Sekda Sulteng Sarankan Warganya Tak Memasak Pakai Bawang Putih
SULTENGRAYA.COM | 09/05/2019 08:40
Sekda Sulteng Sarankan Warganya Tak Memasak Pakai Bawang Putih
Sekretaris Daerah Provinsi Sulteng, Hidayat Lamakarate saat menyampaikan sambutan di kegiatan pasar murah yang di selenggrakan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Sulteng menyambut hari raya waisak dan bulan ramadhan di Kelurahan Nunu Kota Palu, Rabu (8/5/2019). FOTO: RAHMAT KURNIAWAN

SULTENG RAYA – Komoditas bawang putih di Sulawesi Tengah sangat sulit ditemukan. Jika ada, harganya bisa mencapai Rp90.000 per kilogram (kg).

Kondisi kelangkaan bawang putih sudah menjadi permasalahan secara nasional. Pasalny, 90 persen bawang putih diimpor. Hingga kini belum ada solusi yang bisa menurunkan harga bawang putih di pasaran.

Namun, Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Sulteng, Moh Hidayat Lamakarate memiliki solusi terhadap kondisi kelangkaan bawang putih. Ia menyarankan tidak menggunakan rempah bawang putih dalam poses memasak hingga pasokan normal.

BACA: Penetapan Target  Realisasi APBD Harus Sesuai E-Monev

“Kita sudah lihat bawang putih sudah mahal, bahkan sudah ada yang Rp100 ribu per kilogram. Saya sarankan tidak usah dulu pakai bawang putih memasak, bawang merah saja,” katanya saat menyampaikan sambutan di kegiatan pasar murah yang di selenggrakan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Sulteng menyambut hari raya waisak dan bulan Ramadhan di Kelurahan Nunu Kota Palu, Rabu (8/5/2019).

Selain itu, ia menyarankan, masyarakat mencari alternatif pengganti bawang putih. Misalnya, membeli produk kemasan atau bawang putih bubuk dengan harganya terjangkau.

“Kalau tidak bisa memasak tanpa bawang putih, cari saja, mungkin ada bawang putih dalam bentuk bubuk atau kemasan, sekarang sudah banyak rempah yang dikemas seperti itu,” ujarnya.

Tidak lupa, ia mengajak untuk masyarakat memanfaatkan secara efektif pasar murah yang diselenggarakan pemerintah. Namun, masyarakat juga harus sadar jika melakukan membelian harus dalam batas kewajaran.

“Dibeli memang untuk dipakai keperluan memasak, bukan dijual kembali, kalau ada yang demikian laporkan ke pihak penyelenggara. Pasar murah ini untuk memenuhi kebutuhan masyarakat bukan untuk pedagang. Kalau judulnya pasar murah, harus murah dari di pasar ,” katanya.

BACA:

Dia menambahkan, setelah kegiatan pasar murah selesai. Pemerintah kembali akan melakukan intervensi ke Pasar Induk Tradisional (PIT) di Kota Palu untuk meninjau kondisi harga kebutuhan pokok untuk kemudian mngeluarkan kebijakan yang berpihak pada masyarakat. “Supaya nanti harga di pasar tidak jauh berbeda dengan harga di pasar murah,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Disperindag Sulteng, Moh Arief Latjuba mengatakan, harga yang ditawakan di pasar murah merupakan harga di tingkat distributor, berbeda dengan harga di pasar alias lebih murah.

“Tapi saya mengimbau jangan masyarakat membeli banyak, harga ini sengaja ditawarkan untuk mengurangi daya beli masyarakat di pasar, karena sudah terpenuhi di kegiatan pasar murah ini,” katanya. RHT

SULTENGRAYA.COM


BERITA TERKAIT