Merapi 40 Kali Guguran Lava, Penambang Pasir Waspada!
KRJOGJA.COM | 07/02/2019 15:40
Merapi 40 Kali Guguran Lava, Penambang Pasir Waspada!
Kepulan asap putih atau sulfatara terlihat dari puncak Gunung Merapi di Tlogolele, Selo, Boyolali, Jawa Tengah, 2 Juni 2018. ANTARA

YOGYA, KRJOGJA.com - Gunung Merapi terus menunjukkan aktivitas yang terus meningkat. Data kegempaan (seismik) Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta yang memantau aktivitas Gunung Merapi mencatat terjadi 40 kali guguran lava pijar sepanjang Rabu (6/2) dari pukul 00.00-18.00 WIB.

Berdasarkan akun twitter resmi BPPTKG, dilaporkan pada pukul 00.00-06.00 WIB terjadi 9 kali guguran lava pijar berdurasi 14-52 detik. Kemudian pukul 06.00-12.00 WIB terjadi 14 kali guguran berdurasi 17-61 detik. Lalu pada pukul 12.00-18.00 WIB, berdasarkan data seismik, jumlah guguran 17 kali dengan durasi 11-67 detik. Guguran lava yang teramati sejumlah 4 kali ke arah Tenggara hulu Kali Gendol dengan jarak luncur 200-350 m.

BACA JUGA: BPBD Sleman Aktifkan 12 Titik EWS, Penambang Pasir Merapi Diimbau Waspada

Sebelumnya, Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTKG Yogyakarta, Dr Agus Budi Santoso dalam siaran pers BPPTKG yang diterbitkan, Jumat (1/2) mengatakan, dari hasil pengamatan periode 25-31 Januari, data volume kubah lava relatif sama dengan minggu sebelumnya yaitu 461.000 meter kubik. "Sebagian ektrusi lava yang terjadi langsung gugur ke hulu Kali Gendol," terang Agus Budi. Adapun kondisi kubah masih stabil dan dari analisis morfologi puncak tidak ada perubahan.

Dari laporan kegempaan Gunung Merapi, periode 25-31 Januari 2019, tercatat 3 kali gempa awan panas (PF), 13 kali gempa hembusan (DG), 1 kali gempa vulkanik dangkal (VTB), 5 kali gempa fase banyak (MP), 168 kali gempa guguran (RF), 7 kali gempa low frekuensi (LF) dan 9 kali gempa tektonik (TT). "Intensitas kegempaan pada periode 25-31 Januari lebih tinggi dibanding minggu sebelumnya," ujar Agus Budi.

Berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental dapat disimpulkan, kubah lava saat ini dalam kondisi stabil dengan laju pertumbuhan yang masih relatif rendah. Aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih cukup tinggi, sehingga statusnya masih 'Waspada' (level II). Rekomendasinya masih tetap, yaitu radius 3 km dari puncak Gunung Merapi agar dikosongkan dari aktivitas penduduk. Masyarakat di Kawasan Rawan Bencana III dimohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas Gunung Merapi. 

Terpisah, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistis BPBD Sleman Makwan menyatakan, pihaknya masih mengacu rekomendasi dari BPPTKG. Artinya, selama masih berada pada status 'Waspada' maka belum ada tindakan lebih lanjut yang harus disampaikan pada warga.

"Selama masih waspada berarti aman. Hanya saja, upaya antisipasi kami ialah dengan mengaktifkan kembali pos pantau di 12 titik serta early warning system (EWS) juga sudah siap jika sewaktu-waktu ada ancaman dari gunung Merapi. Jika EWS bunyi maka warga juga sudah tahu respon apa yang harus dilakukan yakni segera mengungsi," terangnya.

BACA JUGA: Aktivitas Merapi Picu Cuaca Ekstrem di Yogya


Hanya saja, yang patut mendapat perhatian ialah masyarakat atau penambang pasir di alur sungai. Sebab, para penambang terlebih kendaraan berat tidak bisa segera meninggalkan alur sungai lantaran akses terbatas. "Kalau ada salah satu truk yang macet tentu bisa membuat truk lain tidak bisa lewat, ini yang harus diwaspadai para penambang ketika EWS bunyi," tandas Makwan. (Dev/Adk)

KRJOGJA.COM


BERITA TERKAIT