UGM Tampik Copot Gelar Guru Besar Amien Rais
KRJOGJA.COM | 28/05/2019 13:06
UGM Tampik Copot Gelar Guru Besar Amien Rais

SLEMAN, KRJOGJA.com - Pihak Dewan Guru Besar UGM menegaskan jabatan guru besar bukanlah jabatan akademis yang melekat seumur hidup. UGM pun menyatakan tak berhak mencopot atau mencabut jabatan guru besar yang disandang akademisi termasuk salah satu diantaranya Amien Rais.

Ketua Dewan Guru Besar UGM, Prof Drs Koentjoro MBsc PhD menerangkan profesor merupakan salah satu jabatan akademik. Gelar tersebut menurut dia melekat pada orang yang bersangkutan selama aktif bertugas dan akan hilang dengan sendirinya ketika pensiun.

Baca juga: Antisipasi Gangguan Sinyal, Perawatan Rel Lebih Intens

“Guru besar atau profesor adalah jabatan akademik, bukan gelar akademik yang melekat sepanjang hidup. Kalau itu jabatan akademik maka ketika yang bersangkutan pensiun jabatannya itu pun pensiun,” ungkap Koentjoro, Senin (27/05/2019).

Dewan Guru Besar UGM menurut dia tidak berhak mencopot atau mencabut jabatan guru besar. Namun begitu jabatan akan hilang dengan sendirinya ketika seseorang pensiun atau mengundurkan diri misalnya masuk di dalam partai politik.

“ASN dilarang berpartai politik, karena itu dia harus pensiun. Berbeda dengan kepakaran, jejang pendidikan tertinggi adalah S3 dengan gelar doktor yang melekat seumur hidup,” ungkapnya lagi.

Ia menerangkan, jenjang jabatan akademik dimulai dari Asisten Ahli, Lektor, Lektor Kepala, hingga Profesor. Untuk memperoleh jabatan tersebut, seorang pengajar atau dosen harus mengumpulkan kum penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan pengajaran.

“Ketika jumlahnya sudah mencapai 850 nilainya, barulah seseorang memperoleh jabatan akademik sebagai profesor melalui pertimbangan-pertimbangan yang dilakukan di fakultas, di dewan penilaian universitas, bahkan kemudian dikirim ke Kemenristekdikti yang dinilai tim penilai di sana,” jelas Koentjoro.

Ketua Senat Akademik UGM, Prof Dr dr Hardyanto SpKK(K) menambahkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No 92 Tahun 2014 tentang petunjuk teknis pelaksanaan penilaian angka kredit jabatan fungsional dosen, dijelaskan pada pasal 10 bahwa untuk kenaikan jabatan akademik secara reguler dari Lektor Kepala ke Profesor hanya melalui tujuh syarat.

Syarat tersebut adalah memiliki pengalaman kerja sebagai dosen tetap paling singkat 10 tahun, berpendidikan doktor (S3), paling singkat 3 tahun setelah memperoleh ijazah doktor (S3), paling singkat 2 tahun menduduki jabatan Lektor Kepala, telah memenuhi angka kredit, memiliki karya ilmiah yang dipulikasikan dalam jurnal ilmiah internasional bereputasi sebagai penulis pertama dan memiliki kinerja, integritas, etika tata krama, serta tanggung jawab.

Terdapat pula beberapa hal yang dapat menyebabkan dosen diberhentikan dari jabatan sebagai guru besar misalnya pensiun, meninggal, sakit lebih dari 12 bulan, tidak mengajar selama 1 bulan, dan melakukan tindak pidana. “Jadi, istilah pencabutan jabatan guru besar itu tidak ada, adanya penghentian. Misalnya yang bersangkutan pensiun dan tidak diperpanjang, tapi kalau pensiun lalu diperpanjang sebutannya guru besar emiritus,” tandasnya. (Fxh)

KRJogja.com


BERITA TERKAIT