab listrik padam di ibu kota beberapa hari lalu.

BACA: Pengacara Janda Cantik Dihamili Oknum Polisi Cabut Surat Kuasa

"Masalah lingkungan hidup di Jawa itu sudah sejak lama diperhatian. Khususnya dengan kepadatan penduduk yang lebih dibanding pulau lain dan transportasi yang semakin padat. Maka para pemerhati lingkungan sudah melihat ini akan ada gejala yang disebut ‘colleps’ di pulau Jawa," kata Ketua Umum Perkumpulan Profesional Lingkungan (Profling), Dr Tasdiyanto Rohadi saat jumpa pers di Hotel 1O1 Yogyakarta, Jumat (09/08/2019).

Selain itu kualitas udara maupun air di Pulau Jawa juga sudah kurang baik. Apalagi Jakarta, kualitas lingkungan hidup di ibukota tersebut sudah berada di zona merah dengan koefisien jasa ekosistem 0,00 sampai 0,16.

BACA: Hamili Pacar, Oknum Polisi Dilaporkan ke Polda DIY

Hal ini pula yang kemudian memunculkan gagasan dari Profling untuk mendukung perpindahan ibukota keluar dari Pulau Jawa. "Berdasarkan fenomena yang terjadi, memunculkan gagasan bahwa sesungguhnya ibukota tidak boleh dalam ancaman atau sabotase lain," ucapnya.

Sementara menurut ahli lingkungan Dr Esrom H Panjaitan, keputusan kepindahan ibukota dari Jawa telah ditetapkan Presiden Joko Widodo. Bappenas kini sedang mengkaji secara komprehensif dari aspek lingkungan hidup, ekonomi, sosial, budaya serta pertahanan keamanan.

BACA: Keluarkan Kata-kata ini saat Wawancara Kerja, Langsung Ditolak

“Pilihan tempat sudah mulai mengarah ke Pulau Kalimantan. Berbagai diskusi digelar dengan mendialogkan ancaman dan peluang yang ada. Kondisi lahan bergambut dan seringnya terjadi kebakaran lahan dan hutan menjadi faktor pembahas. Namun, berbagai kelebihan lain telah menguatkan keputusan untuk memindahan ibukota negara ke Kalimantan," jelasnya.

Dalam rangka mengelola kawasan ibukota negara yang baru perlu direkomendasikan kepada pemerintah untuk membentuk Badan Pengelola Ibukota Negara yang berfungsi mengharmonisasikan kebijakan pemerintah pusat dan daerah setempat. Badan ini juga perlu memiliki kewenangan khusus untuk mempercepat segala ijin dan proses pembangunan serta pengelolaan kawasan terbangun ibukota negara. (Ive)

KRJOGJA.COM


BERITA TERKAIT