Gojek Buka Peluang Diskusi, Mitra Driver Tolak Aksi
KRJOGJA.COM | 11/04/2019 13:06
Gojek Buka Peluang Diskusi, Mitra Driver Tolak Aksi

YOGYA, KRJOGJA.com - Head of Regional Corporate Affairs GOJEK Alfianto Domy Aji menghormati aspirasi dari seluruh mitra dan membuka ruang diskusi dua arah antara mitra pengemudi dan manajemen terkait adanya aksi mogok makan yang dilakukan mitra di Yogyakarta.

"Perlu disampaikan, kami selalu membuka ruang diskusi dua arah antara mitra pengemudi dan manajemen melalui Kopdar dimana Mitra bebas menyampaikan aspirasi dan masukan mereka," ungkap Domy Aji sebagaimana keterangan persnya.

BACA JUGA :

Kecewa, Dua Driver Taksi Online 'Mogok Makan'

Disempurnakan, GO Jek Swadaya Sejahterakan Mitra

Menurut Domy dalam aksi itu, manajemen juga telah memberikan tempat teduh yang layak bagi penyampai aspirasi. Termasuk tenaga medis berikut ambulan untuk memastikan kondisi kesehatannya dalam keadaan baik.

"Berdasarkan rapat di Kementerian Perhubungan di Jakarta antara Perwakilan Driver, Aplikator dan Kementerian Perhubungan pada tanggal 9 April 2019, maka mekanisme penyelesaian untuk permasalahan open suspend akan ditampung oleh Kementerian Perhubungan," jelasnya.

Hal ini, kata Domy bisa dilakukan oleh seluruh mitra/komunitas driver dengan memberikan daftar mitra untuk kemudian diserahkan kepada Kementerian Perhubungan. 

"GOJEK akan melakukan evaluasi berdasarkan data kami sendiri dan dari nama yang diberikan oleh Kementerian Perhubungan, evaluasi akan dilakukan berdasarkan sistem dan kebijakan supensi  yang baru."

Sementara itu, mayoritas mitra pengemudi transportasi online di Yogyakarta (Jogja) menolak ajakan aksi demonstrasi dalam rangka menyampaikan aspirasi ke pihak aplikator. Cara perundingan dianggap lebih tepat tanpa berpotensi mengganggu aktivitas kerja harian.

Handrianto dari Paguyuban GOJEK Jogja (Pagoja) mengatakan pihaknya menolak aksi demo yang dilakukan oleh mitra kerja GOJEK roda empat. Terlebih apabila demo tersebut tidak mengindahkan aturan-aturan yang ada. 

”Misalnya, yang dikhawatirkan kalau sampai menutup kantor GOJEK di Jogja maka kita akan kesulitan kalau mengurus sesuatu keperluan dengan kantor,” ungkapnya kepada wartawan, Rabu (10/04). 

Pagoja,kata Handrianto belajar dari bagaimana kejadian di Mageleng belum lama ini. Gara-gara aksi demo yang mengakibatkan kantor GOJEK di daerahnya tidak bisa beroperasi, para mitra kerja lain yang tidak ikut demo menemui kesulitan karena harus mengurus segala sesuatunya di Jogja. ”Nah begitu juga sekarang. Kalau sampai kejadian seperti di Magelang terus dipindah ke Semarang maka kita jadinya lebih jauh lagi kalau mengurus sesuatu keperluan,” Handrianto mengingatkan.

Karena itu, Pagoja mendesak supaya demo tidak merugikan driver lain.  Bahkan, lebih menyarankan kepada para mitra yang melakukan aksi agar menempuh mediasi. Terlebih, di GOJEK selalu ada ruang untuk menyampaikan aspirasi. "Karena menyangkut pencarian sandang pangan untuk keluarga. Nah kita ingin demo yang dilakukan tidak menggangu sandang pangan yang lain. Kekhawatirannya, mereka saat ini berjibaku pokoknya harus diterima kembali menjadi mitra kerja. Tidak ada solusi lain selain melakukan demo. Dikhawatirkan akan menutup kantor GOJEK di Jogja," katanya.

Sebelumnya, pada Selasa (09/04) para mitra yang tergabung dalam Front Independen Driver Online Indonesia (FI) mengumumkan aksi demo berupa mogok makan. Disebutkan bahwa mereka mitra se Jogja dan Jawa Tengah. Mereka menuntut beberapa poin terdiri atas; Pemutihan atau pemutakhiran data akun mitra driver PT GOJEK Indonesia dan GRAB Indonesia, Hapuskan sistem peringkat dan alokasi order, kembalikan jumlah poin skema insentif untuk wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah untuk GOJEK dan GRAB, serta meninjau ulang perjanjian kemitraan untuk lebih berazaskan kesetaraan dan berkeadilan. (*)

KRJogja.com


BERITA TERKAIT