Rehabilitasi Pasca Gempa, Gedung IAIN Palu di Sigi Padukan Islam dan Budaya Lokal
SULTENGRAYA.COM | 06/02/2019 08:40
Rehabilitasi Pasca Gempa, Gedung IAIN Palu di Sigi Padukan Islam dan Budaya Lokal
Foto: Desain Kampus II IAIN Palu, di Sigi

SULTENG RAYA – Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, mengedepankan aspek budaya (local wisdom) dan Islam dalam mendesain gedung kuliah di kampus II, di Sigi.

IAIN Palu akan melangsungkan pembangunan dua gedung perkuliahan berlantai tiga dengan kapasitas 24 ruang kelas belajar, di Desa Pombewe, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi tahun 2019 ini, pascabencana gempa dan likuefaksi menghantam kabupaten tersebut.

“IAIN Palu menjunjung tinggi nilai-nilai budaya, nilai-nilai kearifan lokal yang ada di daerah ini, termasuk di Kabupaten Sigi. Karena itu, konsep bangunan gedung akan mengadopsi beberapa model rumah adat di Sigi dan sekitarnya,” ucap Rektor IAIN Palu Prof Dr H Sagaf S Pettalongi, Selasa (5/2/2019).

BACA JUGA: IAIN Palu, Gunakan Rp30 Miliar Rehabilitasi Gedung Terdampak Tsunami

Prof Sagaf Pettalongi menyebut, mengadopsi model beberapa rumah adat dalam desain bangunan gedung IAIN Palu di kampus II, sebagai bentuk komitmen dalam pelestarian budaya atau kearifan lokal daerah tersebut.

Karena itu, Pakar Managemen Pendidikan itu mengemukakan, keberadaan kampus II di Kabupaten Sigi adalah milik warga kabupaten tersebut secara umum. Dengan demikian, masyarakat daerah tersebut bertanggung jawab untuk merawat dan menjaga bangunan gedung serta sarana lainnya yang ada di wilayah kampus II.

“Konsep desain tersebut, artinya bahwa masyarakat terwakili disitu. Masyarakat ada di situ. Olehnya, peran masyarakat setempat untuk merawat kampus sangatlah penting,” ujar Prof sagaf Pettalongi.

Wakil Ketua Umum MUI Sulawesi Tengah itu berharap dukungan penuh masyarakat setempat bersama-sama IAIN Palu mengembangkan perguruan tinggi yang nantinya akan menjadi icon Kabupaten Sigi.

Terkait hal itu Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Keuangan dan Perencanaan IAIN Palu, Dr Kamaruddin mengemukakan, IAIN Palu menggunakan dana dari SBSN kurang lebih senilai Rp 25 miliar.

Terkait desain bangunan gedung yang mengakomodir model rumah adat, ia menilai, hal itu adalah keharusan, sebagai pelibatan masyarakat dalam pengembangan kampus.

“Konsep ini suda masuk, ada beberapa model-model rumah adat yang salah satunya nanti akan menjadi model dalam desain gedung kuliah IAIN Palu,” ujar Kamaruddin.

CV Explorer Consultant selaku konsultan perencanaan pembangunan dua gedung tersebut telah menyiapkan enam desain bangunan gedung tersebut yang memadukan konsep Islam dan budaya.

Menganai budaya, terdapat sedikitnya tiga model bangunan rumah adat di Sulawesi Tengah masuk dalam rencana desain bangunan gedung kuliah IAIN Palu di Sigi. Pertama, Rumah Adat Lobo oleh Suku Kaili di Kulawi Kabupaten Sigi. Kedua, Rumah Adat Sou Raja oleh Suku Kaili di Kota Palu dan Rumah Adat Tambi oleh Suku Lore di Lembah Besoa.

Sementara untuk desain bangunan gedung dengan mengadopsi konsep Islam, bercermin pada bangunan gedung salah satunya yaitu Zam-zam Towerdi wilayah Mekkah.

Selain mengadopsi konsep tersebut, IAIN Palu juga merancang bangunan gedung tersebut tahan gempa. Hal itu dengan pertimbangan wilayah Kabupaten Sigi dilalui oleh Sesar Palu Koro.

BACA JUGA: Zonasi Beri Kesempatan Sekolah Kecil Berkembang

Prof Sagaf Pettalongi menegaskan bangunan dua gedung kuliah tersebut harus bertahan lama, dan tidak mudah rusak saat gempa mengguncang.

Karena itu, sebut dia, tim perencanaan dan konsultan perencana pembangunan dua gedung tersebut, tidak boleh menyelenggaraan perencanaan pembangunan gedung itu biasa-biasa saja.

“Jadi jangan desainnya atau perencanaan pembangunan dua gedung kuliah itu biasa-biasa saja. Tidak boleh. Harus di rancang tahan gempa dan bertahan hingga puluhan tahun,” ujar Prof Sagaf Pettalongi.*/AMI

SULTENGRAYA.COM


BERITA TERKAIT