Jokowi Dinilai Langgar Undang-undang Jika Maskapai Asing Masuk RI
KRJOGJA.COM | 10/06/2019 12:19
Jokowi Dinilai Langgar Undang-undang Jika Maskapai Asing Masuk RI

JAKARTA, KRJOGJA.com - Usulan Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberi kesempatan masuknya maskapai asing ke Indonesia dianggap melanggar azas cabotage (kedaulatan negara) dan UU Nomor 1 Tahun 2009. Solusi yang ditawarkan Jokowi itu untuk menurunkan harga tarif pesawat yang masih kemahalan.

Pengamat penerbangan, Alvin Lee, dalam keterangannya kepada media menuturkan, selama 10 tahun industri penerbangan kurang bergairah. Hal itu bisa dilihat dari tidak adanya maskapai asing baru yang ikut bermain di moda transportasi udara Indonesia.

Baca juga: Tak Bisa Beli Bale, Man United Ingin Pinjam

“Kalau pasar transportasi udara Indonesia sedemikian menguntungkan dan atraktif, tentunya dalam 10 tahun terakhir sudah masuk banyak pemain baru dengan pola seperti Indonesia Air Asia. Faktanya tidak ada pendatang baru sedangkan pemain lama berguguran,” kata Alvin Lee, Sabtu (8/6/2019).

Alvin menjelaskan, sesuai azas cabotage dan UU 1/ 2009 tentang Penerbangan, kepemilikan saham asing dalam perusahaan yang bergerak dalam bisnis angkutan udara adalah maksimal 49 persen. Dia mencontohkan maskapai Air Asia, dan hanya boleh melayani rute domestik.

“Tidak ada satu negara pun di dunia yang mengizinkan maskapai milik asing untuk melayani rute domestik negaranya secara menyeluruh. Tidak sepatutnya pernyataan itu diungkapkan oleh Presiden Jokowi. Menunjukkan beliau tidak mencari informasi yang komprehensif tentang suatu permasalahan, hanya mendengarkan beberapa orang saja atau bahkan hanya mendengarkan apa yang ingin didengar,” papar Alvin.

“Sebagai seorang pengusaha, Pak Jokowi dapat dengan mudah gunakan logika mengapa saat ini terjadi penyusutan pemain di industri transportasi udara. Banyak yang berguguran, hanya tersisa Garuda Group, Lion Group dan Indonesia Air Asia untuk pelayanan rute nasional. Jika beliau jeli, masih banyak Angkutan Udara Niaga Berjadwal dalam skala daerah/regional,” sambung Alvin.

Nah carut marutnya industri transportasi penerbangan, menurut Alvin, disebabkan karena kebijakan yang salah selama ini. Misalkan penerapan tarif batas atas (TBA) sejak tahun 2014 tidak pernah ditinjau, dan disesuaikan. Pun juga tarif batas bawah (TBA) sejak 2016 tidak pernah dievaluasi. Sementara operating cost terus mengalami kenaikan.

“Kondisi industri transportasi udara hari ini adalah produk dari kebijakan pemerintah selama ini. Jadi kalau presiden tidak puas atau kecewa terhadap kondisi transportasi udara kita saat ini, seharusnya introspeksi, berbenah ke dalam. Bukan mengundang pihak luar untuk masuk,” kata Alvin.

Pengamat penerbangan lainnya, Gerry Soejatman mengatakan, bahwa jika maskapai asing jadi masuk ke Indonesia bukan jaminan harga tiket akan menjadi murah. Karena melihat kondisi pasar di Indonesia.

“Apakah jaminan (murah)? Tidak. Tidak semua maskapai asing cos-basenya bisa serendah Air Asia Group. Di luar itu ada juga tantangan pengertian pasar Indonesia,” ujar Gerry kepada FIN, kemarin.

Gerry mencontohkan, maskapai Tiger Airways (sekarang jadi Scot) tidak bertahan bersaing di Indonesia. Maskapai asal Singapura itu tutup pada tahun 2014.

“Kerugian mereka diproyeksikan mencapai 150 juta dolar AS hanya dengan 9 pesawat, jauh lebih parah dibandingkan Garuda, yang kalau tidak ada ‘pendapatan lain-lain’ di 2018, kalau tidak salah bisa rugi 240 juta dolar AS tapi dengan armada yang 10 kali lipat jumlahnya,” kata Gerry.

Jadi, kata Gerry, jangan berasumsi maskapai asing jual tiket lebih murah. Sebab mereka bisa jual tiket murah jika penerbangan sedang sepi.

“Sebab mereka tidak kena TBA dan TBB seperti di pasar domestik Indonesia. Jadi tiket murah mereka disubsidi oleh tiket mahal,” ucap Gerry.

Gerry mencontohkan maskapai kelas ekonomi untuk rute Jakarta-Singapura harga tiket bisa Rp 500 ribu, sedangkan Jakarta-Batam Rp 1,5 juta. Kalau pesan dadakan selang satu hari harga tiket LCC (low cost carrier) bisa 3-5 juta dan full service carrier Rp 5-8 juta.(*)

KRJogja.com


BERITA TERKAIT